Trump Bakal Kenakan Tarif Impor 200 % ke Produk Farmasi

Selain produk farmasi, Donald Trump juga berencana mengenakan tarif impor terhadap semikonduktor.

Diperbarui 09 Juli 2025, 16:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa ia berencana mengenakan tarif impor terhadap produk farmasi.

Mengutip Channel News Asia, Rabu (9/7/2025) Donald Trump menyebut bahwa tarif impor baru terhadap produk farmasi diperkirakan bisa mencapai 200 persen.

"Kami akan memberi waktu sekitar satu setengah tahun untuk masuk dan, setelah itu, mereka akan dikenakan tarif," kata Trump kepada wartawan dalam rapat kabinetnya di Gedung Putih.

Selain produk farmasi, Trump juga berencana mengenakan tarif impor terhadap semikonduktor.

"Jika mereka harus membawa produk farmasi ke negara ini ... mereka akan dikenakan tarif yang sangat, sangat tinggi, seperti 200 persen. Kami akan memberi mereka waktu tertentu untuk bertindak," ucapnya.

"Kami akan mengumumkan produk farmasi, chip, dan beberapa hal lainnya - Anda tahu, yang besar," beber Trump.

Namun, Presiden AS tidak memberikan rincian secara spesifik terkait waktu pengumuman tarif lainnya akan datang.

 

Jangan Bergantung

Sebelum pengenaan tarif impor, pemerintahan Trump meluncurkan investigasi terhadap industri farmasi pada bulan April 2025 sebagai bagian. Investasi itu dilakukan menyusul temuan ketergantungan yang berlebihan pada produksi obat-obatan asing yang dinilai mengancam keamanan nasional.

Menurut Trump. AS membutuhkan lebih banyak manufaktur obat agar tidak perlu bergantung pada negara lain untuk obat-obatan.

“(Rincian tentang tarif farmasi) akan tersedia pada akhir bulan", ungkap Menteri Perdagangan Howard Lutnick setelah rapat kabinet Presiden AS.

"Untuk farmasi dan semikonduktor, studi tersebut akan selesai pada akhir bulan, sehingga presiden akan menetapkan kebijakannya saat itu, dan saya akan menunggu beliau untuk memutuskan bagaimana dia akan menerapkannya," kata Lutnick.

 

Produsen Khawatir

Sementara itu, kelompok produsen obat di AS mengaku khawatir bahwa tarif dapat meningkatkan kemungkinan kekurangan dan mengurangi akses bagi pasien.

Mereka mengaku telah melobi Trump untuk menerapkan tarif secara bertahap dengan harapan dapat mengurangi dampak dan memberi mereka waktu tambahan untuk mengalihkan manufaktur.

Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki jejak manufaktur global, dan memindahkan lebih banyak produksi ke AS membutuhkan komitmen sumber daya yang besar dan bisa memakan waktu bertahun-tahun.

"Setiap dolar yang dihabiskan untuk tarif adalah satu dolar yang tidak dapat diinvestasikan dalam manufaktur Amerika atau pengembangan perawatan dan pengobatan di masa depan bagi pasien," kata Alex Schriver, juru bicara kelompok industri PhRMA.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6