IMF: Inflasi Global Beragam di Tengah Kenaikan Tarif Dagang

IMF melihat inflasi umum naik lebih cepat di Inggris, Australia, dan India. Namun, tekanan inflasi "sangat rendah" di China.

Diterbitkan 04 Oktober 2025, 22:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dana Moneter Internasional atau the International Monetary Fund (IMF) memandang gambaran inflasi yang beragam secara global. Hal ini seiring perusahaan-perushaaan di Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lain yang menerapkan tarif sejauh ini telah menyerap sebagian besar bea masuk lebih tinggi.

Juru Bicara IMF Julie Kozack menambahkan, permintaan tetap tertekan di negara-negara pengekspor utama seperti China. Demikian mengutip dari Yahoo Finance, Sabtu (4/10/2025).

Kozack menuturkan, ekonomi global telah menunjukkan ketahanan dalam menghadapi ketidakpastian tarif dagang seiring IMF dan grup Bank Dunia mempersiapkan pertemuan tahunannya di Washington akhir bulan ini.

"Kami melihat pertumbuhan global pada paruh pertama tahun ini tetap stabil, tetapi kami mulai melihat tanda-tanda perlambatan secara global sekarang," kata Kozack.

"Sehubungan dengan inflasi, apa yang kami lihat secara global adalah gambaran yang agak beragam,” ia menambahkan.

Ia mengatakan, meskipun penerapan beberapa tarif terhadap kenaikan harga membantu mendorong inflasi inti di AS, inflasi umum meningkat lebih cepat di Inggris, Australia, dan India. Namun, tekanan inflasi "sangat rendah" di China dan beberapa negara Asia lainnya, mencerminkan dampak tarif terhadap permintaan ekspor mereka.

 

 

Dampak Tarif

"Kami melihat perusahaan-perusahaan menyerap sebagian dampak tarif, sehingga tampaknya hal ini menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap fakta bahwa dampak tarif terhadap inflasi sejauh ini relatif terbatas."

"Berapa lama itu akan berlangsung, saya rasa masih menjadi pertanyaan,” ia menambahkan.

Ia mengatakan, Prospek Ekonomi Dunia IMF berikutnya yang akan dirilis pada 14 Oktober akan berupaya membahas dampak tarif terhadap ekonomi dan inflasi AS, sebagaimana halnya tinjauan tahunan "Pasal IV" IMF tentang kebijakan ekonomi AS yang akan dirilis pada November.

 

 

Langkah Tepat the Fed

Kozack mengatakan, melemahnya pasar tenaga kerja AS membuat Federal Reserve tepat untuk menurunkan suku bunga acuannya pada pertemuan September, karena inflasi sedang menuju target Federal Reserve (the Fed).

Namun, ia menambahkan inflasi rentan terhadap risiko kenaikan, sehingga Fed harus terus mencermati data yang masuk untuk mengetahui tekanan inflasi saat mempertimbangkan keputusan suku bunga berikutnya.

Ditanya mengenai dampak ekonomi dari penutupan sebagian pemerintah AS yang dimulai pada hari Rabu, Kozack mengatakan, IMF sedang memantau perkembangan ini dan masih merumuskan penilaiannya.

"Dampak tersebut akan sangat bergantung pada durasi penutupan dan metode penutupan, dan kami tentu berharap dapat ditemukan kompromi untuk memastikan bahwa pemerintah federal tetap didanai sepenuhnya," Kozack menambahkan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6