Harga Emas Diprediksi Tembus Rp 4,2 Juta pada 2026

Berikut sentimen yang mendorong revisi harga emas dunia dan logam mulia domestik pada 2026.

Diterbitkan 29 Januari 2026, 12:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Berjangka Ibrahim Assuabi merevisi proyeksi harga emas dunia dan logam mulia domestik untuk 2026. Revisi harga emas didorong meningkatnya risiko geopolitik global serta ketidakseimbangan pasokan dan permintaan di dalam negeri.

Menurut Ibrahim, harga emas dunia berpeluang menembus level setara USD 6.500 per troy ounce pada 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan posisi emas global yang sebelumnya sempat berada di kisaran USD 5.598. Kenaikan ini dinilai mencerminkan meningkatnya ketidakpastian global.

Sejalan dengan itu, harga logam mulia di pasar domestik juga diproyeksikan melonjak signifikan. Ibrahim merevisi target harga emas batangan dari sebelumnya Rp 3,5 juta menjadi sekitar Rp 4,2 juta per gram pada 2026, menyesuaikan dengan dinamika global dan kondisi pasar dalam negeri.

"Saya merevisi bahwa pada 2026 ini karena harga emas sudah menyentuh di level USD 5.598, kemungkinan besar di tahun 2026 itu akan menyentuh di level USD 6.500 per troy ounce. Kemudian saya merevisi juga untuk logam mulia, yang tadinya logam mulia di level Rp 3.500.000. Di tahun 2026 ini berubah menjadi Rp 4.200.000," kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (29/1/2026).

Ibrahim menjelaskan, ketegangan geopolitik menjadi faktor utama di balik revisi proyeksi tersebut. Mulai dari perang dagang, dinamika politik Amerika Serikat, arah kebijakan bank sentral AS, hingga potensi konflik di Timur Tengah dinilai memperbesar risiko global.

Ia menilai, konflik di Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan tersebut berisiko mendorong inflasi global yang lebih tinggi, sehingga investor cenderung mencari instrumen lindung nilai seperti emas.

"Kalau seandainya terjadi perang kemungkinan besar harga minyak akan melambung tinggi dan ini akan membuat inflasi tinggi," ujarnya.

Kebijakan Perdagangan AS

Selain itu, kebijakan perdagangan dan geopolitik Amerika Serikat, termasuk potensi embargo energi serta memanasnya hubungan dengan sejumlah negara, dinilai dapat melemahkan dolar AS. Menurut Ibrahim, kondisi tersebut biasanya menjadi katalis positif bagi pergerakan harga emas dunia.

"Sehingga ini akan membuat harga emas dunia terus mengalami kenaikan," ujarnya.

 

 

Pasokan Domestik Terbatas, Rupiah Jadi Faktor Tambahan

Dari domestik Ibrahim menilai keterbatasan pasokan logam mulia sebagai faktor penguat kenaikan harga. Walaupun pemerintah mengenakan bea keluar bijih emas sebesar 7,5% hingga 15%, ekspor berjalan karena sebagian besar tambang emas dikuasai investor asing yang terikat kontrak jangka panjang.

"Karena yang mengeksplorasi tambang emas di dalam negeri kebanyakan adalah investor asing yang mereka sudah mempunyai mempunyai perjanjian ya pada saat nanti eksplorasi kami yang memiliki dana nanti barang harus dibawa ke saya, ke luar negeri," ujarnya.

Di sisi lain, Ibrahim memprediksi  rupiah pada 2026 masih bergerak terbatas dan berpotensi berada di Rp 17.500 per dolar AS. Menurut dia, pergerakan rupiah juga berkontribusi terhadap pembentukan harga emas dan logam mulia di pasar domestik.

 

Harga Emas Dunia Sentuh Rekor Lagi

Sebelumnya, harga emas dunia kembali melonjak pada perdagangan Kamis, (29/1/2026). Kenaikan harga emas menyentuh rekor tertinggi di atas USD 5.500 per ounce pada Kamis pekan ini, dan memperpanjang reli luar biasa. Harga emas melesat seiring investor berbondong-bondong membeli safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi.

Mengutip Channel News Asia, harga emas di pasar spot naik 2,9% menjadi USD 5.554,76 per ounce pada pukul 23.43 GMT, setelah mencapai rekor USD 5.591,61.

Harga emas menembus USD 5.000 pertama kali pada Senin, 26 Januari 2026. Selama empat sesi, harga emas naik lebih dari USD 500.

 

"Kenaikan ini didorong oleh pembelian berkelanjutan dari bank sentral, momentum yang tak henti-hentinya dari dana pengikut tren, dan permintaan yang kuat untuk aset aman," kata analis pasar IG, Tony Sycamore.

"Meskipun sifat parabolik dari reli tersebut menunjukkan bahwa penurunan harga tidak jauh lagi, fundamental yang mendasarinya diperkirakan akan tetap mendukung sepanjang tahun 2026, sehingga setiap penurunan harga menjadi peluang pembelian yang menarik."

 

 

Ketegangan Geopolitik

Ketegangan geopolitik berlanjut setelah Presiden AS Donald Trump pada Rabu mendesak Iran untuk duduk di meja perundingan dan membuat kesepakatan tentang senjata nuklir, atau serangan AS berikutnya akan jauh lebih buruk.

Teheran menanggapi dengan ancaman untuk membalas serangan terhadap AS, Israel, dan mereka yang mendukungnya. Di sisi lain, the Federal Reserve AS memutuskan untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah pada Rabu, seperti yang diperkirakan secara luas.

Setelah pernyataan tersebut, para pedagang meningkatkan taruhan Fed akan memangkas biaya pinjaman jangka pendek pada Juni. Ketua Fed Jerome Powell mengatakan inflasi pada Desember kemungkinan masih jauh di atas target 2 persen bank sentral.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6