Petani Sawit Mandiri Rentan Tertipu Bibit Abal-Abal

Keeterbatasan akses informasi dan minimnya pendampingan teknis membuat petani mandiri rentan tertipu bibit abal-abal.

Diterbitkan 24 Februari 2026, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di banyak kebun sawit rakyat, keterbatasan akses informasi dan minimnya pendampingan teknis membuat petani mandiri rentan tertipu bibit abal-abal. Padahal, Kesalahan memilih bibit berarti risiko produksi rendah selama puluhan tahun.

Namun, perubahan mulai terasa ketika mereka mengikuti pelatihan Perkasa (Petani Berkualitas dan Sejahtera), inisiatif TAP untuk Negeri sebagai sahabat petani dari PT Triputra Agro Persada Tbk yang konsisten dan fokus dalam meningkatkan kualitas agronomi.

Melalui program ini, produktivitas kebun petani diharapkan meningkat seiring tumbuhnya kesejahteraan secara berkelanjutan. Selama tiga hari, para petani tidak hanya duduk mendengarkan teori. Sekitar 60 persen sesi dihabiskan untuk praktik langsung dilapangan: mengidentifikasi bibit bersertifikat, cara memupuk yang benar, hingga mempraktikkan teknik panen yang benar.

Bagi sebagian peserta, ini adalah kali pertama mereka memahami bahwa produktivitas sawit sangat ditentukan oleh ketepatan langkah-langkah dasar tersebut. Harapannya petani dapat terbiasa mempraktikkan cara merawat tanaman secara presisi, agar mereka dapat pulang dengan kepercayaan diri yang penuh bahwa mereka bisa menjadi ahli sawit di kebun sendiri.

“Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan pengetahuan yang benar tentang berkebun sawit saat mengikuti pelatihan Perkasa dari PT Triputra Agro Persada Tbk. Saya jadi memahami bahwa memilih bibit itu tidak boleh sembarangan dan kalau melakukan pemupukan perlu dosis dan cara yang tepat agar hasil panen bisa bagus. Semoga setelah melalui pelatihan ini dengan cara berkebun yang baik dan benar, kami bisa meningkatkan pendapatan,” ungkap Sumarni, dalam keterangan tertulis, Selasa (24/2/2026).

 

 

Pelatihan

Hingga akhir 2025, Pelatihan PERKASA yang dimulai sejak akhir 2024 berhasil membantu petani-petani mandiri di 69 desa pada 10 kabupaten di seluruh entitas anak Triputra Agro Persada yaitu Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Bagi para petani, yang berubah bukan hanya teknik bertani, tetapi juga rasa percaya diri.

Pelatihan Perkasa turut didesain secara berkelanjutan, karena itu dilakukan pendampingan secara berkala untuk memastikan para petani benar-benar menerapkan ilmu yang didapat di kebun masing-masing. Pendampingan berkelanjutan ini menjadi kunci agar transformasi cara bertani tidak hanya bersifat sesaat, melainkan menjadi standar baru bagi produktivitas mereka.

Subeki, petani Desa Baung, Seruyan, Kalimantan Tengah telah merasakan manfaat dari program monitoring Perkasa ini. Ia yang sebelumnya ikut pelatihan Perkasa kini lebih disiplin dalam melakukan aktivitas pruning alias memotong pelepah sebelum aktivitas panen dilakukan.

"Dulu saya pikir asal pelepah dipotong saja sudah cukup, namun setelah ikut pelatihan PERKASA, saya baru tahu kalau pruning itu ada aturannya dan sangat berperan penting untuk tumbuh kembang tanaman sawit serta kemudahan saat panen nanti. Tim dari perusahaan juga rutin datang untuk memantau dan memberikan masukan-masukan" jelas Subeki antusias.

 

 

Penguatan Kapasitas Petani

Mereka mulai melihat kebun bukan sekadar lahan warisan, tetapi ruang belajar yang terus berjuang agar produktivas hasil buahnya optimal untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Dalam Perkebunan kelapa sawit, penguatan kapasitas petani rakyat menjadi salah satu kunci penting. Produktivitas yang baik bukan hanya berdampak pada pendapatan keluarga, tetapi juga pada praktik budidaya yang lebih tertib dan berkelanjutan.

Melalui PERKASA, PT Triputra Agro Persada Tbk berkomitmen untuk terus berdiri sebagai sahabat petani, agar tak ada lagi petani yang tertinggal bahkan tertipu. Program ini adalah wujud nyata di mana setiap petani mandiri memiliki kedaulatan penuh atas pengetahuan dan masa depannya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6