KNKT Sebut Tak Ada Keluhan Lanjutan Masalah Mesin Pesawat ATR 42-500 Sebelum Terbang

KNKT menyatakan, penyebab jatuhnya pesawat ATR 42-500 masih dalam proses investigasi.

Diterbitkan 21 Januari 2026, 10:47 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap kondisi pesawat ATR 42-500 sebelum terbang dan jatuh di kawasan perbatasan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. KNKT mengonfirmasi tidak ada masalah mesin pesawat yang dilaporkan sebelum pesawat ATR lepas landas.

Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono menuturkan, pesawat sewaan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan registrasi PK-THT itu lrpss landas dsri Bandara Adisutjipto, Yogyakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar pukul 08.08 WIB pada 17 Januari 2026 lalu.

"Perlu saya sampaikan di sini bahwa penerbangan dari Jakarta ke Yogyakarta kami sudah menginterview dari teman-teman dari IAT bahwa pesawat dalam kondisi baik, tidak ada keluhan," ungkap Soerjanto dalam Rapat Kerja dengan Komisi V DPR, dikutip Rabu (21/1/2026).

Dia menjelaskan, setelah mewancarai maskapai Indonesia Air Transport (IAT), dikonfirmasi tidak ada keluhan tambahan menjelang penerbangan yang berujung kecelakaan itu. Pasalnya, keluhan soal mesin pesawat sempat disampaikan 3 hari sebelum waktu penerbangan itu.

"Termasuk keluhan masalah engine yang sebelumnya ada, tiga hari sebelumnya ada keluhan masalah engine, ketika penerbangan terakhir tidak ada keluhan," ujar dia.

Adapun, penyebab jatuhnya ATR 42-500 masih dalam proses investigasi KNKT. "Kami sedang melakukan investigasi. Jadi di sini yang kami sampaikan data faktual, tidak ada analisa, dan tidak ada kesimpulan dan penyebabnya," kata Soerjanto.

Ada Sistem Peringatan

Sebelumnya, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan pesawat ATR 42-500 memiliki sistem peringatan jika mendeteksi adanya gunung saat penerbangan. Namun, kepastian operasional sistem itu perlu dibuktikan oleh rekaman black box.

Tunggu Hasil Black Box

Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono pernah menyampaikan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, perbatasan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan itu punya sistem peringatan soal kondisi geografis di bawahnya. 

"Menjawab pertanyaan Pak Ketua (Komisi V), apakah di pesawat ada alat peringatan untuk gunung, ada namanya TAWS Pak, TAWS itu Terrain Awareness Warning System," ungkap Soerjanto dalam Rapat Kerja dengan Komisi V DPR, dikutip Rabu (21/1/2026).

Tunggu Hasil Black Box

Dia menjelaskan, alat tersebut akan langsung memberikan peringatan kepada pilot ketika pesawat terbang mendekati gunung. Namun, Soerjanto belum bisa memastikan apakah TAWS ini berfungsi saat pesawat dengan registrasi PK-THT itu mendekati gunung saat menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. 

Kepastian itu, kata dia bisa didapat dari hasil rekaman dalam black box. Hanya saja, hingga saat ini black box ATR 42-500 masih belum ditemukan.

"Jadi kalau pesawat mendekati gunung alat itu akan bekerja, apakah alat itu bekerja apa tidak, jawabannya ada di black box, maka kami perlu menemukan black box tersebut," tutur Soerjanto.

 

Tunggu Investigasi KNKT

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan penyebab jatuhnya pesawat ATR 42-500 masih diselidiki oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Hingga kini disebut black box pesawat belum dapat ditemukan.

Dia menjelaskan, mulanya pesawat itu sempat hilang kontak sebelum ditemukan jatuh di Gunung Bulusaraung, di perbatasan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Baru ada dua jenazah korban yang ditemukan dalam proses evakuasi.

"Sebab dari kejadian tersebut kami tentunya masih menunggu hasil dari penyelidikan KNKT berkaitan dengan sebab-sebab kejadian," kata Dudy dalam Rapat Kerja dengan Komisi V DPR, Jakarta, Selasa (10/1/2026).

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6