Ketegangan Perang Iran-Israel Bisa Ganggu UMKM Lokal, Kenapa?

UMKM menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional. Namun, pada saat yang sama menjadi yang paling rentan terkena dampak krisis energi imbas geopolitik global.

Diterbitkan 25 Juni 2025, 21:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Anggawira mengatakan ketegangan imbas perang Iran dan Israel akan berdampak ke Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia. Hal ini bisa terjadi jika perang mengganggu stabilitas ekonomi global dan merembet ke Tanah Air.

Menurutnya, UMKM menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional. Namun, pada saat yang sama menjadi yang paling rentan terkena dampak krisis energi imbas geopolitik global.

"UMKM adalah tulang punggung ekonomi nasional. Tapi di tengah ancaman krisis energi dan geopolitik, mereka juga yang paling rentan. Kenaikan bahan bakar, bahan baku, dan logistik bisa mengguncang stabilitas usaha kecil," kata Anggawira saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (25/6/2025).

Dia turut meminta pelaku usaha swasta dan pemerintah mengambil upaya antisipasi. Misalnya melalui penguatan ekosistem digital UMKM serta membuka pasar ekspor mikro melalui agregator ekspor dan e-commerce lintas batas.

Setidaknya ada 3 poin yang menurutnya perlu dilakukan untuk memperkuat UMKM menghadapi ancaman krisis ekonomi. Pertama, akses likuiditas dan pembiayaan murah.

Kedua, pelatihan manajemen risiko dan efisiensi operasional. "(Ketiga) Konsolidasi koperasi atau platform kolektif untuk pembelian bahan baku," tegas Anggawira.

 

Biaya Produksi Naik

Dia menjelaskan perang Iran-Israel ini berisiko menambah beban pelaku usaha. Lonjakan harga energi akan berdampak ke biaya produksi, distribusi, dan bahan baku, yang pada akhirnya menggerus daya saing industri nasional.

"Pengusaha dalam negeri harus bersiap, meningkatkan efisiensi rantai pasok, diversifikasi pasar dan bahan baku, (dan) memperkuat digitalisasi usaha untuk menekan biaya," kata dia.

"HIPMI mendorong pemerintah untuk menyiapkan stimulus bagi sektor-sektor yang terdampak langsung, seperti logistik, manufaktur, dan transportasi," imbuh Anggawira.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6