Sukses

Terkuak, Alasan Bulog Tak Masuk dalam Holding BUMN Pangan

Liputan6.com, Jakarta Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) mengungkapkan alasan Bulog tidak tergabung dalam holding BUMN pangan. Ternyata, itu karena terkait rencana BUMN ini yang akan diubah menjadi salah satu badan pangan.

“Karena ada rencana program Bulog ini akan berubah, saya tidak tahu berubahnya kapan dan apa jadinya, tapi salah satunya menjadi badan pangan, sehingga dipisahkan oleh pak Menteri,” kata Budi Waseso dalam konferensi pers Penyampaian Strategi Perum Bulog Tahun 2021, Rabu (3/2/2021).

Menurutnya, jika Bulog termasuk dalam klaster BUMN pangan maka nantinya akan timbul masalah. namun sebenarnya Buwas tidak mempermasalahkan Bulog masuk atau tidak dalam klaster tersebut.

“Kita lihat perkembangannya, bagi saya tidak masalah Bulog masuk laster pangan atau tidak, itu tidak ada masalah. Hal yang penting bagi saya Bulogbisa berbuat dengan tugas pokoknya. Sesuai dengan undang-undang, dan keinginan masyarakat itu yang paling penting,” tegas dia.

Dia menegaskan, semua keputusan itu ada ditangan Menteri BUMN. Yang terpenting Bulog dapat menjalankan 3 pilar dalam menjaga ketahanan pangan. Ketiganya, yakni ketersediaan (availability), keterjangkauan (accessibility) baik secara fisik maupun ekonomi, dan stabilitas (stability) yang harus tersedia dan terjangkau setiap saat dan setiap tempat

“Jadi kita tidak usah kemana-mana, biarkan itu ada kebijakan pemerintah. Tapi yang paling penting realisasi Bulog ada peran kepada masyarakat. Karena Bulog itu punya peran sebagai 3 pilar tadi,” ujar dia.

Adapun 9 Holding BUMN Pangan yang dibentuk oleh Menteri BUMN Erick Thohir beberapa waktu lalu, antara lain PT RNI, Berdikari, Perikanan Indonesia (Perindo), Perikanan Nusantara (Perinus), Pertani, Sang Hyang Seri, PT Bhanda Ghara Reksa (BGR Logistics), Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), dan PT Garam.

2 dari 3 halaman

Pemerintah akan Bentuk 6 Holding BUMN Tambahan

Pemerintah melalui Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bakal segera memproses pembentukan 6 induk usaha atau holding BUMN tambahan.

Enam holding BUMN tersebut antarai lain Holding Jasa Survei, Industri Pangan, Industri Pertahanan, Industri Media, Layanan Kepelabuhan dan Layanan Transportasi (Aviasi-Pariwisata).

"Sekarang yang sedang kita lakukan ini beberapa rencana holding yaitu 6 holding yaitu jasa survei, industri pangan, industri pertahanan, industri media, layanan kepelabuhan, layanan transportasi," ujar Direktur Kekayaan Negara Dipisahkan Kementerian Keuangan Meirijal Nur di LPPI Virtual Seminar, Kamis (28/1/2021).

Meirijal mengatakan, di era sebelumnya sudah ada beberapa holding BUMN seperti holding perkebunan, perikanan, pertambangan, minyak dan gas, farmasi dan asuransi.

Saat ini, konsep holding yang dikembangkan akan fokus ke arah ekosistem, dimana ketika ada kesamaan dan interlink bisnis antar BUMN maka perusahaan akan digabung dalam satu holding.

"Misalnya holding Bio Farma itu kemarin yang gabung itu Bio Farma, Kimia Farma dan Indo Farma kemudian berkembang inisiasi untuk menggabungkan anak usaha," katanya.

Meirijal mengatakan, dinamika holding tersebut dilakukan untuk membangun sinergitas dan value creation BUMN yang lebih kuat dalam satu kelompok holding.

"Serta akan mempunyai kemudahan-kemudahan dan fleksibilitas tidak mengambil berbagai keputusan korporasi nantinya," katanya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Ini