Antisipasi El Nino, Bank Indonesia Perkuat Pengendalian Inflasi Pangan

BI dan pemerintah mengarahkan program GP IPS pada aspek ketersediaan pasokan serta kelancaran distribusi demi menjaga daya beli masyarakat.

Diterbitkan 23 Juli 2026, 08:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah memperkuat program pengendalian inflasi pangan untuk mengantisipasi dampak El Nino terhadap pasokan dan distribusi pangan. Langkah tersebut ditempuh di tengah inflasi Juni 2026 yang tetap terjaga di level 3,4 persen secara tahunan, meski inflasi kelompok volatile food masih mencapai 5,58 persen.

Deputi Gubernur BI, Ricky P. Gozali, mengatakan tekanan inflasi pangan masih dipengaruhi kenaikan harga beras, bawang putih, dan komoditas hortikultura. Ia menjelaskan tekanan tersebut terkonsentrasi di Sumatera, Sulawesi, Maluku, Papua (Sulampua), dan Kalimantan akibat berakhirnya masa panen serta gangguan cuaca El Nino yang menghambat pasokan dan distribusi.

“Dalam rangka mengantisipasi dampak El Nino yang lebih mengganggu sisi suplai pangan, program Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Strategis (GP IPS) bersama pemerintah akan diarahkan pada aspek ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi,” ujar Ricky dikutip Kamis (23/7/2026).

 

Perluasan Program GP IPS ke Wilayah Bali hingga Sulampua

Untuk merespons kondisi tersebut, BI melalui 46 Kantor Perwakilan menjalankan program GP IPS dengan menerapkan strategi 4K, yaitu:

  • Keterjangkauan harga
  • Ketersediaan pasokan
  • Kelancaran distribusi
  • Komunikasi yang efektif

Program tersebut telah diluncurkan di Sumatera dan Jawa, kemudian akan diperluas ke wilayah Bali-Nusa Tenggara pada 27 Juli 2026, serta dilanjutkan ke Kalimantan dan Sulampua.

Ricky menegaskan GP IPS tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas harga pangan, tetapi juga memastikan ketersediaan pangan, menjaga daya beli masyarakat, dan meningkatkan kesejahteraan. Menurutnya, implementasi program disesuaikan dengan karakteristik dan tantangan masing-masing daerah.

“Program-program GP IPS bukan sekadar menjaga harga, tetapi memastikan pangan tersedia, daya beli masyarakat terjaga, dan kesejahteraan meningkat sesuai tantangan di setiap daerah,” katanya.

 

Langkah Konkret Perkuat Ketahanan Pangan

BI dan pemerintah juga menyiapkan berbagai langkah konkret untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Program-program tersebut meliputi:

  • Penerapan good agriculture practice dan pembangunan irigasi.
  • Penerapan digital farming.
  • Penguatan pascapanen melalui penyediaan gudang penyimpanan dan hilirisasi produk hortikultura.
  • Perluasan Kerja Sama Antardaerah (KAD).
  • Optimalisasi fasilitasi distribusi pangan dan subsidi biaya angkut.
  • Perluasan Gerakan Pangan Murah atau operasi pasar yang tepat komoditas, lokasi, dan waktu.

Melalui berbagai langkah tersebut, BI berharap tekanan inflasi pangan dapat terus mereda hingga akhir 2026, sekaligus menjaga stabilitas harga di tengah risiko cuaca ekstrem dan tingginya ketidakpastian global.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6