Sukses

Kinerja Industri Jasa Keuangan kuartal I 2022 Stabil, Kredit Tumbuh 6,67 Persen

Liputan6.com, Jakarta - Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK akhir April 2022 mencatat sektor jasa keuangan kuartal I 2022 tetap terjaga dan bertumbuh seiring peningkatan fungsi intermediasi di sektor perbankan dan IKNB, serta menguatnya pasar domestik.

Dikutip dari keterangan OJK, Selasa (10/5/2022), stabilnya sektor jasa keuangan dan terkendalinya pandemi yang meningkatkan aktivitas sosial ekonomi masyarakat telah mendorong pertumbuhan perekonomian nasional, meskipun terdapat peningkatan tensi geopolitik di Eropa dan normalisasi kebijakan moneter global.

Di sisi lain IHSG mencatatkan all time high pada level 7.276,19 (21/4) dengan penghimpunan dana mencapai Rp85 triliun dengan penambahan 20 emiten baru per 26 April 2022. Hal ini menunjukkan optimisme investor domestik maupun global atas perekonomian domestik yang terus pulih.

Sementara, fungsi intermediasi perbankan pada bulan Maret 2022 kembali mencatatkan tren positif dengan pertumbuhan kredit sebesar 6,67 persen yoy dengan seluruh kategori debitur mencatatkan kenaikan, terutama UMKM dan ritel.

Secara sektoral, mayoritas sektor utama mencatatkan kenaikan kredit secara mtm, terutama perdagangan, manufaktur, dan rumah tangga masing-masing sebesar Rp 20,2 triliun, Rp 19,3 triliun, dan Rp 16,7 triliun.

Hal tersebut mencerminkan dukungan perbankan dalam pemulihan ekonomi nasional terus membaik. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh sebesar 9,95 persen yoy terutama didorong oleh giro yang tumbuh sebesar Rp 88,56 triliun.

Selanjutnya, profil risiko lembaga jasa keuangan pada Maret 2022 masih terjaga dengan rasio NPL gross menurun menjadi 2,99 persen dan rasio NPF Perusahaan Pembiayaan stabil di level 2,78 persen.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Likuiditas Perbankan

Walaupun terdapat penyesuaian likuiditas perbankan sebagai dampak kebijakan kenaikan GWM Bank Indonesia, namun likuiditas industri perbankan pada Maret 2022 masih berada pada level yang sangat memadai. Ini tercermin dari rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit dan Alat Likuid/DPK masing-masing sebesar 143,64 persen dan 32,11 persen, di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen.

Dari sisi permodalan, perbankan mencatatkan permodalan yang relatif stabil pada Maret 2022 tercatat sebesar 24,80 persen atau jauh di atas threshold. Sementara, industri asuransi jiwa dan asuransi umum mencatatkan RBC yang juga meningkat masing-masing sebesar 535,4 persen dan 322,3 persen yang berada jauh di atas threshold 120 persen.

Begitu pula gearing ratio perusahaan pembiayaan yang tercatat sebesar 1,94 kali atau jauh di bawah batas maksimum 10 kali.

Demikian, OJK secara konsisten terus melakukan asesmen terhadap perekonomian dan sektor jasa keuangan bersama Pemerintah, otoritas, serta stakeholders lainnya dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah momentum pemulihan ekonomi nasional.

 

3 dari 3 halaman

OJK: Restrukturisasi Kredit hingga Februari 2022 Capai Rp 638 Triliun

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, restrukturisasi kredit hingga Februari 2022 mencapai Rp 638,22 triliun dengan jumlah debitur 3,7 juta. Hal itu disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam Focus Group Discussion (FGD) Redaktur “Perkembangan Kinerja Pengaturan dan Pengawasan Sektor Jasa Keuangan”, dikutip Selasa, (26/4/2022).

Berdasarkan data OJK, total restrukturisasi kredit hingga Februari 2022 turun sebesar Rp 25,27 triliun dibandingkan posisi akhir tahun 2021 lalu yakni Rp 663,49 triliun menjadi Rp 638,22 triliun.

Sedangkan, jika dibandingkan total restrukturisasi kredit tahun 2020 yang mencapai Rp 829,71 triliun, jumlahnya turun hingga Rp 191,49 triliun pada Februari 2022.

Wimboh menyebut, kredit perbankan melanjutkan tren positif dengan tumbuh sebesar 6,33 persen year on year pada Februari 2022. Adapun rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) terkendali dengan baik di level 3,08 persen dan nett sebesar 0,87 persen.

IHSG

Di sisi lain, Wimboh juga memaparkan terkait kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat lebih tinggi dari periode sebelum pandemi, bahkan telah mencatatkan rekor all time high. Tercatat IHSG 22 April mencapai 7.225,61 alias naik 9,79 persen year to date dibanding IHSG 20 Desember 2021 yang mencapai 6.581,48.

Kemudian, untuk minat penghimpunan dana tetap terjaga, dari sisi demand side terlihat investor pasar modal terus meningkat signifikan di tengah pandemi menjadi 8,4 juta pada bulan Maret 2022, mayoritas oleh investor ritel.

Rata-rata investor ritel berusia kurang lebih 30 tahun semakin mendominasi dibandingkan tahun lalu. Selain itu, nilai dan frekuensi transaksi juga meningkat pada awal maret 2022.