Dari Gulma jadi Cendera Mata Dunia: Kisah Bengok Craft Tembus Pasar Global

Sejak 2019, Firman bersama warga sekitar memutuskan untuk tidak lagi melihat eceng gondok sebagai masalah. Mereka menjemur, menganyam, dan mengolahnya menjadi produk fashion hingga home decor yang memikat mata.

Diperbarui 04 September 2025, 16:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Semarang - Di tepian Rawa Pening, Kabupaten Semarang, tumbuh subur eceng gondok, tanaman air yang selama ini dikenal sebagai gulma pengganggu. Namun, di tangan seorang pemuda bernama Firman Setyaji, gulma itu menjelma menjadi karya bernilai tinggi lewat brand Bengok Craft.

Sejak 2019, Firman bersama warga sekitar memutuskan untuk tidak lagi melihat eceng gondok sebagai masalah. Mereka menjemur, menganyam, dan mengolahnya menjadi produk fashion hingga home decor yang memikat mata.

“Kami ingin menunjukkan bahwa eceng gondok bisa menjadi solusi, bukan hanya masalah,” ujar Firman.

 

Berdayakan Desa, Jaga Rawa Pening

Perjalanan Bengok Craft tidak sekadar bisnis. Ada tiga pilar yang dipegang teguh Firman. Pertama, meningkatkan ekonomi warga desa. Melalui keterlibatan masyarakat dalam produksi, mereka kini memiliki penghasilan tambahan. Kedua, aspek sosial.

“Kami percaya bahwa desa punya potensi besar untuk berkontribusi dalam ekonomi kreatif,” tegasnya.

Ketiga, perlindungan lingkungan. Dengan memanfaatkan eceng gondok, Bengok Craft sekaligus membantu menjaga kelestarian Rawa Pening.

“Selain membantu lingkungan, kami juga memberikan nilai ekonomi bagi warga sekitar,” imbuh Firman.

“Kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga Rawa Pening dan mengatasi masalah eceng gondok,” tambahnya.

 

Dari Rawa Pening ke Italia hingga Spanyol

Awalnya, produk Bengok Craft hanya beredar di pasar lokal. Namun, perlahan namanya mulai dikenal hingga menembus Singapura, Jepang, Italia, Dubai, dan bahkan Spanyol.

“Mayoritas yang diminati adalah produk fashion and craft, seperti tas dan sandal,” ungkap Firman.

Salah satu andalannya adalah sandal eceng gondok, unik karena bisa dipakai outdoor, berbeda dengan sandal serat alam lain yang biasanya hanya untuk indoor. Visi besar Firman sederhana namun kuat.

“Kami ingin produk kami semakin dikenal dan bisa memberikan dampak positif bagi lebih banyak orang,” ujarnya.

 

Didukung BRI, Dapat Buyer Setia

Bengok Craft tak berjalan sendiri. Lewat program BRI UMKM EXPO(RT), Firman mendapat kesempatan memperluas jejaring internasional.

“BRI sangat mendukung kami, terutama dalam hal ekspor. Setelah pameran tahun 2022, kami bahkan mendapatkan buyer langganan dari Italia,” kenangnya.

Meski sudah melangkah jauh, tantangan masih ada.

“Harapannya, produk kami semakin dikenal dan ada order yang rutin. Dengan begitu, kami bisa melibatkan lebih banyak orang dan memberikan manfaat yang lebih besar,” ujarnya penuh optimisme.

Kini, Bengok Craft bukan hanya cerita tentang mengolah gulma, tetapi juga kisah inspiratif tentang bagaimana sebuah desa kecil bisa menyentuh dunia lewat kreativitas, ketekunan, dan dukungan ekosistem yang tepat.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6