Sukses

Tips Dapat Beasiswa LPDP S2-S3 Luar Negeri Bagi PNS

Liputan6.com, Jakarta Melanjutkan pendidikan saat telah menjadi PNS seringkali menjadi polemik tersendiri. Butuh dorongan lebih kuat dari dalam diri dan dukungan dari orang-orang sekitar serta instansi yang dinaungi untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi seperti S2-S3.

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) berbagi tips untuk PNS yang ingin meraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk lanjut kuliah ke luar negeri.

Informasi tersebut coba dibagikan oleh tiga pegawai Kementerian PANRB yang telah menamatkan program magister dan doktornya di berbagai universitas luar negeri. Salah satunya Ceria Oktora, Perencana Pertama di Sekretariat Kementerian PANRB. Menurutnya, persiapan yang matang adalah kunci untuk meraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

"Persiapan adalah kunci. Terutama harus mempersiapkan bahasa karena itu yang akan membuat kita bertahan di sana," kata perempuan yang meraih gelar masternya di Universitas of Bristol, Inggris, dikutip dari keterangan resmi Kementerian PANRB, Kamis (20/1/2022).

Gigih dan pantang menyerah jadi dua hal yang wajib dimiliki para pejuang beasiswa, karena persiapan diri tersebut termasuk melakukan berbagai riset dan mendaftarkan diri ke universitas yang dituju.

Selain mencari topik untuk pengajuan penelitian yang ingin dipelajari, para pencari beasiswa juga disarankan untuk melakukan riset sebelum mendaftar beasiswa. Termasuk mencari tahu secara komprehensif terkait beasiswa yang ada, jurusan dan perguruan tinggi yang diinginkan, hingga biaya hidup yang ditanggung.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Motivational Letter

Selain itu, juga diperlukan motivational letter yang menjual agar berpotensi menjadi penerima beasiswa tersebut. “Buat personal statement yang to the point, apa dan bagaimana ilmu yang kita dapatkan nanti dapat digunakan di kemudian hari," imbuhnya.

Perjuangan panjang untuk bisa melanjutkan pendidikan tersebut tidak berhenti sampai disana. Dia juga harus menghadapi pandemi di negeri rantau dan melihat teman-teman seangkatannya menghadapi rasisme akibat merebaknya Covid-19 di Inggris.

Namun demikian, pihak kampus selalu melindungi mahasiswa dan mengatasi hal tersebut setelah bekerja sama dengan kepolisian setempat.

Menjadi mahasiswa program magister di luar negeri di masa pandemi juga dirasakan oleh Risza Damayanti, Analis Kebijakan Pertama di Sekretariat Kementerian PANRB. Belajar secara daring melalui aplikasi Zoom bukanlah hal yang ada dalam bayangannya sebelumnya.

"Yang berbeda hanya proses belajarnya. Load belajarnya masih sama, tetap ada kuliah, seminar mingguan, dan tugas mingguan," ungkap lulusan magister di University of York, Inggris pada 2021 lalu ini.

Sementara itu, Mas Pungky Hendrawijaya yang juga mendapatkan gelas doktornya di Curtin University, Australia, turut menyampaikan pengalamannya melakukan tugas belajar. Selama berkuliah di jurusan Business Law, ia diharuskan menghadiri beberapa konferensi internasional.

Publikasi hasil riset di jurnal internasional juga menjadi prasyarat agar bisa lulus dari universitas yang terdapat di Perth tersebut.

Dalam mempersiapkan riset proposal, Mas Pungky menyarankankan untuk menyiapkan topik yang spesifik. "Pilih topik yang spesifik, bukan yang bombastis. Akan lebih bagus jika dikaitkan dengan tugas sehari-hari," pungkasnya.