Sukses

Pasar Modal China Cetak 24 Miliarder Baru hingga Juni 2020

Liputan6.com, Jakarta China terus menelurkan para miliarder baru selama masa pandemi Covid-19 ini. Bursa saham di sana memainkan peran penting, lantaran banyak investor ritel yang mencari pengembalian cepat dan menanamkan dananya di pasar modal Tiongkok.

Menurut catatan Bloomberg, China telah melahirkan dua lusin miliarder dari 118 pencatatan perdana saham (Initial public offering/IPO) tahun ini. Mayoritas perusahaan yang melakukan IPO berasal dari sektor kesehatan dan teknologi.

Seperti dilansir Bloomberg, Senin (27/7/2020), setidaknya ada 24 miliarder baru yang terlahir di pasar modal China hingga Juni 2020. Para orang kaya tersebut datang dari bermacam latar belakang, seperti mantan guru, akuntan, hingga pengembang perangkat lunak.

Sebanyak 118 perusahaan telah listing di Bursa Efek Shanghai dan Shenzen tahun ini, dan mengumpulkan USD 20 miliar sampai Juni.

Jumlah tersebut lebih dari dua kali lipat dibanding realisasi paruh pertama 2019. Shanghai kini jadi tempat pencatatan saham nomor 1 dunia, mengalahkan New York dan Hong Kong.

"Covid-19 tak memberikan banyak pengaruh pada kegiatan IPO di China daratan. Penjualan saham di China biasanya langsung melonjak di hari pertamanya," kata Kepala IPO China Terence Ho.

Di bursa efek China, listing baru sering melonjak hingga batas 44 persen pada hari pertama perdagangan.

Para miliarder China angkatan IPO 2020 memiliki kekayaan gabungan USD 70 miliar pada pertengahan Juli. Sebagian besar datang dari industri kesehatan dan teknologi, yang kegiatan bisnisnya menanjak selama pandemi.

"Kita berharap perusahaan dari sektor industri yang tidak terdampak virus corona akan terus mendominasi daftar rencana IPO hingga tahun depan," ungkap John Lee, Vice Chairman and Head of Greater China UBS Global Banking.

UBS Group mencatat, pengusaha China sukses menyalip Rusia di posisi kedua negara dengan kelompok miliarder terbesar dunia pada 2018. Kekayaan mereka naik tiga kali lipat dalam 5 tahun jadi USD 982,40 miliar.

Adapun hasil analisis dari tahun sebelumnya menunjukan, China mencetak dua miliarder baru setiap pekannya dari sektor publik dan swasta pada 2017.

Merujuk data Bloomberg, terdapat 68 miliarder asal China yang masuk dalam daftar 500 orang terkaya dunia pada awal 2017, dengan kekayaan bersih gabungan mencapai USD 849 miliar.

"Kesuksesan IPO merupakan proses dari menambah nilai pada saham perusahaan, sebab investor cenderung memberikan premi untuk aset dengan likuiditas tinggi dan melepas kekayaan tersembunyi para miliarder," jelas Ho.

Negeri Tirai Bambu sendiri telah meningkatkan pergerakan di pasar modal dan membuatnya lebih mudah untuk berdagang saham, termasuk langkah mempercepat IPO. Seperti di Bursa Efek Shanghai, perusahaan rata-rata memakan waktu hanya 288 hari untuk go public, dibandingkan 754 hari di tempat lain di bursa China.

Kepala Konsultasi Manajemen Kekayaan PwC Swizterland Marcel Tschanz menilai, kebijakan tersebut akan membuat daftar miliarder baru terus bertambah, bahkan di tengah kekhawatiran pasar saham yang tengah tertekan.

"Kita berharap kekayaan para miliarder di China terus bertambah. Faktor utama yang mendorong miliarder tumbuh yakni disrupsi pada model bisnis dan pasar domestik yang besar," ujar dia.

2 dari 3 halaman

Orang Sering Salah Paham Soal Orang Kaya, Miliarder Ini Curhat Pengalamannya

Pengusaha miliarder sekaligus pemilik Dallas Mavericks Mark cuban menjadi miliarder saat dia dan para rekannya menjual Broadcast.com pada Yahoo senilai USD 5,7 miliar dalam bentuk saham pada 1999. Kala itu usianya berusia 40 tahun.

Kini di usianya yang ke-61, total kekayannya mencapai sekitar USD 4,3 miliar. Namun menurutnya, banyak orang yang salah paham memandang orang kaya seperti dirinya yang kala itu baru menjadi miliarder.

Menurut pengalaman pribadinya, kesalahpahaman terbesar tentang menjadi dan bertahan sebagai orang super kaya adalah uang secara otomatis mengubah Anda secara drastis.

Mark menegaskan, bukan itu yang sebenarnya terjadi. "Semua orang berpikir, uang mengubah Anda. Dan memang itu bisa saja, tapi itu tidak perlu terjadi," tutur Cuban seperti dilansir dari CNBC, Minggu (26/7/2020).

Sebelum Cuban memiliki kekayaan seperti sekarang, dia mengalami kebangkrutan total saat baru berusia 20-an tahun.

Dia bahkan tidak memiliki cukup uang untuk membuka rekening bank dan berbagi kamar dengan lima pria lainnya lantaran tidak bisa membayar uang sewa kamar sendiri. Tapi dia masih merasa bahagia.

"Bahkan jika saat itu saya meninggal, tertidur selamanya di lantai, saya masih merasa bahagia, bermain dengan teman-teman saya. Dan mereka masih sosok teman yang sama sampai sekarang," kisahnya.

Menemukan cara berteman dan berhubungan baik setelah kaya memang ternyata membutuhkan waktu. Bagian tersulit adalah membangun hubungan dengan teman-teman lama saat dirinya baru menjadi miliarder.

"Itu karena mereka tidak yakin, apakah saya masih menjadi orang yang sama, dan bingung bagaimana menghadapi seorang miliarder. Apakah mereka yang harus menghubungi saya duluan atau sebaliknya. Itu membutuhkan waktu, tapi teman sejati akan tetap jadi teman sejati," jelasnya.

Cuban mengakui, memiliki banyak uang tentu saja membuat Anda sedikit ingin memiliki perubahan. Uang memberinya kedamaian pikiran dan fleksibilitas.

"Jelas saja saya beruntung tak perlu khawatir dengan berbagai tagihan, tak perlu khawatir listrik mati karena tak mampu membayar, dan berbagai hal lainnya. Saya tak perlu cemas soal uang dan bisa mengatur jadwal sendiri," terangnya.

Lebih dari itu, ia mengaku bisa meningkatkan gaya hidupnya. Tak perlu seberapa besar, memiliki banyak uang dibandingkan saat bangkrut memberikan keleluasaan untuk membeli apapun.

"Tapi menjadi kaya tak perlu mengubah Anda secara drastis, itulah yang seringkali menjadi salah paham," tandasnya.

3 dari 3 halaman

Tonton Video Ini