Trump Tertarik Comot Mineral Kritis RI, Bahlil: Masih Omon-Omon

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump tertarik terhadap komoditas mineral kritis milik Indonesia semisal tembaga.

Diterbitkan 11 Agustus 2025, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia kembali buka suara soal ketertarikan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump terhadap komoditas mineral kritis milik Indonesia semisal tembaga.

Adapun permintaan itu jadi salah satu poin kesepakatan antara Indonesia-AS dalam proses negosiasi tarif resiprokal. Bahlil mengatakan, kedua kubu saat ini masih dalam proses pembicaraan.

"Ya masih omon-omon, lobi-lobi," kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/8/2025).

Menurut dia, permintaan Trump tersebut bakal mengikuti ketentuan program hilirisasi yang telah ditetapkan Pemerintah RI. Sehingga, Indonesia bukan akan ekspor tembaga dan komoditas mineral kritis lain dalam bentuk bahan mentah, melainkan produk olahan turunannya.

Alhasil, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tidak akan pilih kasih dalam melakukan ekspor sumber daya mineral miliknya ke setiap negara.

"Hilirisasi ini diberikan kesempatan kepada semua negara. Equal treatment untuk diberikan kesempatan. Mau China, mau Jepang, mau Amerika, mau Eropa, semuanya sama," kata Bahlil.

"Kita akan mengurus mereka, kita akan berikan kesempatan yang sama. Jadi enggak ada perlakuan khusus," Bahlil menegaskan.

 

Pengenaan Tarif Impor 19%

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tarif impor senilai 19 persen akan diberlakukan terhadap produk-produk Indonesia yang masuk ke AS, berdasarkan negosiasi langsung yang dilakukannya dengan Presiden RI Prabowo Subianto.

"Indonesia akan membayar tarif 19 persen kepada Amerika Serikat untuk semua barang impor dari mereka ke negara kita," tutur Trump terkait kesepakatan yang dicapai dengan RI dalam hal tarif impor, seperti dipantau dari media sosial Truth Social.

Berdasarkan pertemuan dengan Menteri Perdagangan AS dan Kepala USTR di Washington DC pada 9 Juli 2025, disepakati penundaan pemberlakuan tarif untuk memberi waktu tiga pekan bagi penyelesaian perundingan lanjutan.

 

 

Negosiasi Lain dan Kerjasama Mineral Kritis

Selain soal tarif, negosiasi juga mencakup hambatan non-tarif, ekonomi digital, dan kerja sama mineral kritis seperti nikel dan tembaga.

AS disebut tertarik memperkuat kemitraan strategis di sektor tersebut.

"Indonesia memiliki beberapa produk yang bagus dan mereka memiliki beberapa komoditas mineral berharga, salah satunya tembaga berkualitas tinggi," ujar Trump.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6