Sukses

Investor Optimistis Negosiasi Perdagangan AS-China, Wall Street Menguat

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street mampu menguat dengan indeks saham S&P 500 cetak kenaikan tertinggi sejak 8 November.

Penguatan wall street didorong sentimen investor melihat tanda-tanda kemajuan dalam pembicaraan yang sedang berlangsung antara AS dan China.

Indeks saham Dow Jones naik 181,18 poin atau 0,7 persen ke posisi 26.031,81. Indeks saham S&P 500 bertambah 17,79 poin atau 0,64 persen ke posisi 2.792,67. Indeks saham Nasdaq menguat 67,84 poin atau 0,91 persen ke posisi 7.527,55.

Sepekan ini, tiga indeks saham acuan cetak penguatan dengan indeks saham Dow Jones dan Nasdaq menguat dalam sembilan minggu.

Investor menilai tajuk utama perundingan dengan para negosiator perdagangan utama dari kedua negara bertemu untuk selesaikan dalam satu minggu ini. Negosiator berdiskusi tentang beberapa masalah paling sulit dalam perang dagang.

Jika kedua pihak gagal mencapai kesepakatan pada 1 Maret, perang dagang yang sudah berjalan tujuh bulan dapat meningkat ketegangannya,

"Orang-orang mengharapkan semacam berita positif tentang perdagangan dan tarif dengan China dalam waktu dekat," ujar President Chase Investment Counsel, Peter Tuz, seperti dikutip dari laman Reuters, Sabtu (23/2/2019).

"Kita tidak akan tahu sampai akhir minggu depan, dan ada kekurangan spesifik," ia menambahkan.

Optimisme di bidang perdagangan dan sinyal dovish dari the Federal Reserve atau bank sentral AS telah mendorong kenaikan baru-baru ini dan meninggalkan indeks jauh di atas posisi terendah pada Desember.

Indeks saham S&P 500 pun naik sekitar 19 persen sejak level terendah pada akhir Desember. Indeks saham teknologi S&P 500 naik 1,3 persen, dan memimpin kenaikan dari antara 11 sektor saham di indeks S&P 500. Sementara itu, indeks saham industri perdagangan menguat 0,6 persen di wall street.

 

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

Bursa saham AS secara singkat memangkas kenaikan usai para pejabat AS menjelaskan tentang negosiasi mengatakan lebih banyak waktu diperlukan untuk memberikan perlawanan terhadap China. Hal ini mengingat tuntutan AS untuk langkah-langkah spesifik oleh Beijing untuk akhiri transfer teknologi.

Setelah itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan ada peluang sangat bagus bagi AS untuk capai kesepakatan dengan China mengakhiri perang dagang. Ia cenderung memperpanjang batas waktu 1 Maret untuk mencapai kesepakatan.

“Saat ini risiko penurunannya tidak setinggi itu, tetapi selalu ada kekhawatiran sesuatu terjadi pada menit-menit terakhir. Ekonomi China stabil adalah konstruktif untuk pasar global. Itulah yang menjadi kunci dalam hal pasar melihat hasilnya,” ujar Quincy Krosby, Chiet Market Strategist Prudential Financial.

Saham Kraft Heinz pun turun 27,5 persen, dan merupakan penghambat terbesar dalam S&P 500. Hal ini lantaran penurunan 1,7 persen saham kelas B dari pemegang saham pengendali perusahaan Berkshire Hathaway.

Volume perdagangan saham tercatat 6,9 miliar saham. Angka ini lebih rendah dari rata-rata harian 7,3 miliar saham selama 20 hari perdagangan.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Buka Coffee Shop, MD Corp Gandeng Perusahaan Korea dan China
Artikel Selanjutnya
Hadapi Invasi Dagang China, RI Harus Pasang Perisai