Sukses

Ketergantungan Impor, Penyebab Ketahanan Pangan Indonesia Bermasalah

Liputan6.com, Jakarta - Ekonom dan Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, ketahanan pangan Indonesia di awal 2021 ini bermasalah karena Indonesia ketergantungan terhadap impor.

“Harga pangan yang volatile (lincah) dan ketergantungan kepada impor menunjukkan betapa ketahanan pangan kita bermasalah,” kata Piter Abdullah saat dihubungi oleh Liputan6.com, Senin (1/2/2021).

Piter menjelaskan, harga naik bisa disebabkan naiknya permintaan atau karena terbatasnya pasokan (supply). Padahal di tengah pandemi Covid-19 ini, permintaan turun sangat drastis.

“Di tengah pandemi sekarang ini kita tahu bahwa demand turun sangat drastis karena turunnya daya beli kelompok masyarakat bawah, sementara kelompok menengah atas menahan konsumsi,” ujarnya.

Dengan demikian, bisa dipastikan naiknya harga pada awal tahun ini lebih disebabkan terbatasnya supply. Keterbatasan supply barang pangan umumnya dikarenakan permasalahan waktu panen dan kebijakan impor, kata Piter Abdullah.

Adapun permasalahan terkait pangan di antaranya harga kedelai mahal. Kenaikan ini dipicu lonjakan harga kedelai di pasar internasional. Harga kedelai di Indonesia yang biasanya Rp 7.000 sempat naik menjadi Rp 9.000 hingga Rp 9.300.

Kemudian harga cabai rawit merah yang tembus hingga Rp 100 per kg. Lalu daging sapi yang langka, lantaran Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) memutuskan menghentikan aktivitas perdagangan daging sapi di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek) sejak 19 Januari malam hingga 22 Januari 2021.

Masalah pangan lainnya yakni harga telur ayam di tingkat peternak secara nasional turun drastis menjadi Rp 16.000-Rp 17.000 per kilogram. Serta adanya kebocoran beras Vietnam, yang masuk ke pasar tradisional Indonesia dengan harga Rp 9.000 per kg. Harga beras tersebut lebih murah daripada beras yang diproduksi petani Tanah Air yang dijual rata-rata Rp 12.000 per kg.

2 dari 3 halaman

Harga Bahan Pangan Naik, Pemerintah Diminta Operasi Pasar

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad, meminta agar Pemerintah segera melakukan operasi pasar untuk mencegah terjadinya inflasi yang berkelanjutan.

“Untuk mengantisipasi pangan ini pemerintah harus cepat melakukan operasi pasar, karena kalau harga pangan itu sensitif terhadap inflasi. Kalau inflasi terlalu tinggi kasian orang-orang di bawah akan mengurangi kebutuhannya,” kata Tauhid saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (31/1/2021).

Tauhid juga menilai, ketahanan pangan Indonesia akan terus mengalami gangguan. Hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya faktor cuaca dan pencadangan pangan domestik yang kurang.

“Menurut saya sedikit terganggu, faktor utamanya adalah cuaca. Seharusnya pemerintah bisa mengantisipasi akan terjadi masalah di daerah produsen,” ujarnya.

Sebab, perubahan cuaca mempengaruhi produksi dan distribusi pangan kepada masyarakat, sehingga menyebabkan komoditas seperti daging sapi, kedelai, cabai rawit merah menjadi mahal. Selain itu, faktor lainnya terkait pencadangan pangan domestik yang kurang.

“Memang pemerintah harus bisa mengantisipasi perubahan pencadangan pangan domestik dengan melihat suplai dari global yang semakin tidak pasti,” kata Tauhid.

Demikian Tauhid menegaskan, dari sisi ketahanan pangan akan mengalami gangguan-gangguan namun tidak terlalu banyak. Asal Pemerintah bisa mengantisipasi ketepatan waktu kapan harus impor.

“Kalau lambat maka harga akan naik. Impor memang pilihan terakhir jika produksi terganggu, tapi jangan sampai terlambat. Sehingga petani tidak dapat untung dan pembeli terimbas harga yang mahal,” pungkasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: