Kurs USD-IDR Hari Ini 13 Januari 2026, Rupiah Loyo Lawan Dolar AS

Intip gerak kurs rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) hari ini 13 Januari 2026.

Diterbitkan 13 Januari 2026, 11:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini, Selasa 13 Januari 2026 bergerak melema. Kurs rupiah melemah 18 poin atau 0,11 persen menjadi 16.873 per USD dari sebelumnya 16.855 per USD.

Kemarin, nilai tukar rupiah ditutup melemah 36 poin atau 0,21 persen menjadi Rp16.855 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.819 per dolar AS.

“Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh masih kuatnya dolar AS yang ditopang oleh tingginya imbal hasil US Treasury serta sikap investor global yang cenderung berhati-hati,” kata Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva, dikutip dari Antara.

Menurutnya, kurs rupiah melemah didominasi sentimen global. Kendati muncul isu intervensi pemerintah AS terhadap The Fed, lanjutnya, pasar menilai hal tersebut belum memberikan dampak nyata terhadap arah kebijakan moneter AS.

Investor disebut masih menunggu sinyal yang lebih jelas terkait penurunan suku bunga, sehingga dolar AS tetap menjadi aset aman.

Melihat sentimen sisi domestik, rilis data penjualan eceran yang tumbuh 1,5 persen secara bulanan (month-to-month) dinilai mencerminkan daya beli masyarakat relatif terjaga.

Namun, sentimen positif ini dianggap belum cukup kuat menahan tekanan eksternal, mengingat pergerakan nilai tukar dalam jangka pendek lebih dipengaruhi oleh faktor global dan arus modal.

Selain itu, kehadiran otoritas moneter melalui langkah stabilisasi di pasar valas mampu menahan volatilitas, tetapi belum cukup membalikkan arah pergerakan rupiah di tengah tekanan global yang masih dominan.

“Ke depan, pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar AS, arah kebijakan The Fed, serta perkembangan sentimen risiko global,” kata Taufan.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.853 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.834 per dolar AS.

Kurs Dolar Melemah

Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada awal perdagangan di Jakarta, Senin. Rupiah turun 28 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp16.847 per dolar AS, dibandingkan sebelumnya Rp 16.819 per dolar AS.

Meski melemah di awal perdagangan, pergerakan rupiah dinilai masih berpeluang menguat seiring tekanan terhadap kurs dolar AS. Sentimen tersebut muncul setelah pemerintah Amerika Serikat membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai langkah tersebut berdampak langsung pada pelemahan dolar AS.

“Trump membuka penyelidikan kriminal atas Powell. Ini membuat indeks dolar AS turun cukup tajam, sehingga rupiah berpotensi menguat,” ucapnya dikutip dari Antara.

Federal Reserve mengonfirmasi pada Minggu (11/1/2026) malam bahwa jaksa federal AS tengah menyelidiki Powell terkait proyek renovasi kantor pusat bank sentral yang nilainya mencapai miliaran dolar AS.

Isu tersebut langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral AS dan menekan pergerakan kurs dolar secara global.

 

Surat Pengadilan Telah Dikirim

Dalam pernyataan publik yang diunggah di situs resmi Federal Reserve, Jerome Powell mengungkapkan bahwa Departemen Kehakiman AS telah mengambil langkah hukum terhadap dirinya. Powell menyebut surat panggilan pengadilan telah dikirimkan kepada The Fed pada Jumat (9/1/2026).

“mengancam dakwaan pidana terkait kesaksian saya di hadapan Komite Perbankan Senat Juni lalu. Kesaksian itu sebagian berkaitan dengan proyek multi-tahun untuk merenovasi gedung-gedung kantor Federal Reserve yang bersejarah.”

Menurut Lukman, langkah hukum tersebut memicu reaksi besar di pasar keuangan global, termasuk pasar valuta asing. “Tindakan ini dianggap intervensi atas independensi bank sentral The Fed. Saat ini, reaksi pasar cukup besar, namun bisa juga hanya sesaat, rupiah bisa volatile kedua arah,” kata Lukman.

Ia menilai tekanan terhadap kurs dolar akibat isu politik dan hukum ini dapat memberikan ruang penguatan bagi rupiah. Namun, volatilitas masih berpotensi tinggi karena pelaku pasar menunggu perkembangan lanjutan dari kasus tersebut.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6