Sukses

Sri Mulyani Harap Penurunan Ekspor Tak Terlalu Dalam

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan kondisi neraca perdagangan Indonesia pada September 2019. Neraca perdagangan tersebut juga akan menggambarkan bagaimana kondisi ekspor dan impor Indonesia pada bulan lalu.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap, penurunan ekspor di September tidak separah bulan-bulan sebelumnya. Meski demikian, dia mengakui, ekspor impor Indonesia masih menghadapi berbagai macam tantangan salah satunya perang dagang AS-China.

"Kita sendiri di dalam negeri, Kita lihat dari komponen yang terpengaruh oleh dinamika global itu ekspor impor kita. Saya berharap penurunan ekspor yang selama ini terjadi bisa lebih kecil, gitu. Sehingga harapan sekarang ini, semoga ada keputusan interim antara Trump dan RRT mungkin ini juga akan memberikan dampak positif," ujarnya di Kantor DJP, Jakarta, Senin (14/10/2019).

Sri Mulyani melanjutkan, selain ekspor pemerintah juga akan terus mengamati perkembangan impor. Di mana impor, merupakan salah satu indikator yang menunjukkan pergerakan perekonomian dalam negeri.

"Untuk impor, kalau kondisi kegiatan di dalam negeri menunjukkan adanya pelemahan tentu impornya juga menunjukkan hal itu. Impor ini juga menunjukkan leading indikator, jadi yang selama ini sudah negatif itu menggambarkan mereka juga akan mengurangi stok," jelasnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut enggan memprediksi angka neraca perdagangan pada September 2019. "Aku tidak melakukan proyeksi. Pokoknya kita melihat dari sisi perkembangan perekonomian secara global kan masih diliputi ketidakpastian," tandasnya.

 

2 dari 2 halaman

Mendag Ingatkan Ekspor Tak Boleh Anjlok Agar RI Tak Krisis

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyetujui langkah-langkah pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk mengenakan tarif impor terhadap barang-barang impor asal Eropa senilai USD 7,5 miliar.

Seketika, kekhawatiran tentang goyahnya ekonomi global pun kian semakin nyata. Dipastikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terganggu imbas menangnya Amerika Serikat di WTO tersebut.

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengaku risau atas perluasan tarif AS ke Eropa itu. Angka purchasing manager index (PMI) AS ikut merosot yang mengindikasikan ekonomi Amerika juga tengah mengalami kemunduran. 

"Itu yang tadi saya galau betul karena begitu meluas dan tadi saya coba teliti purchasing manager index (AS) itu terendah sejak krisis, artinya baik inventori pembelian maupun segala macam, saya nggak mau masuk policy-nya Amerika karena saya tak bisa ikut campur. Tetapi, dengan dikenakannya tarif semua itu, harga akan naik mereka di dalam negeri sendiri," jelas dia di Batu, Jawa Timur, Kamis Malam (3/10/2019).

Kata Enggar, dengan persoalan yang saat ini dihadapi, maka akan ada koreksi lagi terhadap pertumbuhan ekonomi global. Eropa pun akan ikut tertekan pertumbuhannya.

Sedangkan untuk Indonesia, kinerja ekspor dipastikan akan ikut terpengaruh dari aksi perluasan tarif ini. Pemerintah dinilai sudah cukup bagus jika berhasil menjaga ekspor di tingkat yang terbilang ideal.

"Memang idealnya ekspor kita harus naik, tapi yang penting kita nggak boleh terjun. Kalau kita terjun maka itu akan menjadi financial crisis (resesi) yang disebutkan itu akan terkena ke kita," tegas dia.

Loading
Artikel Selanjutnya
Penyebab APBD DKI 2020 Defisit Rp 10 Triliun
Artikel Selanjutnya
Waduh, Mobil Damkar Menunggak Pajak Selama 5 Tahun