Kurs Dolar Melemah, Rupiah Berpeluang Menguat Usai Isu Penyelidikan The Fed

Kurs dolar melemah usai isu penyelidikan Ketua The Fed. Rupiah dibuka turun, namun berpeluang menguat seiring tekanan dolar AS.

Diterbitkan 12 Januari 2026, 11:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada awal perdagangan di Jakarta, Senin. Rupiah turun 28 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp16.847 per dolar AS, dibandingkan sebelumnya Rp 16.819 per dolar AS.

Meski melemah di awal perdagangan, pergerakan rupiah dinilai masih berpeluang menguat seiring tekanan terhadap kurs dolar AS. Sentimen tersebut muncul setelah pemerintah Amerika Serikat membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai langkah tersebut berdampak langsung pada pelemahan dolar AS.

“Trump membuka penyelidikan kriminal atas Powell. Ini membuat indeks dolar AS turun cukup tajam, sehingga rupiah berpotensi menguat,” ucapnya dikutip dari Antara.

Federal Reserve mengonfirmasi pada Minggu (11/1/2026) malam bahwa jaksa federal AS tengah menyelidiki Powell terkait proyek renovasi kantor pusat bank sentral yang nilainya mencapai miliaran dolar AS.

Isu tersebut langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral AS dan menekan pergerakan kurs dolar secara global.

 

Surat Pengadilan Telah Dikirim

Dalam pernyataan publik yang diunggah di situs resmi Federal Reserve, Jerome Powell mengungkapkan bahwa Departemen Kehakiman AS telah mengambil langkah hukum terhadap dirinya. Powell menyebut surat panggilan pengadilan telah dikirimkan kepada The Fed pada Jumat (9/1/2026).

“mengancam dakwaan pidana terkait kesaksian saya di hadapan Komite Perbankan Senat Juni lalu. Kesaksian itu sebagian berkaitan dengan proyek multi-tahun untuk merenovasi gedung-gedung kantor Federal Reserve yang bersejarah.”

Menurut Lukman, langkah hukum tersebut memicu reaksi besar di pasar keuangan global, termasuk pasar valuta asing. “Tindakan ini dianggap intervensi atas independensi bank sentral The Fed. Saat ini, reaksi pasar cukup besar, namun bisa juga hanya sesaat, rupiah bisa volatile kedua arah,” kata Lukman.

Ia menilai tekanan terhadap kurs dolar akibat isu politik dan hukum ini dapat memberikan ruang penguatan bagi rupiah. Namun, volatilitas masih berpotensi tinggi karena pelaku pasar menunggu perkembangan lanjutan dari kasus tersebut.

 

Rupiah Tetap Fluktuatif

Di sisi lain, Lukman mengingatkan bahwa penguatan rupiah tetap dibatasi oleh data ekonomi Amerika Serikat yang secara umum masih menunjukkan kinerja cukup solid. Data ketenagakerjaan terbaru mencatat penambahan 50 ribu lapangan kerja, meski sedikit di bawah ekspektasi pasar sebesar 60 ribu.

Tingkat pengangguran AS tercatat turun menjadi 4,4 persen pada Desember 2025, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,5 persen. Kondisi ini menandakan pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat, sehingga menopang fundamental dolar AS.

Selain itu, data izin pembangunan perumahan AS meningkat menjadi 1,41 juta, melampaui ekspektasi 1,35 juta. Indeks kepercayaan konsumen juga tercatat naik ke level 54, lebih tinggi dari estimasi 53,5.

Kombinasi sentimen politik dan data ekonomi tersebut membuat pergerakan kurs dolar dan rupiah diperkirakan tetap fluktuatif dalam jangka pendek, dengan pasar mencermati arah kebijakan dan stabilitas ekonomi AS ke depan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6