Sukses

AS Tak Bakal Rugi Akibat Perang Dagang, Kenapa?

Liputan6.com, New York - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang kembali berlanjut disebut tidak akan merugikan AS. Dampak ke Negeri Paman Sam dinilai akan kecil meski ada adu tarif besar-besaran.

Alasan kuatnya ekonomi AS adalah diversifikasi. Artinya, AS mengandalkan beragam sektor sebagai penghasilan ekonomi mereka dan tidak bergantung ke satu saja.

"Saya pikir AS adalah ekonomi yang begitu besar dan terdiversifikasi sehingga dampak terhadap ekonomi keseluruhan akan relatif kecil," ujar Presiden Federal Reserve dari St. Louis, James Bullard, seperti dikutip Reuters.

Menurut Bullard, perang dagang baru akan merugikan AS jika terjadi dalam jangka panjang. Selain itu, negara-negara luar AS yang tergantung pada dagang juga lebih merasakan dampak perang dagang.

Umumnya, negara-negara itu hanya terseret oleh perang dagang yang terjadi. Pakar dari Morgan Stanley pun mengatakan buntunya negosiasi perang dagang bisa membawa resesi ke ekonomi seluruh dunia. 

"Jika pembicaraan ini terhambat, tak ada kesepakatan yang disetujui, dan AS menerapkan 25 persen tarif kepada sekitar USD 300 miliar barang impor China, kami melihat ekonomi global menuju resesi," jelas Morgan Stanley.

Resesi ekonomi dunia ditandai pertumbuhan di bawah 2,5 persen. Tahun ini, IMF memperkirakan pertumbuhan dunia adalah 3,3 persen tahun ini, turun dari perkiraan tahun 2018 yakni 3,7 persen.

Perang dagang AS-China kembali berlanjut ketika Presiden Donald Trump menerapkan tarif baru pada Jumat, 10 Mei 2019. Kedua negara sempat mengambil gencatan senjata pada Desember lalu. Negosiasi dagang pun masih terus berlanjut.

2 dari 4 halaman

Perang Dagang Memanas, Dana Asing Banyak Keluar RI?

Memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS)-China berdampak pada iklim investasi di bursa saham Indonesia. Salah satunya, keluarnya dana asing (capital outflow) dari pasar modal.

"Masih banyakan yang outflow. Tetapi normal, maksudnya masih bisa kita mentolerir outflow itu. Tapi memang masih banyak outflow, lebih banyak yang jual daripada yang beli," tutur Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI Laksono Widodo di Jakarta, Senin, 20 Mei 2019.

Kendati begitu, dia menambahkan, otoritas bursa tetap akan mengamati berbagai sentimen yang akan mempengaruhi kinerja indeks kedepannya.

"Oh, kita tetap mewaspadai, tapi apakah ini menjadi kejadian luar biasa yang membuat kami melakukan tindakan luar biasa, saya rasa belum," jelas dia.

Dia pun menjelaskan, panasnya tensi perang dagang AS-China merupakan sentimen global yang tak dapat dihindari sehingga cukup menimbulkan kecemasan bagi investor.

"Tetap menimbulkan semacam kekhawatiran dan juga enggak bisa dihindari bahwa kenyatannya perang dagang masih menjadi headline dimana-mana. Kalau Amerika masih batuk-batuk, maka seluruh dunia kena, termasuk Indonesia. Jadi penyebabnya itu," kata dia.

3 dari 4 halaman

Ada Perang Dagang, Ekspor Indonesia Makin Sulit

Pemerintah Jokowi-JK mengaku kesulitan untuk menggenjot ekspor di tengah situasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Apalagi perang dagang antar kedua negara tersebut diprediksi bakal berlangsung lama.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengaku saat ini dirinya akan merapatkan barisan untuk mengantisipasi gejolak yang timbul dari luar negeri tersebut.

"Mendorong ekspor, mungkin tidak mudah sekarang ini setelah perang dagang makin meningkat. Tentu ini bukan jangka pendek kelihatannya," kata Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, di Kantornya, Jakarta, Jumat, 17 Mei 2019. 

Darmin pun menilai perang dagang belum terlihat titik temunya. 

"Kita tidak yakin bahwa itu akan jangka pendek, kalau mereka sudah kapok tentunya mereka pasti berdamai cepat-cepat. Berarti itu mereka tidak kapok dengan perang dagang," katanya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Google Putuskan Kerjasama dengan Huawei
Artikel Selanjutnya
Warren Buffett Kaget Perang Dagang Sungguh Terjadi