Suka Duka Mudik Lebaran, Perjalanan Panjang Demi Kebersamaan

Meskipun penuh tantangan, kebahagiaan bertemu orang-orang tercinta tetap menjadi prioritas utama bagi para pemudik.

Diterbitkan 15 Maret 2025, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mudik lebaran selalu menjadi momen yang dinanti-nanti bagi perantau di berbagai kota besar, termasuk Jakarta. Setiap tahunnya, jutaan orang berbondong-bondong pulang ke kampung halaman demi merayakan Idul Fitri bersama keluarga.

Namun, di balik kebahagiaan bertemu sanak saudara, mudik juga sering kali diwarnai berbagai tantangan, mulai dari lonjakan harga tiket, perubahan jadwal perjalanan, hingga kewajiban pekerjaan yang menghambat kepulangan.

Salah satu kisah datang dari Heri (29), seorang karyawan di Jakarta yang harus menunda kepulangannya ke Klaten. Dia mengungkapkan kekecewaannya karena harus tetap bekerja pada hari H-Lebaran akibat perubahan jadwal piket mudik dari kantornya.

Awalnya, Heri telah mendapatkan tiket mudik gratis untuk tanggal 29 Maret. Namun belakangan, dia mendapat jadwal piket pada 31 Maret, yang bertepatan dengan hari raya Idul Fitri.

“Tadinya saya sudah dapat tiket mudik gratis dari kantor untuk tanggal 29 Maret. Tapi seminggu kemudian keluar jadwal piket baru, dan ternyata saya dapat di tanggal 31 Maret. Itu kemungkinan pas hari H Lebaran, saat sholat Ied,” ujarnya kepada Liputan6.com, ditulis Sabtu (15/3/2025).

Karena kesulitan mencari rekan pengganti untuk bertukar jadwal piket, Heri pun terpaksa tetap di Jakarta saat hari raya. Bagi Heri, ini adalah kali pertama ia tidak bisa merayakan takbiran dan sholat Ied bersama keluarganya di Klaten.

Pada tahun-tahun sebelumnya, Heri terbiasa berkumpul bersama keluarga, berangkat sholat Ied bersama, dan mengunjungi sanak saudara setelahnya. Namun tahun ini, ia harus menjalani malam takbiran di perantauan.

“Nanti malam takbiran di kosan pasti sepi. Mungkin saya akan main ke teman biar nggak sendirian banget,” katanya.

 

Tetap akan Pulang

Meskipun begitu, ia tetap berusaha menerima kenyataan dan berencana pulang ke kampung halaman , segera setelah mendapat giliran libur.

“Mungkin saya pulang tanggal 31 malam atau 1 April naik bus. Biasanya tiket bus masih ada, meskipun harganya lebih mahal di musim Lebaran,” imbuh Heri.

Harry memperkirakan biaya perjalanan mudiknya dengan kereta ke Klaten berkisar antara Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu. Sedangkan tiket bus yang biasanya hanya Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu, bisa naik hingga Rp 500 ribu saat Lebaran.

Dengan segala keterbatasan yang ada, Harry berharap bisa tetap merasakan suasana Lebaran meski jauh dari keluarga. “Mau nggak mau, hidup harus terus berjalan,” pungkasnya.

 

Rayakan Idul Fitri di Dua Kota

Di sisi lain, ada pula kisah Ika yang merayakan Idul Fitri di dua kota setelah menikah, yakni di Madiun dan Banyuwangi. Tahun ini, ia dan keluarganya akan mengunjungi Banyuwangi lebih dulu, lalu berangkat ke Madiun pada H+2.

Ia mengakui perjalanan tersebut cukup melelahkan karena harus menempuh perjalanan dari ujung barat ke ujung timur Pulau Jawa.

“Awalnya, saya berencana naik pesawat saja bersama anak dan langsung menuju Banyuwangi. Namun, dengan berbagai pertimbangan, termasuk biaya akomodasi, kami memutuskan untuk naik mobil pribadi,” ungkapnya.

Keputusan ini juga dipengaruhi oleh jadwal kerja yang padat.

“Berhubung saya dan suami masih bekerja hingga H-3 Idul Fitri, anak saya pulang duluan sama mama saya ke Madiun sekitar tanggal 22 Maret 2025. Jadi sebelum ke Banyuwangi, nanti saya mampir dulu ke Madiun sembari istirahat, lalu melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi bersama anak saya,” tambahnya.

 

Menanti Cucu

Sebagai cucu pertama dari kedua belah pihak keluarga, anak Ika sangat dinanti-nantikan di kampung halaman. “Jadi meski banyak perhitungan, tapi perjumpaan dengan keluarga besar yang jarang ini menjadi momen bahagia. Biar adil juga,” kata Ika dengan penuh antusiasme.

Mudik memang bukan sekadar perjalanan pulang, tetapi juga tentang kebersamaan dan kenangan yang akan selalu diingat oleh setiap anggota keluarga. Meskipun penuh tantangan, kebahagiaan bertemu orang-orang tercinta tetap menjadi prioritas utama bagi para pemudik.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6