Sukses

Ditjen PSP Buat Program Serasi Guna Menjadikan Indonesia Lumbung Pangan Dunia

Liputan6.com, Jakarta Kementeriam Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP) Kementerian Pertanian, mengadakan program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi). Program ini bertujuan menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

Direktur PSP Kementan, Sarwo Edhy, meminta semua pihak turut mendukung Indonesia menjadi lumbung pangan dunia melalui program unggulan Serasi.

"Pengembangan rawa melalui program Serasi ini memerlukan sinergi yang serius dari pemerintah daerah dan pusat," ujarnya, dalam diskusi pertanian di Gedung PIA Kementan, Rabu (24/4/2019).

Menurut Sarwo, sinergi tersebut memiliki motivasi dan basis tujuan yang kuat, yaitu untuk meningkatkan index dan produksi pertanian. Lebih dari itu, program ini mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga bermuara pada kesejahteraan.

"Tentu tujuan program ini untuk meningkatkan index kesejahteraan petani. Maka itu, kami juga sudah memberikan bantuan berupa benih unggul dan bermutu," ucapnya.

Sarwo berharap, program tersebut mampu mendorong petani milenial turun secara langsung ke sawah dan perkebunan Serasi. Langkah ini perlu dilakukan untuk memudahkan penggunaan teknologi yang diterapkan.

"Program ini mau tidak mau harus melibatkan petani milenial, baik saat tanam maupun panen. Langkah ini untuk menggedor produksi dan bisa menstabilkan harga," kata dia.

Sebagai informasi,, program yang digagas Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman tersebut fokus di tiga wilayah, yaitu Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan.

"Tapi ada juga permintaan dari Lampung dan Riau yang mengajukan. Sebab, catatan yang ada, program ini berhasil menanam padi sebanyak 10 ribu hektare," ujar Sarwo.

Memberikan hasil

Sekretaris Direktorat Jenderal (Sekdijen) Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Bambang Pamuji, mengatakan bahwa Program Serasi sudah menyentuh tahap panen dengan hasil memuaskan atau berkualitas baik. Menurutnya, keberhasilan ini tak terlepas dari perhatian pemerintah dalam menyediakan berbagai bantuan, seperti benih bersertifikat, benih unggulan, pupuk dolamit, dan herbisida.

"Kemudian kami juga melakukan integrasi budidaya hortikultura yang selama ini sudah berjalan cukup baik," ucap Bambang.

Upaya kuat menjadi lumbung pangan dunia

Staf Ahli Kementan untuk Bidang Infrastruktur, Dedi Nursyamsi, menjelaskan bahwa selama ini pemerintah sudah memasang target kuat, yakni menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045.

"Nah, menurut kami ada tiga hal yang perlu ditekankan pada pengelolaan rawa. Pertama infrastruktur, teknologi inovasi, dan human resources. Kalau ini bisa dikelola, kami yakin tujuan lumbung pangan dunia akan tercapai," kata dia.

Menurut Dedi, program ini tak lepas dari upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pertumbuhan kelahiran penduduk hingga 1,34 persen. Atau dengan kata lain ada sekitar 3,5 juta yang membutuhkan makan.

"Disaat bersamaan banyak alih fungsi lahan. Maka itu peluang lahan rawa, baik yang pasang surut maupun tadah hujan, sangat baik sekali. Kalau dikelola dengan benar, maka produksi padi di lahan rawa bisa mencapai sembilan kali lipat," ujarnya.

Memanfaatkan lahan rapuh

Di tempat yang sama, Peneliti Balai Penelitian Tanah Kementerian Pertanian, I GM Subiksa, mengatakan bahwa keberadaan lahan rawa selama ini sangat termarjinal dan rapuh. Dengan kata lain, tumbuhan apapun tidak bisa tumbuh secara baik.

"Karena itu kita harus serius memanfaatkan lahan rawa karena selama ini yang jadi problem kita," kata Subiksa.

Secara karekteristik, imbuhnya, lahan rawa memiliki sedimen marin lapisan tanah pirit (FeS2). Posisi dan konsentrasi pirit bervariasi dan menentukan tipologi lahan.

"Lalu pirit mudah teroksidasi menghasilkan lahan dengan reaksi sangat masif," ujar Subiksa.

Adapun secara genetis lahan pasang surut merupakan tanah endese dengan tingkat kesuburan yang relatif baik.

"Tapi kalau tidak dikelola dengan baik maka akan terjadi degradasi lahan rawa seperti tanah masam yang menyebabkan basah-basah casium, magsium, dan kasium tercuci," ucap Subiksa.

 

 

(*)

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Upaya Memajukan Produksi Petani Komisi IV DPR Mendukung RUU Sistem Budidaya
Artikel Selanjutnya
Enam Strategi Kementan Hadapi Kemarau Panjang