Sukses

Kota Kecil Hahndorf, Australia Rasa Jerman

Liputan6.com, Adelaide - Berwisata ke Adelaide, Australia, tak lengkap rasanya bila belum berkunjung ke Hahndorf, sebuah perkampungan imigran Jerman di tenggara ibu kota negara bagian Australia Selatan tersebut.

Kota kecil Hahndorf pertama kali didirikan pada 1839 oleh kaum Lutheran yang melarikan diri dari penindasan agama di tanah Prusia. Hahndorf sendiri diambil dari nama kapten kapal Hahn, yang secara lengkap memiliki arti 'Desa Milik Hahn'.

Sepanjang perjalanan menuju lokasi itu, wisatawan bakal disajikan oleh hamparan bukit hijau yang ditanami sayur dan buah-buahan khas setempat, serta peternakan kuda dan domba.

Setibanya di sana, pengunjung disambut oleh jejeran bangunan tua berhiaskan bendera Jerman dan Australia yang dikibarkan berdampingan di halaman depan.

Deretan bangunan tua itu disulap menjadi sebuah kios yang menawarkan bermacam barang jualan, mulai dari makanan, minuman, pakaian, hingga cindera mata khas setempat.

Rentang harganya pun bervariasi. Wisatawan bisa memesan selai strawberi produksi lokal seharga 4 dolar Australia atau Rp 39.481 sampai tas kulit senilai 60 dolar Australia atau Rp 592.244 (1 dolar Australia = Rp 9.870).

Berjalan-jalan di kota Hahndorf di Adelaide, Australia. Dok: Maulandy Rizky Bayu Kencana/Liputan6.com

Tak jauh dari Hahndorf, wisatawan bisa melipir menuju perkebunan anggur dan strawberi yang terkenal dengan produksi selai serta saus. Salah satu yang paling banyak dikunjungi yakni Beerenberg Farm.

Di Beerenberg Farm, pengunjung bisa mencicipi minuman seperti wiski hingga wine yang diproduksi dari buah hasil perkebunan. Secara harga, pendatang bisa merogoh kocek belasan dolar Australia untuk satu gelas sampai ratusan dolar Australia untuk satu botol minuman tersebut.

Berkunjung ke Hahndorf, wisatawan akan menikmati Australia rasa Jerman.

2 dari 4 halaman

Kota Kecil Australia Ini Punya Sekolah Bilingual Inggris-Indonesia

Sebuah sekolah dasar di Scotts Head kini menjadi satu-satunya sekolah bilingual Bahasa Inggris-Indonesia di negara bagian New South Wales (NSW) Australia. Pihak sekolah menyadari perlunya mempersiapkan murid mereka menghadapi kemajuan Indonesia tiga dekade mendatang.

Koordinator program bilingual di Scotts Head Public School, Karl Krause, menjelaskan murid-murid sekolah di Australia perlu dipersiapkan untuk mengantisipasi perkembangan tetangga terdekat mereka. 

"Dengan populasi terbesar keempat di dunia dan pertumbuhan ekonomi 6 persen per tahun, kelas menengah Indonesia dalam 30 tahun akan sangat masif. Kita harus mengantisipasi hal itu," katanya kepada ABC, seperti dikutip Senin (10/6/2019). 

Scott Head terletak sekitar 480 kilometer dari ibu kota NSW Sydney dan di kawasan pemukiman di tepi Pantai Lautan Pasifik tersebut memiliki warga sekitar 900 orang.

Scott Head Public School memiliki murid sekitar 110 anak.

Sekolah itu belum lama ini dikunjungi Konsul Jenderal Indonesia untuk NSW, Queensland, dan Australia Selatan Heru Hartanto Subolo.

"Pihak Indonesia tertarik dengan apa yang kami kerjakan di sini karena kita semua menyadari hal ini akan bermanfaat bagi masa depan bersama. Terus-terang saja hal ini sekarang kurang mendapat perhatian dalam pendidikan Australia," ujar Krause.

"Kami bangga karena telah berupaya keras dan cerdas dalam memberi kesempatan bagi generasi masa depan kita untuk dapat bersaing kelak ketika mereka dewasa," jelasnya.

Di negara bagian Queensland, jumlah pelajar sekolah negeri dari tingkat TK hingga SMA yang belajar Bahasa Indonesia pada tahun 2018 meningkat menjadi 40.000 orang pada sekitar 50 sekolah.

 

3 dari 4 halaman

Australia Mendukung Pelajaran Bahasa di Sekolah

Mulai tahun ini juga, sekolah-sekolah di Australia Barat diwajibkan mengimplementasikan minimal satu program bahasa di Kelas 3 dan 4 dengan tambahan pelajaran bahasa di setiap tingkat kelas berikutnya.

"Pada tahun 2023, semua murid dari Kelas 3 hingga Kelas 8 akan belajar bahasa," kata juru bicara Departemen Pendidikan Australia Barat.

Instansi tersebut kini mencari asisten pengajar bahasa yang tepat untuk mendukung program bahasa di sekolah-sekolah.

Program ini mencari asisten bahasa dari Perancis, Jerman, Indonesia, Italia dan Jepang, begitu pula penutur bahasa Aborigin dan Mandarin yang tinggal di Australia.

Asisten bahasa ini akan menghabiskan satu tahun bersama guru terkait, berbagi pengetahuan tentang bahasa dan budaya mereka.

Kepala Sekolah Scotts Head Public School, Gillian Stuart, mengatakan kemampuan berbahasa kedua sangat penting di dunia global saat ini.

"Pada tahun 2040, anak-anak Kelas 1 kita yang saat ini berusia tujuh tahun, akan bersaing mendapatkan posisi eksekutif. Tanpa kemampuan berbicara bahasa kedua, mereka tidak akan mendapatkan peluang," kata Stuart.

"Kami berharap dukungan pemerintah agar para pelajar dari tingkat TK hingga SMA mendapatkan pendanaan untuk program ini. Karena saat ini hanya dari TK hingga Kelas 6 yang didanai," katanya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Berkunjung ke Pasar Berusia Satu Abad di Adelaide
Artikel Selanjutnya
Kementerian Kelautan Gandeng Kemenlu Pulangkan Empat Nelayan dari Australia