Emas Batangan vs Perhiasan: Mana yang Tepat untuk Investasi?

Harga emas Antam sempat mencapai Rp 2.016.000 per gram, dan harga buyback pembelian kembali tertinggi Rp 1.865.000 per gram.

Diterbitkan 25 Juni 2025, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pilihan investasi makin beragam, dari yang berisiko tinggi hingga berbasis teknologi. Tapi, emas tetap bertahan sebagai favorit lama yang tak kehilangan pamornya. Emas tidak menjanjikan lonjakan drastis, tapi menghadirkan rasa aman. Sebab, tahan terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

Harga emas Antam sempat mencapai Rp 2.016.000 per gram, dan harga buyback pembelian kembali tertinggi Rp 1.865.000 per gram. Sayangnya, tak sedikit yang salah kaprah. Beberapa dari mereka tidak tahu cara memanfaatkan emas dengan benar. 

Perencana keuangan, Safir Senduk menyebut edukasi terkait investasi emas di masyarakat sangat minim. Banyak yang membeli emas bukan karena paham, tapi karena ikut-ikutan.

Bahkan ketika kata "emas" disebut, banyak orang langsung membayangkan berbagai jenis perhiasan. Mulai dari kalung, cincin, atau gelang. Padahal persepsi tersebut perlu diluruskan. Tidak semua perhiasan itu emas, dan tidak semua emas cocok dijadikan perhiasan.

Banyak perhiasan yang berlapis emas atau bahkan bukan emas sama sekali. Misalnya perak, kuningan, hingga logam campuran. 

“Emas itu identiknya dengan logam mulia sebenarnya. Karena kalau mengidentikan emas dengan perhiasan, perhiasan itu enggak selalu emas. Banyak juga perhiasan yang bukan emas,” kata Safir kepada Liputan6.com, dikutip Rabu (25/6/2025).

Safir menyebut perhiasan hanya menarik sebagai aksesoris penampilan saja, bukan alat investasi yang ideal. Terdapat beberapa alasannya. Pertama, perhiasan mengandung ongkos pembuatan, semakin rumit desainnya semakin mahal. Namun ketika perhiasan tersebut dijual kembali, ongkos tersebut hilang. Artinya sudah rugi diawal.

Lalu adanya tren dan model. Perhiasan yang dibeli saat ini kemungkinan tidak lagi diminati beberapa tahun kemudian. Alasan selanjutnya yaitu kadar emas dalam perhiasan lebih rendah dibanding logam mulia batangan. Dia pun menyarankan masyarakat untuk mulai melirik logam mulia yang berbentuk batangan sebagai pilihan investasi utama.

“Kadar emas yang didapat lebih banyak pada batangan. Kenapa? karena kadarnya 99,99 person itu emas semua isinya. Sementara perhiasan kadar emas yang didapat lebih sedikit,” ucapnya.

Emas Alat Penyimpan Nilai

Safir juga mengimbau kepada masyarakat untuk mengetahui jenis investasi seperti apa yang dipilih saat akan membeli emas. Ada dua pendekatan utama. Yaitu membeli untuk dijual kembali saat harga naik. Kemudian membeli untuk disimpan jangka panjang sebagai pelindung nilai.

“Kalau saran saya jadikan emas bukan sebagai investasi untuk dijual beli, tapi untuk dipegang selamanya alias sebagai alat penyimpan nilai,” ujar Safir.

Strategi ini menempatkan emas sebagai penyimpan kekayaan antargenerasi. Bukan semata soal untung-rugi dalam jangka pendek, tapi lebih pada ketahanan nilai dalam jangka panjang. Dalam dunia investasi yang penuh gejolak, emas bisa menjadi jangkar yang stabil. 

Selain itu, Safir menyebut terdapat kesalahan umum lainnya yang sering terjadi saat imgim investasi emas yaitu waktu pembelian. Banyak orang justru tergoda membeli emas saat harganya sedang naik. Ini karena rasa takut ketinggalan atau sekadar panik.

“Ketika harga naik, orang ramai-ramai beli. Tapi begitu turun, malah buru-buru jual. Padahal seharusnya sebaliknya,” lanjutnya.

 

Beli Rutin, Jangan Sekali Besar

Investasi emas juga bukan soal berapa besar jumlah yang dibeli, tapi seberapa konsisten. Safir menyarankan untuk membeli dalam jumlah kecil namun rutin, ketimbang sekali besar. Selain lebih aman, cara tersebut juga membuat seseorang lebih peka terhadap pergerakan harga.

“Kalau kamu beli sekali banyak, dan harga tiba-tiba turun, kamu akan rugi besar. Tapi kalau beli sedikit-sedikit dan rutin, harga beli kamu bisa dirata-ratakan,” kata dia.

Lalu untuk penyimpanannya, Safir mengimbau masyarakat untuk menyimpan emas di rumah. Jika khawatir risiko pencurian, dapat menggunakan brankas kecil tahan api. Langkah kedua, dapat menyewa safe deposit box di bank. Biasanya terdapat biasa sewa dan lebih aman.

Sementara itu, di tengah kemajuan teknologi, kini tersedia emas digital. Tanpa perlu memegang fisik logam, seseorang bisa berinvestasi emas hanya lewat aplikasi. Safir menyebut emas digital menjawab kebutuhan Generasi Z hingga Alpha yang tidak suka pegang barang. 

Namun yang penting kata dia, masyarakat perlu tahu bahwa emas digital itu tetap dijamin oleh emas fisik. Artinya, di balik setiap gram emas digital dimiliki, ada emas batangan sungguhan yang disimpan oleh penyedia layanan.

Regulasi pun sudah ada. Penyedia emas digital diwajibkan memiliki cadangan emas fisik sebesar jumlah yang mereka jual. Bahkan, emas digital bisa dikonversi menjadi batangan sewaktu-waktu, jika diinginkan.

“Itulah edukasi yang banyak orang belum tahu dan enggak ada yang kasih edukasi ke masyarakat. Emas digital itu dijamin dengan emas batangan beneran,” Safir menandaskan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6