Sukses

Hilirisasi Nikel Bikin Ekspor Besi Baja Meroket 18 Kali Lipat

Liputan6.com, Jakarta Indonesia baru saja merayakan Hari Ulang Tahun ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia. Di usianya yang cukup matang itu, ekonomi Indonesia bisa dikatakan relatif stabil dan pulih lebih cepat dari dampak pandemi di tengah guncangan perekonomian global.

Salah satu indikator dari kondisi itu adalah kian tampaknya peran vital sektor industri bagi perekonomian Indonesia. Sektor manufaktur sudah berada on the right track, yang ditunjukkan dengan dominasi produk-produk hilir pada struktur ekspor Indonesia.

Keberhasilan Indonesia dengan program hilirisasi dan manufaktur itu juga diungkapkan Presiden Joko Widodo ketika menyampaikan pidato pada Sidang Tahunan MPR RI di Kompleks Parlemen, Gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin (16/8/2022), lalu.

Presiden Jokowi menyatakan, kebanggaannya bahwa hilirisasi dan manufaktur di dalam negeri terus tumbuh pesat. Menurut Presiden Jokowi, pertumbuhan itu juga diikuti dengan investasi yang juga meningkat tajam.

“Bahkan dari total investasi, sebanyak 52 persen di antaranya, berada di luar Jawa. Artinya, ekonomi kita bukan hanya tumbuh pesat, tetapi juga tumbuh merata, menuju pembangunan yang Indonesia Sentris," ujar Presiden.

Kepala Negara menambahkan, dengan kekuatan dan peluang besar tersebut, seluruh elemen masyarakat Indonesia mempunyai kesempatan besar untuk membangun Indonesia yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Kesempatan besar dimaksud berupa hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam.

Hilirisasi nikel, misalnya, telah meningkatkan ekspor besi baja sebanyak 18 kali lipat. Pada 2014, hanya sekitar Rp16 triliun. Pada 2021 meningkat menjadi Rp306 triliun.

“Di akhir 2022 ini, kita harapkan bisa mencapai Rp440 triliun. Itu hanya dari nikel,” ujar Presiden Jokowi.

 

Selain penerimaan pajak, devisa negara juga naik, sehingga kurs rupiah lebih stabil. Sekarang ini, Indonesia telah menjadi produsen kunci dalam rantai pasok baterai litium global.

Produsen mobil listrik dari Asia, Eropa, dan Amerika ikut berinvestasi di Indonesia. Setelah nikel, pemerintah juga akan mendorong hilirisasi bauksit, tembaga, dan timah. Menurut Kepala Negara, Indonesia harus membangun ekosistem industri di dalam negeri yang terintegrasi, yang akan mendukung pengembangan ekosistem ekonomi hijau dunia.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 3 halaman

Dongkrak Kinerja Industri

Pernyataan Presiden Joko Widodo juga diamini oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Menurutnya, pihaknya terus melakukan pelbagai upaya untuk mendongkrak kinerja sektor industri.

Pasalnya, Menteri Agus menambahkan, kontribusi di sektor itu terhadap pertumbuhan ekonomi sangat besar. Bahkan, sektor itu berperan dalam pembangunan Indonesia yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

“Seperti yang disampaikan Presiden Joko Widodo pada pidato di sidang tahunan, kekuatan yang kita miliki merupakan modal kuat untuk membangun Indonesia,” ujar Agus Gumiwang.

Menurut Agus, penghiliran dan industrialisasi menjadi modal utama bagi industri manufaktur dalam negeri untuk bisa melesat dan menunjukkan performa yang lebih baik pada tahun depan. Kinerja manufaktur pun diharapkan bisa melesat seiring dengan bertambahnya usia Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Kemampuan yang dimiliki merupakan modal kuat, termasuk kemampuan penghiliran dan industrialisasi untuk memaksimalkan nilai tambah bagi kepentingan nasional,” katanya.

Menperin menyampaikan, upaya-upaya yang telah ditempuh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menunjukkan bahwa pertumbuhan investasi dalam dua tahun terakhir, bahkan mencapai dua digit. Indikator itu bisa terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menggambarkan sektor industri nonmigas tetap tumbuh positif di angka 6,91 persen pada 2021, setelah pada triwulan II-2020 mengalami pertumbuhan minus -5,74 persen.

Pada triwulan II-2022, pertumbuhan industri tercatat sebesar 4,33 persen. Namun demikian, Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia terus berada di level ekspansif sejak November 2020 dan terus menguat sepanjang 2021 hingga saat ini, terkecuali pada Juli dan Agustus akibat merebaknya varian Delta.

“Hal ini menunjukkan kepercayaan diri, daya adaptasi, dan resiliensi sektor industri di masa pandemi, sekaligus optimisme yang tinggi di sektor industri manufaktur dalam menilai prospek ekonomi Indonesia ke depan,” ungkap Menperin.

 

3 dari 3 halaman

Kemajuan Industri Manufaktur

Namun demikian, harapannya sejumlah pencapaian itu tidak membuat Kemenperin dan seluruh pemangku kepentingan di sektor itu berpuas diri. Di bawah komando Agus Gumiwang Kartasasmita, beberapa program prioritas diusung untuk bisa memastikan kemajuan manufaktur di tahun depan.

Pertama, mendorong penambahan komoditas untuk neraca perdagangan.

“Ini penting untuk menjamin pasokan bahan baku atau bahan penolong, dan mendukung nilai tambah, serta penghiliran di dalam negeri,” jelasnya.

Kedua, perluasan penerima Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) untuk industri yang diklaim bisa memperkuat resiliensi, serta daya saing industri pengguna gas.

Ketiga, mengintensifkan upaya peningkatan penggunaan produk dalam negeri yang notabene merupakan prioritas Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Keempat, Kemenperin mengintensifkan upaya revitalisasi industri melalui program pendidikan dan pelatihan vokasi, program Making Indonesia 4.0, program nilai tambah dan daya saing industri, serta restrukturisasi mesin dan peralatan industri.

Kelima, menjaga kinerja investasi melalui berbagai skema kemudahan insentif, seperti tax holiday dan tax allowance, serta memacu tumbuhnya kawasan-kawasan industri baru.

Keenam, meningkatkan ekspansi produksi yang ditempuh dengan penyederhanaan bea masuk dan perizinan impor bahan baku utama industri.

Ketujuh, penataan ulang ketersediaan infrastruktur pendukung logistik baik domestik maupun kebutuhan ekspor dan impor, serta penetapan kebijakan fiskal DTP (Bea masuk yang ditanggung pemerintah) untuk komoditas tertentu dengan pohon industri yang panjang dan nilai tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) tinggi.

Bila semua yang diagendakan dijalankan dengan baik, sektor penghiliran dan manufaktur Indonesia akan melesat dan terbang jauh lebih tinggi lagi.

Untuk mencapai semua itu memang tidak mudah. Tapi bangsa ini memiliki modal kuat untuk menghadapi berbagai tantangan. Sehingga, mampu melampauinya dengan baik di tengah pandemi.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.