Sukses

Harga Ethereum Meroket, Jadikan Pendirinya Miliarder Kripto Termuda di Dunia

Liputan6.com, Jakarta Kinerja moncer yang dicetak mata uang kripto Ethereum setahun terakhir bukan hanya membawa untung bagi para pemburunya, namun juga penciptanya. Vitalik Buterin yang saat ini masih berusia 27 tahun berhasil masuk jajaran miliarder termuda di dunia.

Dikutip dari Forbes, Senin (10/5/2021) Buterin yang mempelopori peluncuran blockchain Ethereum (ETH) pada tahun 2015, telah menjadi miliarder kripto termuda di dunia pada usianya yang masih di bawah 30 tahun.

Harga Ethereum melonjak melewati USD 3.000 untuk pertama kalinya pada pekan lalu. Menandai kenaikan 325 persen sejak awal tahun ini.

Tidak diketahui berapa banyak Ethereum yang Buterin miliki saat ini. Namun jika merujuk pada banyaknya koin Ethereum yang diungkapkannya pada Oktober 2018, ia memiliki 333.520 ETH. Senilai USD 1,09 miliar dengan harga eter USD 3.278 pada hari Senin siang.

Ethereum saat ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar USD 376 miliar atau sekitar Rp 5.429 triliun. Berada di posisi kedua setelah bitcoin yang valuasinya USD 1,08 triliun atau sekitar Rp 15.595 triliun.

Nilai Ethereum telah melonjak sejak awal tahun, sebagian besar karena meningkatnya popularitas aplikasi keuangan terdesentralisasi (DeFi) yang bertujuan untuk menggantikan perantara keuangan tradisional seperti bank dan perusahaan asuransi. Ini merupakan ekosistem keuangan baru yang sangat mengandalkan teknologi Blockchain.

Menurut agregator data DeFi Pulse, lebih dari USD 72 miliar sekarang terkunci dalam protokol DeFi, banyak di antaranya dibangun di atas blockchain Ethereum.

Sementara data dari Coindesk, harga Ethereum telah meroket hampir 1.500 persen dalam setahun terakhir. Setelah menyentuh harga USD 205 per koin pada 6 Mei 2020, kini harganya sudah lebih sari USD 3.000 per koin.

 

2 dari 3 halaman

Besar di Kanada

Buterin lahir pada tahun 1994 di kota Kolomna, lokasinya di pinggiran ibukota Moskow. Dia kemudian pindah ke Kanada bersama keluarganya dan dibesarkan di Toronto, Kanada. Dan sempat mengenyam pendidikan di Universitas Waterloo di jurusan ilmu komputer.

Sebelum meluncurkan Ethereum, pada tahun 2012 ketika dia berusia 18 tahun, Buterin mendirikan majalah Bitcoin dengan Mihai Alisie, yang kemudian bergabung dengan Buterin dalam mendirikan Ethereum. Setahun kemudian ia memutuskan berhenti berkuliah dan mulai mengembangkan mata uang kriptonya itu.

Pada tahun 2014, Buterin dianugerahi Thiel Fellowship, sebuah beasiswa yang bergengsi, menawarkan USD 100.000 bagi kaum muda di bawah usia 23 tahun untuk membangun sesuatu yang baru namun di luar jalur akademis. Tidak seperti beasiswa kebanyakan yang justru memberikan pendaan untuk studi gratis.

Beasiswa ini didanai oleh miliarder Peter Thiel, investor awal di Facebook dan lulusan Universitas Stanford. Setahun kemudian, Buterin dan tim pengembang lainnya meluncurkan Frontier, yang mereka sebut "implementasi barebone dari proyek Ethereum".

Minggu lalu, Buterin diketahui menyumbangkan sekitar USD 600.000 dalam token ethereum dan maker (MKR) ke dana bantuan COVID-19 untuk India.

 

Reporter: Abdul Azis Said

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Ini