Sukses

Penambahan Kasus Covid-19 Global Bawa Rupiah Melemah

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan awal pekan ini. Hal ini seiring pertambahan kasus Covid-19 secara global.

Mengutip Bloomberg, Senin (2/11/2020), rupiah dibuka di angka 14.650 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.625 per dolar AS. Menjelang siang, rupiah berada di level 14.687 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.650 per dolar AS hingga 14.692 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 5,92 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah dipatok di angka 14.718 per dolar AS, melemah jika dibandingkan patokan sebelumnya yang ada di angka 14.690 per dolar AS.

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan terkoreksi seiring kenaikan jumlah kasus positif COVID-19 secara global.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Senin, mengatakan, beberapa sentimen negatif membayangi pergerakan harga di pasar keuangan hari ini.

"Kasus penularan COVID-19 yang meninggi yang mendorong pemberlakuan lockdown di beberapa negara Eropa, mendorong sentimen negatif tersebut," ujar Ariston.

Ariston menuturkan pemberlakuan lockdown akan mengganggu pemulihan ekonomi dan berpotensi mendorong pelemahan rupiah terhadap dolar AS karena pasar mencari aman.

Selain itu, lanjutnya, stimulus fiskal AS yang ditunda juga mendorong pelaku pasar mencari aset aman.

"Dari dalam negeri, pasar mewaspadai kegiatan demo penolakan UU Cipta Kerja yang akan berlangsung hari ini," kata Ariston.

Ariston memperkirakan hari ini rupiah berpotensi melemah di kisaran Rp14.600 per dolar AS hingga Rp14.750 per dolar AS.

2 dari 3 halaman

Sri Mulyani Patok Rupiah 14.600 per Dolar AS di 2021, Ini Alasannya

Asumsi makro pemerintah untuk nilai tukar rupiahterhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada 2021 berada di kisaran Rp14.600 per dolar AS. Pertimbangan itu pun sudah melalui berbagai pertimbangan, baik dari faktor eksternal maupun internal.

"(Itu semua) sangat tergantung dari pemulihan domestik yang bisa meningkatkan modal masuk, di dalam negeri dan peluang pemulihan di negara maju," jelas Menteri Keuangan Sri Mulyani saat melakukan rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Rabu (2/9/2020).

Bendahara Negara ini melanjutkan secara downside risk, apabila terjadi pemulihan, pemerintah mengasumsikan kebijakan moneter di AS akan kembali pulih dan normal. Dengan begitu diharapkan terjadi kenaikan suku bunga. "Itu biasanya memberikan sentimen negatif ke dunia," jelas Sri Mulyani.

Sebelumnya, Gubernur BI, Perry Warjiyo juga memproyeksikan nilai tukar rupiah pada 2021 bakal berada di rentang kisaran sebesar 13.900 per dolar AS hingga 14.700 per dolar AS. Angka ini pun masih sejalan dengan proyeksi disampaikan pemerintah.

"Oleh karena itu untuk tahun 2021 secara keseluruhan kami berpandangan bahwa asumsi pemerintah terkait dengan rata-rata nilai tukar rupiah dalam rangka penyusunan APBN tahun 2021 yang tadi disampaikan oleh Bu Menteri Keuangan sekitar 14.600 per dolar AS itu juga masih sejalan dengan Prakiraan BI," jelas dia.

Dia mengatakan, rupiahke depan masih berpotensi akan menguat seiring levelnya yang saat ini secara fundamental masih undervalue. Kemudian juga didukung inflasi yang rendah dan terkendali, defisit transaksi berjalan rendah, serta daya tarik aset keuangan domestik yang tinggi maupun juga premi risiko Indonesia yang akan menurun.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: