Sukses

Jadi Generasi Kreatif dengan Pola Berpikir Khas Anak-anak, Dijamin Sukses!

Liputan6.com, Jakarta Masih ingat dengan google doodle dengan gambar karakter yang sedang mengibarkan bendera merah putih pada Hari Kemerdekaan Indonesia ke-75? Jika kamu masih ingat, itu adalah karya Martcellia Liunic. 

Ya, Martcellia yang akrab disapa Cella adalah ilustrator muda yang sukses menjalankan passion-nya di dunia kreatif. Nah kira-kira gimana sih perjalanan Cella hingga sampai puncak keberhasilannya ini? 

"Awalnya aku kerja jadi graphic design pada 2013, lalu tahun 2016 di agensi. Terus setiap pulang kerja, aku gambar dan freelance," kata Cella saat menjadi speakers di acara Ideafest 2020 bertajuk Recipe for Creativity: Playful, Childlike, with a Dash of Nostalgia, Jumat (13/11). 

Dari pekerjaan sampingannya itu, ternyata Cella melihat peluang. Nyatanya, hasil karyanya disukai banyak orang dan bisa menutup gajinya selama sebulan. 

Hingga akhirnya, Cella pun memutuskan berhenti dari pekerjannya dan menjadi 'bos' bagi diri sendiri. Dari karya yang dihasilkannya, kini Cella telah bekerja sama dengan sejumlah brand kenamaan Tanah Air. 

Nah kira-kira, rahasianya apa sih sampai Cella bisa sesukses hari ini? Catat ya, ada resep jadi orang kreatif nih dari Cella. Ini 'ingredients-nya': 

1. Imajinasi

Semua orang pernah merasakan kanak-kanak. Ada momen masa kecil yang dipakai Cella sampai hari ini. Adalah imajinasi. 

"Pour your imagination! Waktu kecil suka berkhayal dan lakukan ini sampai besar. Berkhayal bagiku adalah bibit kreativitas. Jadi dihidupin aja daya khayalnya," kata Cella.

Jadi untuk meraih kesuksesan terkadan memang perlu menyingkirkan logika dan mulai berpikir imajinatif layaknya anak-anak.

2 dari 5 halaman

2. Perasaan

"Use your own experience and a piece of your emotion in what you are making," kata Cella. Buat Cella pengalaman adalah salah satu cara untuk memantik ide ketika akan melakukan hal kreatif. 

Artinya lakukan sesuatu tanpa mengkhawatirkan pendapat orang lain. Lalu jadikan hasil akhir dari yang sudah dilakukan sebagai sebuah pengalaman. Nah, ini mirip seperti cara berpikir anak-anak, di mana mereka melakukan hal yang mereka senangi, tanpa khawatir orang suka atau nggak.

 Ending-nya, anak-anak akan tahu, mana yang benar atau keliru ketika dia sudah melakukannya. Dan jangan lupa, kata Cella, saat berbisnis ketika pengalaman sudah dijadikan pelajaran lalu gunakan perasaan ketika melakukan kreativitas. 

"Emotion itu penting untuk membuat suatu karya. Jadi bukan sekadar hanya mikirin cuan, tapi memang kayaknya harus pake perasaan," katanya yang menjelaskan bahwa perasaan yang dimaksud adalah melakukan sesuatu dari hati, bukan paksaan untuk mendapat apresiasi. 

 

3 dari 5 halaman

3. Ketekunan

Cella menegaskan, ketika menjalankan sesuatu jangan langsung menyerah. 

Biasanya anak-anak suka banget yang namanya mencoba hal baru tanpa ragu. Dengan mencoba, artinya minat dan bakat akan mudah diketahui. Nah mulailah menerapkan untuk selalu mencoba hal baru dan usir jauh-jauh si rasa khawatir. 

"Misalnya baru nyoba gambar atau mulai usaha tiga hari, nggak ada beli, trus langsung mikir kayaknya emang nggak laku. Harus coba terus, perseverance is key."

So, kegagalan bukan alasan bagi kamu untuk berhenti dan nggak terus mencoba!

4 dari 5 halaman

4. Berani

Ini masih ada kaitannya dengan poin di atas ya. Namun di poin ini benang merahnya adalah seberapa besar keberanianmu untuk menunjukkan hasil karya yang sudah dibuat kepada khalayak luas. 

Menurut Cella, bagi kalian yang punya passion gambar atau menghasilkan karya, jangan ragu dan malu untuk 'memamerkannya'. 

"Misalnya sudah bikin gambar, tapi nggak di post. Nobody can not see."

5 dari 5 halaman

5. Childlike

Don't forget to play. Begitulah kalimat yang diucapkan Cella. "Jangan terlalu serius, nggak seru," katanya. 

Cella pun menyarankan agar kita sebagai generasi milenial nggak perlu malu kalau nggak sempurna. Itu karena semua usaha atau karya yang dilakukan ada prosesnya. Cella pun mau menerima setiap kegagalan, dan langsung memperbaiki diri, untuk meminimalisir kegagalan yang terjadi dikemudian hari. 

"Jadi, ya, lewatin dan nikmatin aja prosesnya." 

Nah ternyata rahasia Cella bisa sampai di titik ini karena dia terbiasa bernostalgia dengan kebiasaan positif di masa kecilnya. Ditambah, Cella mau terus latihan dan mengasah skill menggambarnya. 

Itulah lima cara berpikir layaknya anak-anak yang bisa memantik kesuksesanmu. Oh ya, ngomong-ngomong anak-anak, ini berkaitan dengan masa kecil dong ya. Biasanya saat berlatih atau tengah berkreasi, pasti kamu ditemani segelas minuman segar dan camilan. 

Ada satu camilan atau snack masa kecil terfavorit generasi milenial dan cocok untuk menemani setiap aktivitasmu selama berkarya. 

Pilihan nomor satu saat ngemil di waktu luang atau disela-sela menyelesaikan pekerjaanmu adalah mencoba camilan rasa cheese alias keju. Snack Kesukaan Anak Indonesia menjadi pilihan snackfood terpopuler dan tak tertandingi. Rasanya pun terus digemari anak-anak bahkan orang dewasa sampai saat ini.

 

(*)