Riset UBS: 2.600 Orang Kaya Baru Lahir Setiap Hari Selama 2025

Laporan UBS 2025 mengungkap jumlah orang kaya dunia meroket berkat tren harga properti. AS dan China terpantau masih menguasai separuh kekayaan global.

Diterbitkan 11 Juli 2026, 20:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Riset terbaru dari bank asal Swiss, UBS, mencatat fenomena menarik di mana ada tambahan sekitar satu juta orang kaya baru di dunia sepanjang tahun 2025 lalu. Seiring dengan itu, total jumlah kekayaan individu secara global juga ikut mengalami kenaikan signifikan.

Berdasarkan UBS Global Wealth Report 2025, hampir satu juta orang di seluruh dunia sukses menjadi jutawan baru dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS). Jika dirata-rata, angka tersebut setara dengan lahirnya 2.600 jutawan baru setiap harinya.

Amerika Serikat menjadi penyumbang terbesar dengan menyumbang hampir setengah dari total jutawan baru tersebut, yakni lebih dari 440.000 orang. Posisi berikutnya ditempati oleh China, Jepang, Jerman, Inggris, dan Prancis.

"Kisah utamanya adalah ekspansi yang terus berlanjut, semakin banyak orang yang naik ke tingkat kekayaan yang lebih tinggi," tulis laporan tersebut, seperti dikutip dari Yahoo Finance, Sabtu (11/7/2026).

Sebagai catatan, laporan kekayaan ini menghitung seluruh aset keuangan maupun non-keuangan (terutama properti) milik individu setelah dikurangi utang, di mana seluruh nilai asetnya dikonversi ke dalam mata uang dolar AS. Kenaikan ini menunjukkan bahwa dunia terus memproduksi kekayaan baru dan memperbanyak populasi orang makmur.

Kekayaan Individu Global Naik 10,8%

UBS menyatakan bahwa pada tahun 2025, kekayaan pribadi secara global melonjak hingga 10,8%. Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada tahun 2024 yang sebesar 4,6%, dan tahun 2023 yang hanya 4,2%.

Kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika mencatatkan pertumbuhan kekayaan tertinggi, yakni mencapai 17,5%. Faktor utamanya dipicu oleh melemahnya nilai tukar dolar AS kala itu. Sementara itu, kawasan Amerika tumbuh sebesar 8,5% dan Asia-Pasifik tumbuh 5,9%.

Meskipun menyebar, nyatanya lebih dari setengah kekayaan pribadi di dunia saat ini masih berputar dan terkonsentrasi di dua negara raksasa, yaitu Amerika Serikat dan China Daratan.

Menariknya, sejak tahun 2020, Korea Selatan menjadi negara dengan pertumbuhan rata-rata kekayaan riil tertinggi per orang dewasa di antara 56 pasar yang dianalisis, dengan kenaikan melampaui 50%. Pertumbuhan di atas 25% juga berhasil dicatatkan oleh Kroasia, Norwegia, Latvia, Taiwan, dan Bulgaria.

Rumah Jadi Kunci Status Jutawan

Jika dihitung berdasarkan rata-rata kekayaan bersih per orang dewasa, Swiss masih kokoh menempati peringkat pertama di dunia dengan angka US$ 910.382. Posisi selanjutnya diikuti oleh Amerika Serikat (US$ 696.277), Luksemburg (US$ 654.732), Hong Kong (US$ 648.267), dan Australia (US$ 616.306).

Meski jumlah orang kaya bertambah, ketimpangan global masih terlihat jelas. Data menunjukkan bahwa 42% penduduk dunia memiliki aset di bawah US$ 10.000. Sementara itu, 41% lainnya memiliki aset direntang US$ 10.000 hingga US$ 100.000.

Pada kelompok menengah ke atas, ada 15,3% populasi yang mengantongi kekayaan bersih antara US$ 100.000 hingga US$ 1 juta. Sedangkan kelompok yang benar-benar ada di puncak piramida, yaitu mereka yang memiliki kekayaan di atas US$ 1 juta, hanya mencakup 1,5% dari total penduduk dunia.

Namun, UBS memberikan catatan penting, status jutawan di sini bukan berarti mereka memiliki uang tunai sebesar US$ 1 juta di rekening bank. Bagi mayoritas orang, aset terbesar mereka justru berupa rumah atau tempat tinggal sendiri. Oleh karena itu, melesatnya harga properti menjadi faktor utama yang mendongkrak banyak orang masuk ke dalam daftar kaum jutawan.

Bagaimana dengan Jumlah Miliarder?

Untuk kategori kelas kakap alias miliarder, UBS mencatat ada 3.302 miliarder di 47 pasar yang dianalisis hingga April lalu. Jumlah ini meningkat 383 orang atau naik 13,1% dari periode laporan sebelumnya. 

Lebih dari 1.000 miliarder saat ini menetap di Amerika Serikat, disusul oleh China dengan 562 orang, dan India dengan 211 orang.

"Kami mencatat ada 18 individu yang memiliki kekayaan raksasa di rentang US$ 50 miliar hingga US$ 100 miliar, serta 19 individu dengan kekayaan fantastis di atas US$ 100 miliar, di mana 15 orang di antaranya berbasis di Amerika Serikat," tutup laporan UBS tersebut.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6