Menko Zulkifli Hasan: Tidak Ada Bangsa Maju Tanpa Kedaulatan Pangan

Menko Pangan Zulkifli Hasan menjelaskan, saat ini Indonesia sudah swasembada pangan untuk komoditas beras dan jagung.

Diterbitkan 05 Desember 2025, 19:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan menegaskan pentingnya sektor pangan menjadi perhatian. Menurutnya, tidak ada bangsa yang maju tanpa berdaulat atas kebutuhan pangannya sendiri.

Pada konteks ini, dia menyinggung soal swasembada pangan yang menjadi target dari pemerintah. Artinya, kebutuhan pangan seluruh masyarakat Indonesia bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri.

"Swasembada itu penting agar kita berdaulat. Kedaulatan itu kehormatan. Tidak ada orang yang maju, bangsa yang maju tanpa kedaulatan di bidang pangan, tidak ada," tegas Zulkifli Hasan dalam Indonesia Connect Outlook 2026, di The Hall Senayan City, SCTV Tower, Jakarta, ditulis Jumat (5/12/2025).

Dia mengatakan, saat ini pemerintah baru swasembada beras dan jagung. Swasembada beras sendiri dilandaskan pada proyeksi jumlah produksi beras nasional yang mencapai 34,7 juta ton hingga Desember 2025 ini.

"Jadi beras tidak usah khawatir. Jadi kalau kemarin ada isu impor beras, buat apa impor beras? Beras kita turah-turah. Tahun lalu 30 juta, tahun ini produksinya 34,7 juta. Tahun lalu kita impor 4,5 juta, tahun ini 0. Bahkan kita surplus 4 juta lebih," beber Zulkifli.

Dia menyadari kalau swasembada pangan tak hanya pada komoditas karbohidrat. Maka, fokus pemerintah berikutnya adalah meningkatkan produksi dari ikan hingga ayam.

"Nah tahun depan, tahun depan maka kita bergeser lagi ke protein. Kita akan membangun besar-besaran tambak di Pulau Jawa 20 ribu hektare. Setiap kabupaten nanti akan ada satu tambak ikan untuk melayani suplai, makanan bergizi itu, SPPG," jelasnya.

 

Janji Tingkatkan Kesejahteraan Nelayan dan Peternak

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan mengungkapkan kondisi kelompok nelayan hingga peternak masih dinilai miskin. Peningkatan kesejahteraan nelayan hingga peternak akan dimulai pada 2026, tahun depan.

Mulanya, Zulkifli mengisahkan peningkatan nilai tukar petani. Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai tukar petani pada poin 124. Namun, nilai tukar untuk nelayan masih terbilang rendah.

"Kita akan selesaikan tahun depan. Itu nelayan masih miskin, nelayan. Ya, nilai tukarnya masih 106-110. Sama peternak, petelur, peternak ayam, tambak, itu belum," ungkap Zulkifli saat berbincang dengan petani di Desa Tamelang, Purwasari, Karawang, Kamis (6/11/2025).

 

Strategi Pemerintah

Dia mengakui pemerintah sudah meracik strategi untuk meningkatkan pendapatan nelayan hingga peternak. Mulai 2026, pembangunan kampung nelayan akan dimasifkan, termasuk tambak di sepanjang pesisir Jawa Barat. Tak cuma itu, jumlah peternakan juga akan kembali digenjot di berbagai titik.

"Nanti tahun depan. Kita akan bangun di Jawa Barat ini, 20 ribu hektare tambak, ya. Di Pantura pantai-pantai kita akan bangun 2.000 kampung nelayan. Besar-besaran ini akan dibangun, akan dibangun peternak juga besar-besaran, ayam, petelur dan seterusnya," tuturnya.

Selain sebagai solusi kesejahteraan nelayan dan peternak, langkah itu disinyalir mampu meningkatkan produksi. Tujuannya, menopang kebutuhan Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi 82,9 juta orang. "Karena tahun depan. Kita akan.. Pak Presiden kebijakannya akan memberi makan 82,9 juta anak-anak, balita dan ibu hamil," tandasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6