Donald Trump Ancam Kenakan Tarif terhadap Penjual Minyak ke Kuba

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan kenakan tarif bagi negara-negara yang berani menjual minyak ke Kuba.

Diterbitkan 30 Januari 2026, 15:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Donald Trump, Presiden Amerika Serikat (AS) kembali mengancam negara lain dengan kenaikan tarif. Kali ini Trump akan mengacam negara-negara yang memasok minyak ke Kuba.Meskipun belum ada rincian spesifik dari tarif tersebut, usulan tersebut sudah diuraikan dalam sebuah perintah eksekutif.

Dilansir dari BBC, Jumat (30/01/2026), pada Selasa lalu, Trump mengatakan Kuba tidak akan bertahan lama. Sekutunya, Venezuela tidak lagi memasok minyak atau bantuan keuangan karena Presidennya, Nicolas Maduro telah ditangkap.

Trump mengatakan  "Kuba akan runtuh segera. Kuba benar-benar sebuah negara yang sudah sangat dekat dengan kegagalan."

Dalam Perintah Eksekutif pada Kamis, 28 Januari 2026, Trump menganggap, segala kebijakan, praktik, dan tindakan Pemerintah Kuba adalah ancaman yang besar baginya. Trump bahkan menuduh Havana sebagai tempat persinggahan musuh berbahaya bagi Amerika Serikat.

Sebelumnya Trump sempat meminta Kuba untuk membuat kesepakatan. Meskipun kesepakatan yang diberikan tidak dijelaskan secara spesifik apa syarat dan konsekuensinya.

Menanggapi hal itu, Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel mengatakan AS tidak memiliki wewenang moral untuk memaksakan kesepakatan pada negaranya. Konsisten dengan keputusannya, Trump tetap memberikan sanksi dengan menyita kapal tanker minyak Venzuela yang dipasok untuk Kuba.

Selain itu, Kuba juga dihadapi dengan  pemadaman listirik bergilir. Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez tidak getir. Ia meyakinkan pada pemerintahnya bahwa Kuba dapat mengimpor bahan bakar dari eksportir mana pun tanpa campur tangan dan paksaan Amerika Serikat.

Mengapa Kuba?

Jika dilihat dari sisi historis, Kuba dipimpin oleh pemerintahan komunis sejak Revolusi 1959. AS menilai pemerintah Kuba adalah otoriter, melanggar HAM, dan anti-demokrasi.

AS mengaggap rezim komunis sebagai lawannya. Oleh karena itu pemerintahan Trump berupaya untuk melemahkan ekonomi Kuba agar pemerintahannya tertekan untuk berubah.

Kuba sangat bergantung pada impor minyak dari negara sekutunya seperti  Venezuela, Rusia, dan Iran.

Dengan mengenakan ancaman tarif yang dimaksud, AS dapat membatasi pengaruh lawan geopoltiknya di kawasan Karibia.

Dilansir dari CNBC, Jumat (30/01/2026), menyebutkan pemerintahan Trump saat ini sedang mengincar pergantian kepemimpinan di Kuba. AS dikabarkan tengah mencari "orang dalam" di pemerintahan Havana untuk membantu mendorong jatuhnya rezim Komunis tersebut.

Intinya adalah, AS ingin melumpuhkan Kuba dengan memberikannya tekanan serta mencegah negara sekutu Kuba untuk menolong Kuba keluar dari tekanan. 

Dengan cara tersebut, AS dapat dengan mudah menyebarkan pengaruhnya di kawasan Karibia tersebut.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6