Sukses

Lockdown Covid-19 di China Ancam Bisnis Starbucks hingga Microsoft

Liputan6.com, Jakarta - Merek-merek internasional mengungkapkan dampak dari kebijakan nol Covid-19 di China, di mana puluhan juta orang menghadapi lockdown, membuat hampir semua bisnis besar terganggu.

Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah kota di China, termasuk pusat keuangan Shanghai, telah dilockdown saat pihak berwenang berupaya menekan gelombang baru Covid-19.

Dilansir dari CNN Business, Rabu (11/5/2022) industri mulai dari Big Tech hingga barang-barang konsumen, lockdown berkepanjangan menghancurkan baik penawaran maupun permintaan — membuat para eksekutif pusing lagi.

Ditambah lagi, banyak perusahaan dari negara Barat yang baru saja mengalami kerugian jutaan, atau miliaran dolar akibat perang di Ukraina, yang menyebabkan eksodus perusahaan besar-besaran dari Rusia.

Beberapa perusahaan besar Amerika yang beroperasi di China telah menunda membuat perkiraan pendapatan mereka karena melihat hambatan akibat lockdown di negara itu.

Starbucks pekan lalu menangguhkan panduan keuangan selama enam bulan ke depan, dengan CEO Howard Schultz menyebutnya "satu-satunya tindakan yang bertanggung jawab."

"Situasi di China belum pernah terjadi sebelumnya," ungkap Schultz kepada analis pada panggilan pendapatan.

"Kondisi di China sedemikian rupa sulit sehingga kami hampir tidak memiliki kemampuan untuk memprediksi kinerja kami di China pada paruh pertama tahun ini," jelasnya.

China merupakan pasar terbesar kedua Starbucks.

Kering, pemilik Gucci dan Bottega Veneta, mengatakan bulan lalu bahwa pihaknya juga merasakan dampak lockdown di China, dengan penurunan tajam dalam penjualan, penutupan toko, hingga tantangan logistik.

"Situasinya mudah-mudahan sementara," kata Chief Financial Officer Kering, Jean-Marc Duplaix.

Adapun Microsoft, yang juga mengungkapkan pemberhentian produksi di China telah berdampak pada pasokannya untuk laptop Surface dan konsol Xbox, dan berpotensi "berdampak besar" pada kinerja kuartalannya, dengan sebagian besar produksi pembuat PC dilakukan di negara tersebut.

2 dari 3 halaman

Industri Otomotif di China Melihat Penurunan Penjualan

Industri otomotif global yang berbisnis di China juga sangat terpukul, dengan menutup sementara pabrik, mengalami penurunan penjualan atau harus menunda peluncuran mobil baru.

Dua pembuat mobil terbesar dunia, Volkswagen dan Toyota, keduanya terpaksa menangguhkan produksi selama berminggu-minggu baru-baru ini.

Sementara kedua perusahaan sejak itu melanjutkan produksi, mereka memperingatkan hanya akan memproduksi secara bertahap karena hambatan rantai pasokan berlanjut.

Tesla, yang menjalankan Gigafactory di Shanghai, juga berhasil memulai kembali produksi bulan lalu setelah penutupan beberapa minggu, tetapi perusahaan kendaraan listrik itu mungkin telah mengalami hambatan lain.

Menurut Ben Cavender, direktur pelaksana konsultan China Market Research Group, krisis yang dipicu dari lockdown ini mengingatkan akan pentingnya China bagi perusahaan global

"Suka atau tidak, pada titik ini jika Anda adalah perusahaan multinasional, China mungkin adalah pasar konsumen terbesar pertama atau kedua Anda," kata Cavender.

"Dan itu mungkin basis produksi utama Anda, atau itu bertanggung jawab atas sejumlah besar pekerjaan rantai pasokan Anda," ujarnya dalam sebuah wawancara dari Shanghai.

3 dari 3 halaman

Warga China Lebih Khawatirkan Bahan Pokok Ketimbang Berbelanja

Tetapi Cavender melanjutnya, berbelanja mungkin belum menjadi kekhawatiran bagi warga di China saat ini. 

"Terus terang, konsumen saat ini tidak khawatir membeli lipstik atau kopi," kata Cavender.

"Mereka benar-benar jauh lebih fokus untuk mendapatkan (kebutuhan sehari-hari)," ujarnya.

Di Shanghai, misalnya, lockdown pada awalnya menyebabkan perebutan besar-besaran untuk makanan dan keluhan yang meluas tentang kesulitan menerima pengiriman.

Sekarang, bahkan ketika akses meningkat, banyak warga yang berkonsentrasi pada "pembelian kelompok", yang memungkinkan pengguna yang tinggal di komunitas yang sama untuk memesan dalam jumlah besar bersama-sama untuk bahan makanan dan kebutuhan pokok lainnya.

Bahkan mereka yang tidak terjebak di rumah mungkin akan terpengaruh.

Konsumen yang tinggal di kota-kota tanpa batasan mungkin juga ragu untuk pergi keluar dan pergi ke mal, karena takut akan "apa yang terjadi di Shanghai," di mana orang-orang tetap terkunci tanpa batas, menurut Cavender.

"Ini merupakan hambatan negatif yang sangat besar pada konsumsi," bebernya.