Sukses

Pengusaha Sebut Ekosistem Logistik Nasional Bakal Tekan Biaya Distribusi

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Bidang Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sutrisno Iwantono menyambut baik rencana penerapan ekosistem logistik nasional (National Logistic Ecosystem/NLE) di Indonesia.

Menurut Sutrisno, NLE dinilai mampu memperlancar arus barang yang menjadi salah satu modal penting bagi pengembangan bisnis logistik. Khususnya di tengah pandemi Covid-19.

"NLE ini terobosan yang baik, diharapkan bisa mengatasi persoalan logistik yang masih sering terhambat. Sehingga arus barang bisa le ih lancar. Karena kan selama ini sangat mengganggu pengembangan usaha logistik, apalagi saat pandemi," ujar dia saat dihubungi Merdeka.com, Jumat (25/9/2020).

Sutrisno mengatakan saat ini berbagai permasalahan tengah mendera pelaku usaha logistik nasional. Seperti tingginya biaya logistik dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya.

Kemudian, rumitnya perizinan dan pengurusan dokumen dalam menjalankan usaha. Hingga lamanya waktu bongkar muat logistik dipelabuhan akibat pra sarana dan sarana yang belum menunjang pengembangan bisnis secara modern.

"Padahal, dalam bisnis logistik itu menghendaki efisiensi sistem yang menghubungkan antara produsen sebagai pemilik barang dengan konsumen sebagai pengguna barang atau jasa. Jadi, NLE sangat penting bagi pengembangan usaha logistik di Indonesia," tutupnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan, gagasan hadirnya ekosistem logistik nasional (National Logistic Ecosystem/NLE) diharapkan bisa menurunkan biaya logistik Indonesia. Dia menargetkan penurunan biaya logistik Indonesia dari 23,5 persen menjadi 17 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

 

 

 

2 dari 2 halaman

Biaya Logistik Tinggi

Dia mengakui, biaya logistik Indonesia masih lebih tinggi di antara negara-negara ASEAN lainnya, misalnya dengan Malaysia yang biaya logistiknya hanya 13 persen.

"Biaya logistik kita dibanding negara di ASEAN seperti Singapura, Malaysia, ini dianggap lebih tinggi sehingga menyebabkan ekonomi Indonesia perlu terus diperbaiki kompetisinya," ujar Menkeu dalam Konferensi Pers Bersama Ekosistem Logistik Nasional secara virtual, Kamis (24/8).

Dia menjelaskan, sistem logistik Indonesia masih kompleks dan rumit. Kendati National Single Window yang menghubungkan 16 Kementerian/Lembaga sudah pernah dirintis, namun hal itu belum cukup membuat ekosistem untuk mempermudah sistem yang rumit ini.

National Single Window lebih fokus pada koordinasi antara Kementerian/Lembaga atau antara pemerintah, namun hubungannya dengan para pelaku usaha seperti importir, eksportir dan pelaku logistik lain belum terjadi dengan baik.

"Sehingga importir dan eksportir ini mereka harus melakukan beberapa submission, antara Kementerian/Lembaga dan banyak sekali proses ruwet itu," ujarnya.

Merdeka.com

BERANI BERUBAH: Bertani di Atas Masjid