Sukses

20 Perusahaan Antri Catat Saham Bukti Optimisme ke Pasar Modal Indonesia

Liputan6.com, Jakarta Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan sebanyak 28 perusahaan tercatat memperdagangkan sahamnya di pasar modal hingga 15 Juni 2020.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, masih ada 20 perusahaan lain yang mengantri untuk menjadi emiten baru hingga akhir 2020.

"Telah terdapat 28 perusahaan tercatat yang mencatatkan sahamnya di BEI dari periode Januari-15 Juni 2020. Selain itu ada 20 perusahaan potensial yang sedang mengantri untuk melantai di bursa dan saat ini menjadi pipeline pencatatan saham BEI," terangnya dalam keterangannya, Selasa (16/6/2020).

Nyoman menuturkan, hal tersebut menjadi bukti bahwa banyak perusahan tetap antusias untuk memperdagangkan saham di tengah masa pandemi virus corona (Covid-19).

"Jika dilihat dari jumlah perusahaan yang melakukan permohonan pencatatan saham saat ini, bisa dilihat masih besarnya kepercayaan dan optimisme para pengusaha di Indonesia akan cepatnya pemulihan perekomian dan juga terhadap Pasar Modal Indonesia," tutur dia.

Selain itu, dia menambahkan, kepercayaan dan optimisme juga muncul dari para investor yang ditunjukkan lewat pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

"BEI sangat mengapresiasi para calon perusahaan tercatat, perusahaan tercatat dan juga investor serta stakeholder lainnya yang turut serta membangun dan memberikan kepercayaan kepada Pasar Modal Indonesia, terutama di era pandemi Covid ini," tukas dia.

2 dari 2 halaman

20 Perusahaan Akan Melantai di Bursa Tahun Ini

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut sebanyak 20 perusahaan akan melantai alias mencatatkan saham perdana di bursa pada tahun ini.

"Sampai dengan tanggal 15 Juni 2020, terdapat 20 perusahaan yang berencana akan melakukan pencatatan saham di BEI dan bergerak pada beberapa sektor," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna dikutip dari Antara, Selasa (16/6/2020).

Rinciannya, sebanyak tujuh perusahaan berasal dari sektor perdagangan, jasa, dan investasi; lima perusahaan dari sektor properti, real estate dan konstruksi bangunan; dan delapan perusahaan lainnya merupakan perusahaan yang bergerak pada sektor pertanian, industri dasar dan kimia, keuangan, serta industri barang-barang konsumsi.

Selain itu, terdapat 27 issuer yang akan menerbitkan 31 emisi obligasi atau sukuk yang berada dalam pipeline di BEI.

Menurut Nyoman, kondisi pandemi COVID-19 saat ini memiliki tantangan tersendiri dan berdampak pada semua aspek tidak terkecuali pasar modal dan perusahaan yang mencari pendanaan melalui IPO.

"OJK bersama BEI senantiasa akan membuat kebijakan yang memberikan kemudahan bagi perusahaan dalam rangka mendapatkan pendanaan dan membuat kondisi pasar yang kondusif di tengah masa pandemi ini," ujarnya.

Nyoman juga mengonfirmasi terkait kabar PT Widodo Makmur Unggas yang disebut akan melakukan penawaran umum perdana (IPO) dengan nilai emisi sekitar Rp2 triliun.

"Adapun untuk PT Widodo Makmur Unggas sampai dengan saat ini kami belum menerima dokumen permohonan pencatatan dan kami menanti dan menyambut baik rencana IPO perusahaan," ujar Nyoman.

Apabila diperlukan sesi diskusi persiapan IPO, lanjut Nyoman, BEI juga memiliki tim khusus yang dapat hadir untuk berdiskusi serta memberikan pemaparan mengenai IPO perusahaan.