Beralih Pertanian Semi Organik, Biaya Produksi Petani Muda Desa Makarti Jaya Turun

Petani muda Desa Makarti Jaya beralih ke pertanian semi organik untuk menekan biaya pupuk sekaligus memulihkan kesuburan tanah.

Diterbitkan 29 Januari 2026, 18:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketika harga pupuk dan pestisida kimia terus meningkat, sekelompok petani muda di Desa Makarti Jaya memilih jalan berbeda. Mereka mulai beralih ke sistem pertanian semi organik, sebuah pendekatan yang dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus memulihkan kondisi lahan pertanian.

Selama lebih dari 40 tahun, petani di desa tersebut mengandalkan pola pertanian konvensional. Sejak awal 1980-an, pupuk dan pestisida kimia menjadi solusi utama untuk mendongkrak hasil panen. Namun, penggunaan jangka panjang justru berdampak pada menurunnya kualitas tanah dan meningkatnya biaya usaha tani.

Dalam satu musim tanam, petani rata-rata menghabiskan hingga tiga karung pupuk kimia dan pestisida sintetis dengan total biaya sekitar Rp5 juta. Kondisi ini membuat keuntungan yang diperoleh petani semakin tipis.

Ketua Kelompok Tani Pomponangi, Irwanto, mengingat masa ketika hasil panen tak lagi sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

“Dulu kami berpikir pupuk kimia adalah satu-satunya jalan supaya panen bisa banyak. Awalnya memang terlihat hasilnya, tapi lama-kelamaan tanah jadi keras, tanaman cepat menguning, dan hasilnya semakin kecil. Setiap musim kami harus menambah pupuk, sementara biaya makin besar,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Kamis (29/1/2026).

Situasi tersebut mendorong lahirnya perubahan melalui program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan Hengjaya Mineralindo sejak 2023. Program ini membuka ruang bagi petani, terutama generasi muda, untuk mengembangkan pertanian semi organik dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal sebagai pupuk dan pestisida alami.

 

Potensi Desa Makarti Jaya

Perubahan pola tanam ini dijalankan Kelompok Tani Pomponangi dengan pendampingan Program Harmoni Tani. Pendampingan tidak hanya menitikberatkan pada teknik pertanian, tetapi juga membangun kesadaran petani tentang pentingnya menjaga kesuburan tanah dan keberlanjutan usaha tani.

Menurut Irwanto, pendekatan tersebut menjadi titik balik dalam cara pandang petani terhadap alam.

“Sekarang kami mulai paham bahwa tanah itu harus dijaga, bukan hanya diambil hasilnya. Setelah belajar membuat pupuk dan pestisida sendiri dari bahan sekitar, tanaman lebih segar dan tanah mulai membaik. Biaya juga jauh lebih hemat, dan kami merasa lebih mandiri sebagai petani,” katanya.

Dampak positif pertanian semi organik juga dirasakan Umar, anggota Kelompok Tani Pomponangi. Ia mengaku pengeluaran usaha tani kini jauh lebih terkendali.

“Alhamdulillah sangat terasa bedanya. Dengan pupuk buatan sendiri dan pembibitan mandiri, biaya bisa ditekan. Kami tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pupuk dari luar,” ujarnya.

Desa Makarti Jaya memiliki potensi pertanian yang besar dengan luas lahan mencapai 49,22 hektare. Beragam komoditas hortikultura seperti sawi, kangkung, bayam, tomat, cabai, dan terong tumbuh di wilayah ini. Didukung 805 jiwa usia produktif, keterlibatan petani muda dalam pertanian ramah lingkungan menjadi harapan baru bagi ketahanan pangan lokal.

Lebih dari sekadar meningkatkan hasil panen, pertanian semi organik di Desa Makarti Jaya membuka peluang pemberdayaan keluarga petani dan perempuan desa, sekaligus menunjukkan bahwa transformasi sistem pangan bisa dimulai dari desa melalui kolaborasi dan pemanfaatan potensi lokal.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6