Harga Emas Bakal Tembus USD 4.271, Begini Prediksi Logam Mulia di Pasar Domestik

Berikut prospek harga emas dunia pada perdagangan Senin, (8/12/2025).

Diterbitkan 08 Desember 2025, 08:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi harga emas dunia berpotensi menguat pada awal pekan, khususnya hari ini Senin, 8 Desember 2025. Ia menuturkan, pada Sabtu pagi harga emas dunia ditutup di level USD 4.196, setelah sempat menyentuh USD 4.372 menjelang pukul 01.00 dini hari. Pergerakan signifikan juga sempat terjadi ketika harga emas menyentuh USD 4.259 sebelum kembali terkoreksi.

Menurut Ibrahim, jika tekanan jual kembali muncul, emas berpotensi turun ke USD 4.126, sementara untuk logam mulia diproyeksikan di kisaran Rp 2.370.000 per gram. 

"Kalau saya lihat bahwa kalau seandainya nanti harga emas dunia mengalami penurunan itu di USD 4.126, logam mulianya itu adalah Rp 2.370.000,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (8/12/2025).

Ia menyebutkan, level support kedua berada di USD 4.050, yang dapat menyeret harga logam mulia ke Rp 2.280.000 apabila terjadi koreksi lebih dalam dalam sepekan.

"Kemudian di support kedua itu USD 4.050 dalan satu minggu ya, kemungkinan besar dalam satu minggu kalau seandainya turun logam mulia itu di Rp 2.280.000. Itu kalau seandainya turun,” ujarnya.

Namun, Ia menegaskan, peluang penguatan justru lebih terbuka. Resisten pertama di USD 4.271 berpeluang tercapai pada hari Senin. Jika level ini ditembus, harga logam mulia dapat bergerak ke sekitar Rp 2.430.000. 

"Tetapi kalau mengalami kenaikan ya kemungkinan besar resisten pertama di USD 4.271 kemudian itu kemungkinan terjadi di hari Senin.Diperkirakan. Kemudian harga logam mulia itu di Rp 2.430.000,” ujarnya.

Adapun ia memproyeksikan hingga Jumat atau Sabtu mendatang, potensi resisten kedua di USD 4.328 dapat membawa kembali harga logam mulia ke kisaran Rp 2.500.000.

"Sampai di hari Jumat atau Sabtu pagi harga emas dunia kemungkinan resisten kedua itu di USD 4.328, Ya itu kalau logam mulianya itu dari Rp 2.500.000. Kemungkinan besar akan kembali ke Rp 2.500.000,” ujarnya.

Spekulasi Pergantian Gubernur The Fed Jadi Pemicu Utama Volatilitas

Ibrahim menilai, gejolak harga emas tak lepas dari memanasnya dinamika politik di Amerika Serikat, terutama terkait spekulasi pergantian pucuk pimpinan bank sentral AS (The Fed).

Ia menyatakan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut-sebut akan menunjuk Kevin Hassett, penasihat ekonomi Gedung Putih sekaligus loyalis Trump, sebagai Ketua The Fed mulai awal 2026. Menurut dia, dominasi eksekutif terhadap bank sentral yang seharusnya independen menimbulkan kegelisahan pasar. 

"Salah satu penyebabnya adalah tentang spekulasi tentang pergantian kepemimpinan The Fed. Ya ini yang larinya itu adalah perpolitikan di Amerika yang terus memanas. Di mana Trump kemungkinan besar akan menunjuk Kevin Hassett. Ya Kevin Hassett penasihat ekonomi gedung putih. Yang kita lihat bahwa itu adalah salah satu pendukung kuat Trump yang akan diangkat sebagai gubernur bank Indonesia di tahun 2026 awal," ujar dia.

 

 

Ketegangan Geopolitik Global Perkuat Sentimen Penguatan Emas

Selain faktor AS, eskalasi geopolitik di berbagai kawasan turut mendorong ekspektasi kenaikan harga emas. Ibrahim menyebut pertemuan utusan Gedung Putih dengan Presiden Rusia Vladimir Putin tidak menghasilkan terobosan terkait konflik Rusia-Ukraina. 

Serangan balasan sporadis Rusia ke Kiev membuat Eropa kembali memanas, mendorong Ukraina menggelar pertemuan darurat dengan Inggris, Prancis, dan Italia.

Ketegangan di Asia Timur juga meningkat seiring latihan militer Tiongkok di sekitar perairan Taiwan. Jepang menegaskan akan membantu Taiwan jika terjadi upaya pencaplokan wilayah, menandai potensi konflik yang lebih luas.

"Ini yang ketegangan-ketegangan inilah yang membuat saya masih optimis bahwa harga emas dunia sampai akhir tahun akan kembali mengalami penguatan,” pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6