Kerugian Masyarakat Imbas Scam Keuangan Sentuh Rp 7 Triliun, Modus Ini Paling Dominan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berupaya meningkatkan IASC sehingga lebih maju dan cepat menyelamatkan dana masyarakat terkait praktik penipuan keuangan atau scam.

Diterbitkan 19 Oktober 2025, 17:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kerugian masyarakat karena praktik scam atau penipuan di sektor keuangan mencapai Rp 7 triliun. Hal itu berdasarkan laporan yang disampaikan kepada Indonesia Anti-Scam Center pada 22 November-16 Oktober 2025.

Berdasarkan catatan IASC, jumlah laporan yang diterima tersebut  mencapai 299.237. Dari jumlah rekening yang dilaporkan sebanyak 487.378, tercatat jumlah rekening diblokir 94.344. Total dana diblokir Rp 376,8 miliar.  Adapun Indonesia Anti-Scam Center (IASC) dibentuk OJK bersama Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Iegal (Satgas PASTI) pada 22 November 2024.

"Sejak IASC berdiri, dana diselamatkan (hampir-red) Rp 400 miliar,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi, saat Puncak Bulan Inklusi Keuangan 2025 di Purwokerto, Jawa Tengah, ditulis Minggu (19/10/2025).

Padahal dana Rp 7 triliun yang hilang dari masyarakat, Friderica menuturkan, jika digunakan untuk investasi dan menabung dapat memutar ekonomi masyarakat.

"Rp 7 triliun kalau itu masuk membeli saham di pasar modal, atau taruh di bank-bank bisa memutar ekonomi, salurkan ke perusahaan butuh modal, bisa membangkitkan sektor ekonomi,” tutur dia.

Adapun beragam modus kian beragam dalam praktik scam keuangan. Friderica menuturkan, penipuan transaksi belanja online yang terbesar. Jumlah laporan karena penipuan transaksi belanja jual-beli online mencapai 53.928 dengan kerugian Rp 988 miliar. Lalu disusul penipuan mengaku pihak lain dengan jumlah laporan 31.299 dan kerugian Rp 1,31 triliun.

Selanjutnya penipuan investasi sebanyak 19.850 laporan dengan jumlah kerugian Rp 1,09 triliun, lalu penipuan penawaran kerja sebanyak 18.220 laporan dengan jumlah kerugian mencapai Rp 656 juta. Penipuan mendapatkan hadiah mencapai 15.470 dan jumlah kerugian Rp 189,91 juta.

 

 

Rata-Rata Laporan Penipuan Negara Lain

Modus terbesar lainnya yaitu phising, social engineering, pinjaman online fiktif dan APK (android package kit) lewat whatsapp.

Selain itu, jika dilihat dari rata-rata laporan dibandingkan negara lain, di Indonesia dapat mencapai sekitar  874 per hari.

"(874 laporan-red) ini sudah luar biasa. Dibandingkan dengan negara lain yang kebanyakan 120 per hari, 115 per hari dan sebagainya. Jadi ini harus kita sinergikan dan kolaborasikan untuk sama-sama menjaga kepentingan masyarakat kita,” kata perempuan akrab disapa kiki ini.

Friderica mengatakan, pihaknya terus bekerja sehingga dapat lebih cepat menyelamatkan dana masyarakat. "Kita masih working on it, supaya lebih maju, lebih cepat bisa menyelamatkan dana masyarakat. Tetapi tergantung kecepatan masyarakat itu sendiri melaporkan kepada Indonesia Anti Scam,” kata Friderica.

 

Perkembangan IASC

Friderica mengatakan, pihaknya berkomitmen dan serius untuk menjaga konsumen dan masyarakat dari penipuan keuangan.  Pihaknya pun berupaya  meningkatkan kinerja IASC sehingga dapat melindungi masyarakat.

"Beberapa perkembangan dari anti scam center ini adalah pertama, kita sudah masuk penegakan hukumnya. Kedua, kita sedang melakukan penguatan sistem kita. Berhubung tidak hanya perbankan saja tetapi juga dengan marketplace. Terus kemudian asosiasi telekomunikasi seluruh Indonesia. Kalau diperhatikan semua kejahatan yang dilakukan itu pasti dua hal yang digunakan yakni rekening dan kedua sambungan telepon,” kata dia.

Ia menambahkan perkembangan terbaru lainnya dari anti scam center ini kalau pengaduan yang dilakukan seperti surat tanda penerimaan laporan kepolisian. “Sudah dianggap seperti SPTL, laporan pengaduan ke polisi,” tutur dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6