Sukses

Indonesia Diprediksi Defisit Energi USD 80 Miliar di 2040

Liputan6.com, Jakarta - Ekonom Senior Faisal Basri mengatakan defisit energi Indonesia telah di depan mata. Ia memproyeksikan 2040 Indonesia akan defisit energi hingga USD 80 miliar.

“Mulai tahun 2021 energi akan defisit, dan tahun 2040 defisit energinya berpotensi mencapai USD 80 miliar. Jadi omong kosong tahun 2045 kita bisa mencapai masa emas, karena kita tergopoh-gopoh, saya katakan defisit itu sudah di depan mata,” kata Faisal dalam diskusi bersama dengan Komisi VI DPR RI, secara virtual di Jakarta, Senin (31/8/2020).

Ia menjelaskan migas Indonesia pada tahun 2019 saja sudah defisit sebesar USD 10 miliar. Kendati begitu neraca perdagangan migas kita masih terselamatkan dengan adanya ekspor batu bara yang lumayan besar.

“Sehingga, energi secara keseluruhan migas ditambah batu bara itu kita surplus kira-kira mencapai USD 8 miliar,” ujarnya.

Menurutnya, jika dilihat untuk energi tahun 2050 persediaan yang tersisa itu diprediksikan hanya 20 persen, meskipun saat ini energi sebanyak 33 persen. Namun demikian, bukan berarti kebutuhan minyak Indonesia turun, melainkan dari segi volume naik dari 177 juta ton MTOE menjadi 284,8 juta ton MTOE.

“Sekalipun energi terbarukan itu kita majukan sehingga peranannya 31 persen untuk 2050 bukan berarti volume minyaknya turun, persentasenya saja yang turun. Oleh karena itu kita masih harus lebih banyak minyak,” ujarnya.

Kendati begitu, defisit energi dilihat dari pertumbuhan permintaan minyak, Faisal mengatakan saat ini Indonesia lebih banyak impor daripada ekspor. Dengan demikian, growth oil Indonesia sudah minus pertumbuhannya sampai Juli 2020. Apalagi ditambah pandemi yang menyebabkan growth oil semakin turun.

“Kemudian BBM kita defisitnya gila-gilaan, tahun 2019 agak lumayan tapi defisitnya gila-gilaan USD 15 miliar. Di tambah minyak mentah dan produk minyak defisitnya membesar tentu saja pada tahun 2019 mencapai USD 20 miliar, syukur gas kita masih surplus tapi surplusnya makin turun seperti perosotan, jadi gas itu semakin tidak mampu,” pungkasnya.

** Saksikan "Berani Berubah" di Liputan6 Pagi SCTV setiap Senin pukul 05.30 WIB, mulai 10 Agustus 2020

2 dari 2 halaman

Indonesia-UEA Jalin Kerja Sama Bidang Energi, Pangan hingga Kesehatan

Menteri BUMN, Erick Thohir mengatakan, kerja sama Indonesia dengan Uni Emirat Arab akan memprioritaskan tiga sektor yakni, ketahanan energi, pangan dan kesehatan.

"Ketahanan energi, pangan dan kesehatan menjadi prioritas dalam menghadapi perubahan yang terjadi karena Covid-19," kata Erick dalam Press Briefing Menteri Luar Negeri dan Menteri BUMN secara virtual, Jakarta, Sabtu (22/8).

Erick memastikan kerja sama dua negara ini akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Pada aspek ketahanan pangan, Ketua Pelaksana PCPEN ini memastikan Kimia Farma dan Bio Farma tidak hanya menjadi industri yang jago kandang. Sebagai patner bisnis, dua perusahaan plat merah itu akan memastikan distrubusi produk di dalam maupun luar negeri tetap berjalan dengan baik.

"Kita memastikan industri farmasi tidak jagio kandang, jadi patner yang baik dalam menjaga distribusi di dalam negeri atau distribusi ke luar negeri dalam menjaga produk dalam negeri," tutur Erick.

Pada sektor ketahanan energi, impor minyak Indonesia memang masih tinggi. Namun, dengan kerja sama ini pemerintah memastikan tidak akan menjadi pasar bagi produk minyak dari UEA. Sebaliknya, Indonesia juga meminta transfer teknologi dari UEA di bidang energi.

"Kita tidak mau jadi pasar tapi kita ingin mendapatkan teknologi dari negara besar seperti UEA khususnya di bidang energi," kata dia.

Tak hanya itu, Indonesia lewat PLN akan menggali sumber daya alam terbarukan yang lainnya. Saat ini, PLN dengan Masdar telah bekerja sama untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Cirata.

Kerja sama sejenis juga akan dilakukan di beberapa wilayah lainnya. "Kita ekpolr lagi di beberapa daerah lain," kata dia.