Harga Perak Tiba-Tiba Tembus Rekor Baru, Ada Apa di Pasar Logam Mulia?

Harga perak menembus USD 90 per ons untuk pertama kalinya, sementara emas mendekati rekor tertinggi. Simak analisisnya di sini!

Diterbitkan 14 Januari 2026, 16:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga perak mencetak tonggak sejarah baru dengan menembus USD 90 per ons untuk pertama kalinya, sementara emas bergerak sangat dekat dengan rekor tertinggi sepanjang masa. Lonjakan ini dipicu oleh kombinasi faktor mulai dari tekanan politik terhadap Federal Reserve (The Fed), prospek lanjutan pemangkasan suku bunga AS, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Dikutip dari Yahoo Finance, Rabu (14/1/2026), perak sempat melonjak hingga 5,3 persen dan menyentuh level USD 91,5535 per ons, sedangkan harga emas bergerak hanya sekitar USD 10 dari rekor tertingginya. Data inflasi inti Amerika Serikat pada Desember tercatat lebih rendah dari perkiraan awal, meski para ekonom menilai angka tersebut terdistorsi oleh penutupan pemerintahan AS yang berlangsung sangat lama.

The Fed diperkirakan akan menahan laju pemangkasan suku bunga selama beberapa bulan ke depan. Namun demikian, pasar derivatif (swap market) masih memperhitungkan kemungkinan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga tambahan hingga akhir tahun.

Sejak awal tahun ini, harga logam mulia menunjukkan kinerja kuat, melanjutkan reli tajam sepanjang 2025. Kekhawatiran investor kembali meningkat setelah muncul potensi dakwaan pidana terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, yang memicu isu mengenai independensi bank sentral AS.

 

Geopolitik Panas dan Dukungan Analis untuk Perak

Kekhawatiran pasar semakin diperparah oleh dinamika geopolitik global. Penangkapan pemimpin Venezuela oleh Presiden AS Donald Trump, ancaman terbaru untuk mengambil alih Greenland, serta aksi protes keras di Iran yang berpotensi menggoyang rezim, turut mendorong permintaan aset aman (safe haven).

Sejumlah bank sentral dunia menyatakan dukungannya terhadap Jerome Powell. Bahkan CEO JPMorgan Chase & Co Jamie Dimon, memperingatkan bahwa langkah hukum terhadap Ketua The Fed justru bisa berbalik merugikan stabilitas pasar.

Optimisme terhadap logam mulia juga tercermin dari langkah Citigroup Inc yang menaikkan proyeksi harga tiga bulanan untuk emas dan perak masing-masing menjadi USD 5.000 per ons dan USD 100 per ons.

Menurut Hao Hong, Chief Investment Officer Lotus Asset Management Ltd, perak diuntungkan oleh rotasi besar investor ke sektor komoditas

.“Reli ini terlihat masih memiliki ruang yang sangat luas tahun ini, dengan harga berpotensi mencapai USD 150 per ons pada akhir tahun,” ujar Hao Hong.

Sepanjang tahun lalu, perak bahkan mengungguli emas dengan lonjakan harga hingga 150 persen, didorong oleh short squeeze pada Oktober, pasokan yang ketat di London, serta tingginya aktivitas spekulatif.

 

Pasokan Ketat dan Minat Spekulatif Menguat

Pasar juga mencermati hasil penyelidikan Section 232 Amerika Serikat, yang berpotensi memicu penerapan tarif impor terhadap perak. Isu ini menambah tekanan pada pasokan global.

“Kekhawatiran adanya tarif impor perak membuat banyak perak tertahan di Amerika Serikat, sehingga membatasi aliran ke pasar global,” ujar Liu Shiyao, analis di Zijin Tianfeng Futures Co. Ltd.

Lonjakan harga terbaru menegaskan kuatnya arus investasi ke logam mulia. Minat spekulatif meningkat signifikan dari Shanghai hingga New York, dengan volume perdagangan di Comex dan Shanghai Futures Exchange bertahan di level tinggi sejak akhir Desember.

Pada perdagangan siang hari di Singapura, harga perak tercatat naik 4,6 persen ke level USD 90,9590 per ons. Sementara itu, emas menguat 0,9 persen ke USD 4.626,43 per ons, mendekati rekor tertinggi USD 4.634,55 yang tercapai sebelumnya. Harga platinum dan palladium masing-masing melonjak lebih dari 4 persen, sementara indeks dolar Bloomberg relatif stabil.

Menurut David Chao, Global Market Strategist Invesco Asset Management, permintaan emas dan perak sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakstabilan keuangan diperkirakan tetap berlanjut tahun ini.

“Namun kenaikannya kemungkinan tidak akan sekuat 2025. Emas diperkirakan akan mengungguli perak tahun ini, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik,” ujarnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6