Sukses

Bos KCIC Buka Alasan Minta Konsesi Kereta Cepat Jakarta-Bandung Diperpanjang Jadi 80 Tahun

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Dwiyana Slamet Riyadi meminta perpanjangan konsesi proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) menjadi 80 tahun. Berbedanya hitungan antara studi awal di 2017 dan 2022 menjadi salah satu alasan.

Dwiyana menyampaikan, mengacu pada feasibility study (FS) pada 2017, konsesi cukup selama 50 tahun. Hanya saja, melihat berbagai dinamika proyek, Kereta Cepat Indonesia China meminta konsesi ditambah 30 tahun, menjadi total 80 tahun.

"Terkait dengan konsesi permohohan kami sampai 80 tahun, itu lebih karena memang melihat ada beberpaa asumsi yang sudah berubah," kata dia dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR RI, ditulis Jumat (9/12/2022).

Pertama, adanya perbedaan soal perkiraan penumpang per hari, pada 2017, diperkirakan KCJB mampu mengangkut sebanyak 61.157 penumpang per hari. Sementara, perhitungan terbaru menunjukkan jumlah angkut hanya mencapai 31.125 penumpang per hari. Penurunan ini, kata Dwiyana, imbas dari adanya pandemi Covid-19.

"Kalau semula perhitungan di awal, di feasibility study awal 60 ribu, berdasarkan perhitungan terbaru, 30 ribu. Tentunya penurunan demand forecast ini pastinya akan mempengaruhi perhitungan review feasibility study yang sedang kami lakukan pak," ujarnya.

"Kemudian terkait adanya penambahan biaya dan yang ketiga bahwa dalam asumsi feasibility study awal itu revenue stream untuk KCIC atau proyek KCJB itu didalamnya termasuk pengembangan TOD," tambah Dwiyana.

Proyek TOD ini menurut rencana awal adalah memasukkan lahan milik PTPN VIII di daerah Walini, Jawa Barat. Dengan memasukkan ini, maka ada satu tambahan daftar pemasukan untuk KCIC. Namun, karena terkendala berbagai syarat, akhirnya TOD tak lagi masuk rencana KCIC.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Hitung-Hitungan Konsesi 80 Tahun

Mengutip paparan Dwiyana, ada beberapa aspek yang jadi perhitungan mengenai konsesi KCJB selama 80 tahun. Ini menyusul adanya perhitungan terbaru mengenai prediksi penumpang hingga besarnya pembengkakan biaya.

Simulasi Konsesi 80 tahun ini mengacu pada perhitungan KPMG Beijing. Ini mencakup masa pinjaman dana operasional, hingga masa balik modal dari operasional.

Dari sisi pinjaman dana operasional atau cash deficiency, PT KCIC akan mendapatkan pinjaman USD 1,6 miliar yang dibiayai melalui utang dari pemegang saham atau shareholder loan dengan tingkat bunga 3,7 persen per tahun. Kemudian, masa total cash deficiency ini selama 18 tahum

Lalu, project Internal Rate of Return (IRR) sebesar 5,02 persen, dan equity IRR sebesaar 6,48 persen. Dengan begitu, balik modal diprediksi bisa didapat dalam rentang 38-55 tahu.

 

3 dari 3 halaman

Investasi di Sektor Lain

Lebih lanjut, Dwiyana mengungkap kalau panjangnya masa konsesi ini juga merujuk pada investasi di sektor lain. Contohnya, kata dia, investasi di bandara dan pelabuhan.

"Jadi melihat bahwa dari sisi regulasi, kita tidak ada penyimpangan, yang kedua juga kita melihat benchmark dengan adanya masa konsesi untuk investasi di infrastruktur jalan udara, bandara dan juga pelabuhan laut. Itu rata-rata juga 80 tahun," ungkapnya.

"Artinya mestinya, kereta api, tidak hanya kereta api cepat, kereta api biasa pun mestinya akan mendapat equal treatment dari pemerintah. Jadi konsesi bisa sampai 80 tahun," sambung Dwiyana.

Di sisi lain, biaya pembebasan lahan yang ditanggung KCIC menjadi alasan tambahan lainnya. "Apalagi kita melihat KCIC sendiri, terkait pengadaan lahan itu dibiayai oleh KCIC. Sementara kalau kita kihat di jalan tol kemudian di kereta api yang lain dibayar oleh pemerintah," pungkas Dwiyana.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS