Sukses

Holding BUMN Tambang Ganti Nama Jadi Mind Id

Liputan6.com, Jakarta - Holding Industri Pertambangan (HIP), BUMN yang menaungi lima perusahaan industri tambang di Indonesia resmi meluncurkan identitas baru. Kelima perusahaan tersebut adalah PT Antam Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Freeport Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), dan PT Timah Tbk.

Identitas baru ini merupakan hadiah persembahan untuk Indonesia yang sedang merayakan Hari Kemerdekaan ke-74. HIP kini bertransformasi menjadi MIND ID yang merupakan akronim dari Mining Industry Indonesia.

"Ini bukan hanya sekedar simbol baru, tapi ini merupakan semangat dan sinergi baru dari lima perusahaan tambang terbesar di Indonesia milik negara, yang Insya Allah bisa memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi bangsa dan negara," kata Direktur Utama MIND ID, Budi Gunadi Sadikin dalam siaran pers, Sabtu (17/8/2019).

Dilandasi semangat baru, MIND ID merupakan bentuk sinergi lima perusahaan tambang terbesar Indonesia yang akan mengeksplorasi dan mengelola potensi sumber daya mineral yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, untuk membangun peradaban, menyejahterakan bangsa dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi Indonesia.

Identitas dan logo MIND ID memiliki filosofi arti kekayaan mineral Indonesia yang diwakili oleh bentuk lingkaran solid pada sisi kiri, dan pada sisi kanan adalah sinergi dari semua anggota holding pertambangan untuk membangun peradaban, menyejahterakan bangsa, dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi Indonesia.

Identitas baru MIND ID sekaligus memperjelas fungsi Inalum sebagai Holding Industri Pertambangan dan INALUM sebagai pelaksana operasional peleburan aluminium. Tidak ada perubahan terhadap struktur badan hukum dan operasional dari INALUM terkait dengan logo dan nama baru ini.

Reporter : Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

2 dari 3 halaman

Inalum Lirik China jadi Mitra Pengolahan Logam Tanah Jarang

Sebelumnya, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) akan menggalakan pengelolaan mineral logam tanah jarang, dengan menggandeng China sebagai pihak yang telah berpengalaman melakukannya.

Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin mengatakan, saat ini Inalum sedang melakukan penelitian mengenai pengembangan pengelolaan logam tanah jarang di Indonesia, termasuk mencari mitra untuk membangun pabrik dan mitranya.

"Itu kan arahan pak presiden. Sekarang lagi riset-riset. 18 bulan itu kita udah mutusin pabriknya, kerja sama dengan siapa," kata Budi, di Jakarta, pada Rabu 10 Juli 2019. 

Budi mengaku, sedang melirik China untuk dijadikan acuan dan mitra dalam mengelola logam tanah jarang. Sebab negara Tirai Bambu tersebut telah berpengalaman dan mudah diajak bekerjasama melakukan pengolahan logam tanah jarang.

"Yang maju itu Cina sama Jepang, hanya kalau Jepang agak susah sharing," tuturnya.

Budi melanjutkan, China juga sebagai penghasil terbesar produk olahan logam tanah jarang di dunia, menjadikan pasokan produk olahan logam tanah jarang sebagai senjata perang dagan dengan Amerika Serikat (AS).

Untuk diketahui, produk hasil pengolahan logam tanah jarang dimanfaatkan sebagai bahan baku perangkat elektronik seperti komponen komputer dan alat telekomunikasi, komponen instalasi nuklir dan perangkat ruang angkasa.

"Kayak Amerika sama Jepang sekaran tersandera kalau mereka (Cina) berhenti berproduksi," tandasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Holding BUMN Infrastruktur Segera Terwujud?
Artikel Selanjutnya
Holding BUMN Mampu Wujudkan Kedaulatan Pangan