Giant Sea Wall Bakal Lindungi Rp 6.182 Triliun Ekonomi di Pantura Jawa

Proyek Giant Sea Wall menjadi benteng utama pelindung kawasan industri, infrastruktur transportasi, hingga pemukiman 20 juta jiwa penduduk.

Diterbitkan 23 Februari 2026, 18:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Proyek tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall menjadi harga mati untuk menyelamatkan aset vital nasional di Pantura Jawa yang bernilai sedikitnya USD 368 miliar (Rp 6.182,4 triliun).

Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf menyatakan, pembangunan proyek tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall bakal melindungi berbagai aset vital nasional di Pantura Jawa dari penurunan muka tanah (land subsidence).

Menurut Perhitungannya, wilayah Pantura Jawa memiliki kontribusi sekitar USD 368 miliar, atau setara Rp 6.182,4 triliun (kurs Rp 16.800 per dolar AS) terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Banyak sekali di Pantura Jawa ini yang perlu dilindungi. Bukan hanya penduduk saja, di samping penduduk 17-20 juta jiwa kita harus dilindungi, tapi seluruh aset-aset nasional yang ada di Pantura Jawa ini lebih kurang sekitar USD 368 miliar," ujar Didit di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Didit lantas memaparkan sejumlah aset nasional di Pantura Jawa yang berpotensi terdampak banjir akibat penurunan muka tanah. Mulai dari kantor pemerintahan, kawasan industri yang berlokasi di sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), rel kereta api, hingga bangunan peninggalan masa kolonial.

"Dengan kondisi seperti ini maka akan terjadi kerugian. Contoh misalkan instansi pemerintah, contoh misalkan pabrik, contoh misalkan KEK, contoh misalkan railway, contoh misalkan di situ ada rumah sakit, contoh lagi kantor-kantor swasta ataupun pabrik-pabrik yang sudah berdiri mulai jaman Belanda," ungkapnya.

Sebagai contoh, ia memberikan proyeksi asset loss di Bandara Ahmad Yani, Semarang., yang memiliki tingkat penurunan tanah relatif tinggi dan sering terkena banjir rob. Dengan perhitungan baseline pada 2025, bandara tersebut diperkirakan memiliki total nilai aset sekitar Rp 5,47 triliun.

 

Butuh Biaya Rp 1.680 Triliun

Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) sendiri mengestimasi, pengerjaan proyek tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall di Pantura Jawa bisa menyedot biaya hingga USD 100 miliar, atau setara Rp 1.680 triliun (kurs Rp 16.800 per dolar AS).

Didit Herdiawan Ashaf mengatakan, pihaknya membuka diri terhadap dana dari APBN hingga investor. Namun, ia belum bisa merinci secara detail bagaimana porsi pembiayaannya.

"Oleh karena itu, di dalam pelaksanaan kegiatan pembangunannya, kita melihat bahwa ada investasi, ada yang dari APBN. Hitungan besarnya, USD 80-100 miliar," terang Didit pada kesempatan sama.

 

Terbentang Sepanjang 535 Km

Secara konseptual, proyek Giant Sea Wall bakal membentang sepanjang 535 km dari Kabupaten Serang, Banten, hingga Kabupaten Gresik di Jawa Timur. Tembok besar itu nantinya bakal terpapar di 5 provinsi (Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur), mencakup 25 kabupaten dan 5 kota.

Didit menyampaikan, pembangunan proyek tersebut jadi kebutuhan mendesak atas beberapa urgensi. Khususnya penurunan muka tanah (land subsidence) yang sudah terjadi di beberapa wilayah Pantura Jawa.

"Kita bukan bangun untuk 1-2 tahun, tapi untuk 100, 200, 300 tahun ke depan. Dengan kondisi seperti itu, ruginya atau mudaratnya kalau ini tidak terselesaikan akan mengakibatkan land subsidence dan terdampak ke penduduk di Pulau Jawa yang ke depan mungkin lebih banyak lagi (populasinya)," ujarnya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6