Hore, Rata-Rata Gaji Pekerja di Indonesia Diproyeksi Naik 5,8% pada 2026

Kinerja individu, rentang gaji, serta kinerja perusahaan menjadi faktor utama yang memengaruhi penentuan kenaikan gaji pada 2026.

Diterbitkan 22 Desember 2025, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Survei Mercer memperkirakan rata-rata gaji karyawan di Indonesia akan meningkat sebesar 5,8% pada 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi kenaikan gaji tahun 2025 yang berada di level 6,3%.

Berdasarkan Total Remuneration Survey Mercer 2025, kajian dilakukan terhadap tren dan kebijakan remunerasi pada lebih dari 7.000 jabatan di 588 perusahaan di Indonesia. 

Hasil survei menunjukkan bahwa meskipun laju kenaikan gaji diperkirakan melambat, seluruh perusahaan responden tetap merencanakan penyesuaian gaji pada 2026, sebagaimana dilakukan pada tahun sebelumnya.

Kinerja individu, rentang gaji, serta kinerja perusahaan menjadi faktor utama yang memengaruhi penentuan kenaikan gaji pada 2026. Dari sisi sektor, industri kimia diproyeksikan mencatat kenaikan gaji tertinggi sebesar 6,2%. 

Sementara itu, industri otomotif memperkirakan kenaikan yang lebih rendah, yakni sekitar 4,9%. Perbedaan ini mencerminkan variasi strategi kompensasi antar industri dalam menyikapi kondisi bisnis ke depan.

Survei juga mencatat realisasi pembayaran bonus pada 2025 diperkirakan berada di bawah target, dengan rata-rata sebesar 16,6% dari gaji pokok tahunan, lebih rendah dibandingkan ekspektasi 17,5% pada 2024. Tingkat pengunduran diri sukarela karyawan diperkirakan relatif stabil di angka 5,2% pada 2025, sejalan dengan periode 2023–2024. 

Namun, pengunduran diri non-sukarela diperkirakan meningkat, terutama di sektor teknologi tinggi, pertambangan, dan kontraktor pertambangan. Di sisi lain, rencana penambahan tenaga kerja juga melambat, dengan sekitar 20% perusahaan berencana merekrut karyawan baru pada 2026, turun dari 25% pada perkiraan sebelumnya.

 

 

Perbedaan Anggaran Gaji

Yosef Budiman, Associate Director & Career Products Leader, Mercer Indonesia, mengatakan dengan perbedaan anggaran gaji di berbagai sektor, pendekatan kompensasi perlu disesuaikan dengan kondisi unik masing-masing perusahaan. 

“Meskipun pengunduran diri sukarela tetap stabil, peningkatan pengunduran diri non-sukarela, terutama di sektor teknologi tinggi dan pertambangan, serta perlambatan rencana perekrutan, menuntut perusahaan untuk mengelola strategi penghargaan dan retensi secara lebih terarah di tengah pasar talenta yang kompetitif,” ujarnya dalam keterang resmi, Senin (22/12/2025).

Tantangan pada 2026

Memasuki 2026, pemimpin sumber daya manusia dihadapkan pada tantangan menjaga produktivitas di tengah keterbatasan anggaran, sekaligus mendukung target pertumbuhan perusahaan. Fokus pada peningkatan keterampilan dan pelatihan ulang, pengelolaan kompensasi yang adil, pengendalian biaya, serta penguatan budaya digital menjadi sejumlah isu yang perlu mendapat perhatian.

 

Ambisi Pertumbuhan

Presiden Direktur Mercer Indonesia, Isdar Marwan menyampaikan temuan ini menunjukkan bahwa perusahaan di Indonesia harus mengelola ambisi pertumbuhan secara lebih strategis di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan biaya yang meningkat. 

Menurut Isdar, dengan anggaran yang lebih ketat, pemimpin HR dan bisnis perlu memprioritaskan produktivitas melalui peningkatan keterampilan dan pelatihan ulang, memperkuat kapabilitas digital, dan berinvestasi pada kesehatan karyawan sebagai pembeda jangka panjang. 

“Prioritas ini sejalan dengan Global Talent Trends yang kami amati. Mercer tetap berkomitmen untuk membantu perusahaan merancang strategi talenta dan penghargaan yang adaptif dan siap menghadapi masa depan,” pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6