Jumlah PHK Naik 32%, Wamenaker: Kondisi Dunia Tak Baik-Baik Saja

Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer menuturkan, selain terjadi lonjakan PHK tetapi kawasan industri juga meningkat.

Diterbitkan 28 Juli 2025, 14:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer angkat suara terkait lonjakan angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) selama periode Januari hingga Juni 2025 yang tercatat 42.385 pekerja atau 32,19 persen meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya 32.064 pekerja terkena PHK.

Ia menegaskan, kondisi tersebut tidak bisa dilihat secara sepihak, karena ada banyak variabel yang memengaruhi, termasuk faktor eksternal dan dinamika kawasan industri.

"Yang pasti begini, ini angka lonjakan PHK memang mungkin meningkat ya, sekian persen itu tadi. Tapi begini, kita hari ini lagi melonjak kawasan-kawasan industri yang hari ini resapan tenaga kerjanya juga banyak," kata Immanuel saat ditemui di Gedung BRIN, Jakarta, Senin (28/7/2025).

Dia menuturkan, saat ini justru terjadi ekspansi kawasan industri di beberapa wilayah, seperti Sulawesi Tenggara dan Kalimantan Timur. Kawasan-kawasan ini menjadi pusat baru serapan tenaga kerja, meskipun di sisi lain data PHK juga menunjukkan kenaikan signifikan.

"Contohnya di Sultra, kemudian ada di beberapa lagi Kalimantan Timur. Jawa Barat juga, artinya ya memang kondisi global ini hari ini tidak baik-baik saja," ujarnya.

Ia juga menyinggung Jawa Barat sebagai salah satu daerah yang turut terdampak oleh ketidakstabilan global. Immanuel mengingatkan tidak semestinya publik menganggap pemerintah diam terhadap persoalan PHK.

"Kita tidak boleh juga seakan-akan bahwa pemerintah sedang tidak melakukan apa-apa. Tapi yang pasti pemerintahan Pak Prabowo sudah melakukan yang terbaik buat bangsa ini. Menekan angka pengangguran sampai dibuat lah yang namanya coba mitigasi kenapa PHK begitu banyak," ujarnya.

 

 

Mitigasi PHK

Sebagai bentuk respons terhadap gelombang PHK, Immanuel menyatakan pemerintah akan melakukan langkah-langkah intervensi. Salah satunya adalah meninjau regulasi yang dinilai menghambat dunia usaha, dengan kemungkinan direvisi bahkan dihapus.

"Makanya kita akan melakukan intervensi. Makanya ada regulasi-regulasi yang kiranya menghambat usaha, ya kita coba revisi atau kalau enggak dihapus,” ujarnya.

Langkah ini dianggap penting agar iklim usaha kembali bergairah dan mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja. Pemerintah juga disebut tengah menyusun kebijakan strategis yang diarahkan untuk menurunkan angka pengangguran.

 

Manufaktur dan Padat Karya Kian Tertekan Dampak Perang Global

Wamenaker juga menyoroti sektor manufaktur dan padat karya sebagai yang paling terdampak dari kondisi global saat ini. Ia menilai bahwa efek dari perang tarif dan ketidakpastian ekonomi dunia tidak bisa dipandang remeh.

"Yang jelas manufaktur ya, itu pastilah. Padat karya itu enggak bisa dibohongin. Dampak perang global hari ini, perang tarif ini kan kita nggak bisa menutup mata terhadap kejadian itu,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap situasi tersebut. Kebijakan dan mitigasi sedang disiapkan agar dunia industri tetap mampu bertahan dan tidak semakin banyak melakukan PHK.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6