Harga Minyak Hari Ini 30 Agustus 2025, Brent dan WTI Kompak Merosot

Harga minyak Brent turun 50 sen, atau 0,73% dan ditutup pada harga USD 68,12 per barel

Diterbitkan 30 Agustus 2025, 08:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Harga minyak dunia turun pada hari Jumat (Sabtu waktu Jakarta) karena para pedagang memperkirakan permintaan minyak yang lebih lemah di AS yang merupakan pasar minyak terbesar di dunia. Selain itu, harga minyak juga terpengaruh kemungkinan adanya pergerakan di balik layar menuju kesepakatan gencatan senjata di Ukraina.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (30/8/2025), harga minyak Brent turun 50 sen, atau 0,73% dan ditutup pada harga USD 68,12 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 50 sen atau 0,73% dan ditutup pada harga USD 68,12 per barel. Harga minyak mentah berjangka turun 59 sen atau 0,91% dan ditutup pada USD 64,01 per barel.

Analis PVM Oil Associates Tamas Varga mengatakan, pasar sebagian mengalihkan fokusnya ke pertemuan OPEC+ minggu depan.

Produksi minyak mentah telah meningkat dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, karena kelompok tersebut telah mempercepat kenaikan produksi untuk mendapatkan kembali pangsa pasar, meningkatkan prospek pasokan dan membebani harga minyak global.

Namun, kata Analis senior di Price Futures Group Phil Flynn, kenaikan tersebut belum masuk ke pasar AS, di mana musim berkendara musim panas berakhir dengan libur Hari Buruh pada hari Senin, sehingga meningkatkan kekhawatiran tentang penurunan permintaan.

“Pesimisme tentang permintaan, saya tidak melihatnya. Pasokan dari OPEC seharusnya meningkat, tetapi kita tidak melihatnya di Amerika Serikat. Saya pikir situasinya akan tetap ketat," jelas Flynn.

 

Harga Minyak Naik

Harga minyak naikpada  awal minggu ini karena serangan Ukraina terhadap terminal ekspor minyak Rusia, tetapi laporan pembicaraan antara sekutu Ukraina di Eropa tentang kemungkinan gencatan senjata membantu menekan harga minyak.

Analis Bank SEB Ole Hvalbye mengatakan persediaan minyak mentah AS untuk minggu yang berakhir pada 22 Agustus menunjukkan penarikan yang lebih tinggi dari yang diharapkan, menyiratkan permintaan akhir musim panas masih kuat, terutama di sektor industri dan terkait pengangkutan,

Sementara itu, Analis komoditas Commonwealth Bank of Australia Vivek Dhar dala memperkirakan harga minyak mentah Brent turun menjadi USD 63 per barel pada kuartal keempat tahun 2025.

 

Respons India

Investor juga memperhatikan respons India terhadap tekanan dari Amerika Serikat agar berhenti membeli minyak Rusia, setelah Presiden AS Donald Trump menggandakan tarif impor dari India hingga 50% pada hari Rabu.

Sejauh ini, India telah menentang AS dan ekspor minyak Rusia ke India akan meningkat pada bulan September, kata para pedagang.

“Pandangan yang berlaku adalah bahwa sanksi Rusia tidak akan segera diberlakukan, dan India akan mengabaikan ancaman sanksi AS dan terus membeli minyak mentah Rusia dengan harga yang sangat murah,” kata Varga dari PVM. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6