Sukses

Kemampuan Manusia yang Tak Bisa Digantikan Robot, Apa Itu?

Liputan6.com, Jakarta - Pernah membayangkan dunia bakal diinvasi robot? Robot yang awalnya diciptakan untuk membantu manusia justru malah bikin manusia mendadak tidak merasa berguna.

Bagaimana tidak, seluruh lini pekerjaan dan kemampuan bisa dikuasai robot dengan mudah. Mereka hanya perlu dibenamkan chip tertentu dan bisa melakukan pekerjaan sulit, lain dengan manusia yang harus belajar lama agar terbiasa mengerjakan sesuatu.

Namun, mengutip dari CNBC, Jumat (23/08/2019), ada satu skill alias kemampuan kognitif yang bisa 'menyelamatkan' manusia dari kuasa robot. John Abel, wakil presiden cloud and innovation division di Oracle menyatakan pada CNBC Squawk Box Europe kemampuan itu.

"Modernisasi membuat mesin AI belajar segala hal yang ada kaitannya dengan proses logis sehingga beberapa pekerjaan mungkin akan terganti, namun kami menyuruh pegawai kami untuk menajamkan kreativitas mereka, karena kreativitas adalah kemampuan yang unik," ungkapnya.

Tahun kemarin, World Economic Forum (WEF) menyebutkan bahwa kreativitas adalah kemampuan paling penting nomor 3 yang perlu dikembangkan sebagai dampak dari modernisasi yang masuk ke dunia kerja. Peringkat atasnya adalah skill problem solving dan critical thinking.

Orang dengan kreativitas mampu mengambil pekerjaan di bidang publikasi, pengembangan video game, periklanan atau desain grafis. Tiap orang punya kreativitas yang terbesit di benak masing-masing dan robot tidak akan bisa menggeneralisir keunikan tersebut karena mereka dibuat dari mesin dan formula yang sama.

2 dari 2 halaman

Negara Ini Punya Pegawai Robot Terbanyak di Dunia

Korea Selatan tercatat sebagai negara nomor satu yang paling banyak memakai robot pekerja. Jumlah robot pekerja di Korsel pun mengalahkan Jerman, Amerika Serikat (AS), dan China.

Dilaporkan World Economic Forum (WEF), sampai tahun 2017 terdapat rata-rata 85 robot di tiap 10.000 pegawai. China merupakan salah sat negara dengan level pertumbuhan tertinggi dalam penggunaan robot industri, tetapi Korsel masih tetap memimpin.

Akan tetapi, jumlah robot pekerja di Negeri K-Pop masih jauh lebih banyak di China dengan hitungan 710 robot pada tiap 10.000 pegawai per tahun 2017. China hanya memiliki 97 pegawai dalam 10,000 pegawai.

Singapura berada di nomor dua setelah Korsel dengan 658 robot per 10.000 pegawai. Jepang yang merupakan pemain utama di industri robot memiliki 308 robot dalam 10.000 pegawai.

Tingkat pertumbuhan robot di AS tercatat lebih lambat dengan satu robot di tiap 200 pegawai. CEO Amazon Jeff Bezos juga menegaskan robot tidak akan menghilangkan pekerjaan manusia di gudang, setidaknya dalam jangka waktu dekat.

"Pasa saat ini, teknologi masih sangat terbatas. Teknologi masih sangat jauh dari stasiun kerja yang sepenuhnya terotomatisasi seperti yang kita butuhkan," ujar Scott Anderson direktur Amazon Robotics Fulfullment, seperti dilansir Reuters.

Ia menyebut butuh paling tidak 10 tahun untuk sepenuhnya memakai robot dalam memenuhi sebuah pesanan konsumen. Amazon pun percaya memakai robot untuk mengurus pesanan bisa mengurangi rusaknya produk dan membuat tugas lebih efisien.