Sukses

Mau Dapat Bantuan Modal? Aplikasikan Laporan Keuangan Berbasis Syariah dengan Benar

Liputan6.com, Jakarta Faktanya menjalankan nggak semudah membalikkan telapak tangan. Ada yang bilang mudah, ada juga yang sebut bahwa menjalankan bisnis itu gampang jika sudah tahu celahnya. Namun ketika akan membangun usaha baru apalagi di tengah pandemi seperti sekarang ini, salah satu tantangan terberat adalah permodalan.

Ya, modal usaha! Agar menjadi tahu, sumber modal sebenarnya terbagi menjadi dua, yaitu internal dan eksternal. Modal internal bersumber dari kantong kita sendiri, diinvestasikan langsung ke bisnis yang akan dibangun. Sementara sumber permodalan dari luar dibagi lagi menjadi dua, yaitu sebagai penyertaan modal dan sebagai pembiayaan.

Selain modal konvensional saat ini lembaga syariah kian popular sebagai sumber permodalan dari luar seiring perkembangan perdagangan dengan sistem syariah. Definisi Syariah merupakan aturan-aturan yang berkenaan dengan perilaku manusia yang sesuai dengan hukum syara (jalan yang lurus). 

Permodalan berbasis syariah dipilih agar merasa aman dalam menjalankan hukum jual beli berlandaskan agama. Hukum tersebut disyariatkan oleh Allah kepada umat manusia menyangkut akidah, ibadah akhlak maupun muamalat (perdagangan).

Selain sesuai tuntunan agama juga bebas dari bunga dan riba. Jika menerapkan sistem ini diharapkan akan menghindari tindakan kecurangan atau ketidakadilan. Seperti halnya permohonan permodalan konvensional, permohonan permodalan syariah juga memerlukan pencatatan atau laporan keuangan.

"Bila kita ingin mendapatkan modal dari luar terutama dari perbankan dan lembaga keuangan lain kita sangat dituntut menyajikan laporan keuangan sesuai Syariah yang menceritakan bagaimana bisnis yang akan kita Kelola yang nantinya akan menjadi acuan pemangku kepentingan untuk memberikan modal,” kata Yusron, Head of Syariah Adira Finance saat mengisi kelas online Komunitas Bukalapak x Zurich bertajuk Strategi Agar Usaha Tidak Rugi? pada Rabu (13/11).

Yusron menegaskan bahwa para pelaku bisnis perlu tahu cara mencatat laporan keuangan sesuai Syariah yang dijalankan sesuai anjurannya. Jadi, ketika kamu berbisnis, perlu melakukan pencatatan, apalagi jika bisnisnya dijalankan dengan tidak tunai.

“Barang ada dahulu uangnya belakangan atau pembayarannya secara diangsur atau seterusnya itu harus dicatat dan ada saksinya jadi tidak boleh tidak menuliskan," jelas Yusron.

Sementara definisi akuntansi bertujuan menyiapkan suatu Laporan Keuangan yang akurat agar dapat digunakan pemangku kepentingan. Prosesnya meliputi: mencatat (berdasarkan bukti-bukti transaksi), mengelompokkan, mengolah, menyajikan data transaksi ekonomi dari suatu kegiatan (nirlaba maupun profit oriented).

Sedangkan Akuntansi Syariah bertujuan membantu mencapai keadilan sosial ekonomi dan mengenal sepenuhnya kewajiban kepada Tuhan, individu, dan masyarakat yang berhubungan dengan pihak-pihak terkait pada aktivitas ekonomi, seperti akuntan, manajer, auditor, pemilik, dan pemerintah sebagai sarana bentuk ibadah.

Nantinya Laporan Keuangan Syariah yang baik akan memiliki manfaat sebagai pertimbangan dalam meluluskan permodalan sebagai berikut,

1. Laporan Posisi Keuangan

  1. Alat Identifikasi tren ekonomi berjalan
  2. Sebagai alat Analisa kelayakan usaha sebuah entitas

2. Laporan Laba Rugi

  1. Alat identifikasi profitabilitas sebuah entitas
  2. Membantu menilai tingkat risiko keuangan dan pajak dari entitas
  3. Alat bantu untuk melihat kemampuan keuangan entitas untuk memenuhi kewajibandalam jangka panjang

3. Catatan atas Laporan Keuangan

  1. Mempermudah dan memperjelas dalam memahami Laporan Keuangan
  2. Mengetahui informasi tentang pos yang tidak memnuhi kriteria pengakuan dalam Laporan Keuangan

Berbeda dengan sistem konvensional, sistem syariah menerapkan keadilan sehingga sama rata baik keuntungan maupun kerugian. Sehingga sistem ekonomi syariah ini akan sangat membantu para peminjam modal karena kesepakatan modal tidak ditentukan oleh bunga yang terus berubah mengikuti fluktuasi ekonomi.

Modal usaha sistem syariah umumnya banyak digunakan oleh pebisnis pemula. Itu karena memang tak memakai sistem bunga yang membebani.

Selanjutnya pembagian keuntungan didapatkan dari bagi hasil. Umumnya kesepakatan ini fleksibel alias tidak bersifat mutlak. Apabila di tengah jalan peminjam mengalami kesulitan keuangan, maka kesepakatan tersebut bisa didiskusikan kembali.

 

(*)