Sukses

Biar Kredit Lebih Mengalir, Pemerintah Diminta Jamin Modal Kerja Kucuran Bank

Liputan6.com, Jakarta Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rosan Roeslani mengatakan saat ini dunia usaha tengah berupaya untuk kembali bergerak. Padahal saat ini kondisi supply dan demand masih dalam kondisi tertekan.

Sebab itu, pengusaha membutuhkan suntikan modal kerja. Sebab, tanpa suntikan modal kerja, mustahil roda ekonomi yang dibangun bisa berjalan optimal. "Tidak bisa optimal tanpa ada suntikan modal kerja dari bank," ujar di Komplek Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2020).

Mengacu pada laporan dari beberapa asosiasi pengusaha, menyebutkan restrukturisasi kredit dari perbankan sudah mencapai batas. Sementara bank juga belum memberikan modal kerja.

Dia mengakui jika tidak semua perbankan di Indonesia memiliki likuiditas yang baik. Bank kategori buku 4 memiliki likuiditas yang baik. Kondisi berbeda untuk bank buku kecil.

Untuk itu Roslan menyarankan regulator meniru kebijakan yang diambil negara tetangga. Modal kerja yang diberikan perbankan dijamin oleh pemerintah 80 persen - 90 persen.

"Penjaminan oleh pemerintah 80-90 persen dari pihak perbankan untuk mencegah moral hazard," kata Roslan.

Menurut dia, pemerintah tidak perlu memberikan likuiditas tetapi memberikan penjaminan. Penempatan dana pemerintah sebesar Rp 30 triliun di perbankan kata Roslan dinilai masih belum jelas baik skemaamaupun prosesnya.

"Bagaimana prosesnya, skemanya, karena ini tidak bisa ditandai arahnya kemana. Apakah ini hanya UMKM atau untuk yang lain," kata dia.

Rosan menyarankan implementasi program pemulihan ekonomi nasional harus cepat. Jangan sampai pengusaha yang sudah lumpuh malah menjadi mati akibat terlambatnya implementasi program pemerintah.

"Istilahnya yang sudah mengalami kelumpuhan malah jadi permanen dalam program penyelamatan, ini harus sesuai dengan arahan presiden," pungkasnya.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Pengusaha Kritik Pengucuran Stimulus Ekonomi yang Berjalan Lambat

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan Roeslani menilai pemberian stimulus ekonomi yang salah satunya restrukturisasi kredit berjalan lambat. Padahal stimulus ekonomi sangat dibutuhkan para pelaku usaha yang terdampak pandemi Covid-19.

"Kita lihat agak lambat dalam implementasinya dan kami mencoba mencari masukan dan kita akan tindaklanjuti," kata Roslan usai memenuhi undangan OJK di Komplek Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2020).

Dalam rapat tersebut, penjelasan yang diberikan Ketua OJK Wimboh Santoso sesuai dengan prediksinya. Dunia usaha mengalami tekanan yang besar dan 50 persen diantaranya mengajukan restrukturisasi.

"Kita lihat yang minta restrukturisasi kredit sudah 50 persen, sudah Rp 500 triliun yang minta restrukturisasi," kata dia.

Roslan menjelaskan total permohonan restrukturisasi ke perbankan sudah berada di level Rp 1.350 triliun. Sebanyak 50 persen atau sekitar Rp 650 triliun dari jumlah tersebut sudah diberikan restrukturisasi.

Lambatnya implementasi stimulus ekonomi bisa menyebabkan peningkatan loan mencapai 40-45 persen dari yang ada saat ini pada akhir tahun. "Kalau tidak ada langkah-langkah konkret bisa berkembang sampai di level 40 sampai 45 persen." kata dia.

Sampai Desember 2020, perkiraan total pengucuran kredit yang ada di perbankan mencapai Rp 5.750 triliun. Sehingga estimasi angka restrukturisasi akan mencapai Rp 1.200 triliun di akhir tahun.

Maka, sambung Roslan, diperlukan langkah-langkah tepat untuk mendorong para pengusaha atau pelaku UMKM agar kembali menjalankan aktivitas ekonomi. Saat ini memang prosesnya sudah mulai di restrukturisasi kredit.

Setelah itu, dunia usaha membutuhkan suntikan modal kerja baru di tahap selanjutnya. "Kami pun meminta harus ada tahapan selanjutnya buat modal kerja baik untuk UMKM dan dunia usaha," katanya mengakhiri.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: