Sukses

Empat Hal Ini Bikin Rupiah Perkasa Terhadap Dolar AS

Liputan6.com, Jakarta Nilai tukar Rupiah terhadap USD terus menguat dalam beberapa waktu terakhir. Hari ini Rupiah dibuka pada level Rp 14.035, menguat jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp 14.092 per USD.

Gubernur Bank Indonesia Perry Wajiyo mengatakan ada empat faktor yang membuat Rupiah mengalami perbaikan positif. Pertama, kepercayaan investor asing menanam dananya di Indonesia terus menguat dilihat dari aliran dana masuk.

"Satu bahwa confident investor asing terus kuat dan itu terbukti dari terus masuknya aliran modal asing tidak hanya PMA tapi juga investasi portofolio baik di obligasi saham maupun jenis-jenis aset lain," ujar Perry di Kantor ISEI, Jakarta, Senin (28/1/2019).

Kedua, penguatan sinergi kebijakan antara pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Beberapa di antaranya adalah menghilangkan prosedur yang tidak penting dalam rangka mendorong ekspor dan melakukan penataan logistik.

"Selanjutnya kita akan kontribusi dan kerja sama dengan pemerintah untuk dorong ekspor baik otomotif, elektronik, garmen maupun mamin. Di samping mempersiapkan kebijakan lanjutan untuk substitusi impor baik di baja maupun farmasi," jelasnya.

Ketiga adalah mekanisme pasar yang semakin berkembang bahwa pasar tidak hanya bergantung pada spot, swap tapi juga Domestic Non Delivery Forward (DNDF). "Dari waktu ke waktu volume DNDF terus berlangsung. Kami pastikan bahwa likuiditas valas ada. Baik di spot, swap dan DNDF," jelasnya.

Faktor keempat, kata Perry adalah ketahanan eksternal Indonesia yang semakin membaik termasuk sisi transksi berjalan lebih rendah dan aliran modal asing.

"Surplus neraca modal yang semakin meningkat, jadi secara keseluruhan sisi fundamental neraca pembayaran lebih baik dengan CAD yang menurun dan siklus neraca modal semakin meningkat," tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Rupiah Sentuh 14.025 per Dolar AS, IHSG Menguat Terbatas

Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona hijau pada awal perdagangan saham, Senin (28/1/2019).

Pada pra pembukaan perdagangan saham, Senin pekan ini, IHSG naik tipis 6,05 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.488,90. Kemudian IHSG masih naik terbatas 8,09 poin atau 0,12 persen ke 6.496. Indeks saham LQ45 tergelincir 0,11 persen ke posisi 1.024,69. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.

Sebanyak 174 saham menguat sehingga mengangkat IHSG. 80 saham melemah dan 155 saham diam di tempat. Pada awal sesi perdagangan, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.501 dan terendah 6.483.

Total frekuensi perdagangan saham 51.584 kali dengan volume perdagangan 1,5 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 847 miliar. Investor asing lepas saham Rp 28,69 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.025.

Sebagian besar sektor saham menghijau. Sektor saham tambang naik 0,74 persen. Sektor saham industri dasar menguat 0,59 persen dan sektor saham perdagangan mendaki 0,50 persen.

Sektor saham aneka industri turun 0,68 persen. Sektor saham infrastruktur terpangkas 0,17 persen dan sektor saham keuangan turun 0,05 persen.

Saham-saham yang menguat antara lain saham YPAS naik 18,94 persen ke posisi Rp 785 per saham, saham ETWA melonjak 17,07 persen ke posisi Rp 87 per saham, dan saham NATA mendaki 7,98 persen ke posisi Rp 460 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham IPCM merosot 8,89 persen ke posisi Rp 410 per saham, saham KLBV turun 7,69 persen ke posisi Rp 480 per saham, dan saham TINS merosot 6,39 persen ke posisi Rp 1.240 per saham.

Bursa saham Asia pun sebagian besar menguat. Indeks saham Hong Kong Hang Seng naik 0,48 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi mendaki 0,10 persen, indeks saham Shanghai menanjak 0,89 persen.

Selain itu, indeks saham Singapura menguat 0,41 persen dan indeks saham Taiwan mendaki 0,42 persen.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Cara BI Edukasi Soal Rupiah ke Masyarakat di NTT
Artikel Selanjutnya
Begini Kondisi Utang Luar Negeri Indonesia hingga Kuartal III