Harga Minyak Dunia Hari Ini, Brent hingga WTI Kompak Anjlok

Simak ulasan harga minyak dunia hari ini Rabu 26 November 2025.

Diterbitkan 26 November 2025, 07:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Harga minyak turun pada perdagangan Selasa (Rabu waktu Jakarta), turun lebih dari 1% setelah laporan berita mengutip seorang pejabat AS yang mengatakan bahwa Ukraina telah menyetujui kesepakatan damai.

Dikutip dari CNBC, Rabu (26/11/2025), harga minyak Brent turun 89 sen atau 1,4% dan ditutup pada harga USD 62,48 per barel. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 89 sen atau 1,51% dan ditutup pada USD 57,95.

ABC News dan CBS News melaporkan bahwa seorang pejabat AS mengatakan Ukraina telah menyetujui persyaratan kesepakatan damai potensial.

Seorang pejabat Ukraina mengatakan kepada Reuters bahwa Kyiv mendukung esensi kerangka kerja perdamaian setelah pembicaraan dengan AS di Jenewa, tetapi beberapa isu paling sensitif dari kerangka kerja tersebut masih harus dibahas antara presiden kedua negara.

Kepala Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina Rustem Umerov menyatakan, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dapat mengunjungi AS dalam beberapa hari ke depan untuk menyelesaikan kesepakatan dengan Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang Ukraina dengan Rusia.

“Beberapa media melaporkan bahwa Ukraina menyetujui kesepakatan damai. Namun, perlu dua pihak untuk berunding, dan masih belum jelas apakah Rusia juga setuju," kata Analis UBS Giovanni Staunovo.

Kesepakatan damai Ukraina-Rusia dapat menyebabkan pencabutan sanksi terhadap Moskow, sehingga melepaskan pasokan minyak yang sebelumnya dibatasi ke pasar.

Kedua patokan harga minyak mentah naik 1,3% pada hari Senin karena meningkatnya keraguan tentang kesepakatan damai mengurangi ekspektasi terhadap aliran pasokan minyak mentah dan bahan bakar Rusia yang tak terkekang.

 

Pasokan dan Permintaan Minyak Mentah

Prospek keseluruhan untuk keseimbangan pasokan dan permintaan minyak mentah pada tahun 2026 lebih longgar di tengah berbagai proyeksi bahwa pertumbuhan pasokan akan melebihi peningkatan permintaan tahun depan. Kekhawatiran akan kelebihan pasokan telah meredam sentimen pasar baru-baru ini.

“Dalam jangka pendek, risiko utamanya adalah kelebihan pasokan dan tingkat harga saat ini tampak rentan,” ujar Analis Pasar Senior Phillip Nova, Priyanka Sachdeva.

Karena sanksi baru terhadap perusahaan minyak besar Rusia Rosneft dan Lukoil serta peraturan yang melarang penjualan produk minyak yang dimurnikan dari minyak mentah Rusia ke Eropa, beberapa penyuling India telah mengurangi pembelian minyak Rusia, khususnya perusahaan swasta Reliance.

Dengan pilihan penjualan yang terbatas, Rusia ingin meningkatkan ekspor ke China.

Pada hari Selasa, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengatakan Moskow dan Beijing telah membahas cara untuk memperluas ekspor minyak Rusia ke China.

Namun secara keseluruhan, analis pasar tetap fokus pada potensi ketidakseimbangan pasokan dan permintaan yang lebih luas.

 

Surplus Minyak Mentah

Deutsche Bank memperkirakan surplus minyak mentah tahun 2026 setidaknya 2 juta barel per hari dan tidak ada jalur yang jelas untuk kembali ke defisit bahkan pada tahun 2027, kata bank tersebut dalam sebuah catatan pada hari Senin.

“Jalan menuju tahun 2026 masih bearish,” kata analis Michael Hsueh.

Pasar minyak mendapat dukungan dari meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve AS akan memangkas suku bunga pada pertemuan kebijakan tanggal 9-10 Desember, dengan anggota Fed menunjukkan dukungan mereka untuk pemangkasan tersebut.

Suku bunga yang lebih rendah dapat merangsang pertumbuhan ekonomi dan memperkuat permintaan minyak. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6