Konsumsi Masyarakat Melemah, Apindo Sambut Baik Stimulus Ekonomi

Pengusaha menyambut baik langkah pemerintah dalam merespons pelemahan ekonomi dengan meluncurkan enam program insentif pada Juni 2025.

Diterbitkan 28 Mei 2025, 19:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat pelemahan konsumsi masyarakat pada kuartal I-2025 ini. Paket kebijakan stimulus ekonomi digadang bisa menjadi jawaban untuk menjaga daya beli.

Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia 4,87 persen di kuartal I-2025 menjadi yang terendah dalal beberapa tahun terkahir. Tren yang sama diperlihatkan melemahnya konsumsi masyarakat dengan pertumbuhan hanya 4,89 persen di periode tersebut.

"Kondisi ini mencerminkan tekanan nyata terhadap daya beli masyarakat, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Dalam konteks inilah, kehadiran stimulus berbasis konsumsi menjadi sangat relevan untuk meningkatkan kembali perputaran ekonomi domestik," kata Shinta saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (28/5/2025).

Dia mengaku menyambut baik langkah pemerintah dalam merespons pelemahan ekonomi dengan meluncurkan enam program insentif pada Juni 2025.

"Kami menilai ini sebagai langkah cepat untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendukung pemulihan aktivitas ekonomi, khususnya di sektor konsumsi rumah tangga yang menjadi motor utama pertumbuhan nasional," ucapnya.

"Kombinasi antara bantuan langsung seperti subsidi upah dan bansos pangan, dengan stimulus konsumsi melalui diskon listrik, transportasi, dan tarif tol, diharapkan dapat menciptakan multiplier effect bagi sektor riil," tambah Shinta.

 

Insentif ke Kelas Menengah

Diberitakan sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani meminta pemerintah turut menjaga daya beli dari masyarakat kelas menengah. Melihat peran kelas menengah cukup besar ke pertumbuhan ekonomi.

Shinta mengatakan, paket kebijakan stimulus ekonomi yang akan diambil pemerintah harus bisa dijalankan secara optimal. Tujuannya agar memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi di kuartal II dan kuartal III tahun 2025 ini. Syaratnya, kelompok masyarakat kelas menengah turut mendapatkan insentif.

"Pemerintah juga perlu memastikan bahwa insentif ini mencakup kelompok ekonomi menengah, yang kontribusinya terhadap konsumsi domestik sangat signifikan namun seringkali terabaikan dalam pemberian dukungan," kata Shinta saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (28/5/2025).

 

Jumlah Kelas Menengah Turun

Dia menyoroti menurunnya jumlah kelas menengah di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Data yang dikantonginya mencatat, pada 2019-2024 jumlah kelas menengah turun sebanyak 9,5 juta orang.

Dia kembali mewanti-wanti pelaksanaan paket kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat itu perlu dijalankan secara terukur.

"Efektivitas program perlu disertai eksekusi yang tepat waktu dan terkoordinasi, agar dampaknya benar-benar terasa dalam kuartal II dan III yang menjadi periode penentu pemulihan pertumbuhan tahun ini," tandasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6